ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > SAHABAT NABI > Sahabat dari Kalangan Anshar > Zaid bin Tsabit

 
 
 
 
 
 
 
 

Zaid bin Tsabit

 

ZAID BIN TSABIT (w. 45 H)
 
      Sahabat Nabi asal kaum anshar suku khadraz, termasuk tokoh sahabat dan pakar ilmu faraid. Ia juga menjadi sekretaris dan penulis wahyu dari Nabi Muhammad. Ia adalah orang pertama penghimpun Al Qur’an di era Khalifah Abu Bakar, dan diangkat menjadi ketua panitia penulisan Al Qur’an dalam satu mushaf di era khalifah Utsman bin Affan.
     Lahir di Madinah. Ketika rasulullah hijrah ke Madinah ia baru berusia 11 tahun. Dalam usia yang remaja ini ia dibawa menghadap nabi oleh orang tuanya dan menyatakan keislamannya. Remaja yang sebaya dengannya yang masuk Islam, adalah: Rafi’ bin Hudaij, Samurah bin Jundab, Abdullah bin Umar dan lain-lain.
     Ia ditugasi oleh Rasulullah SAW untuk belajar bahasa Suryani dan Ibrani agar dapat mengetahui isi surat-surat yang diterma Rasulullah SAW dari kedua suku ini.
     Menjelang perang badar, ia berusia 13 tahun dan iut mendaptarkan diri untuk berperang. Tetapi Nabi menolaknya, dengan alasan belum cukup umur, dan masih kecil. Menjelang perang Uhud, ia juga ditolak ikut oleh nabi karena masih dianggap masih kecil (14 tahun). Kawan sebayanya yang dijinkan ikut perang adalah Rafi’ ibn Hudaij, seorang penombak yang sangat mengagumkan, dan Samurah bin Jundab yang kekar, dan kedua orang tuanya meminta mereka dikutkan. Ia diperbolehkan ikut perang dalam perang khandaq (perang parit).
      Ketika tawanan badar yang mempunyai kemampuan ilmiyah (menulis) dikenakan tebusan untuk memberi pelajaran ilmu putra-putri islam, maka iapun disuruh mengikuti pelajaran tersebut.
 
Pribadi dan Peran
     Zaid adalah orang yang memiliki kedalaman ilmu, seorang jenaka dirumahnya tetapi di segani di majelisnya. Ia seorang remaja yang cermat, teliti dan kuat ingatanya, disamping berkemauan keras, jujur dan pemberani. Ia selalu tekun dalam mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikanan Nabi Muhammad, dan rajin menghapal Al Qur’an. Karena itu ia diangkat menjadi sekretaris Nabi. Dan ketika Nabi mulai menda’wahkan ke luara bangsa Arab, Zaid dperintahkan untuk mempelajari bahasa asing, untuk mengirim surat kepada kepala negara luar (kaisar, atau rajaraja luar negeri). Dan era kekhalifaha, Zaid di Madinah mengepalai urusan fatwa, qira’at dan soal pembagian pusaka.
     Di era khalifah Abu Bakar, ketika terjadi perang Yamamah melawan kaum murtad (pimpinan Musailamah), banyak orang muslim yang hapal Al Qur’an berguguran. Hal ini sangat mencemaskan Umar bin Khathab, karena itu ia (Umar) mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar untuk menghimpun ayat-ayat Al Qur’an. Dan orang yag diberi kepercayaan oleh sang khalifah (Abu Bakar) adalah Zaid bin Tsabit. Kumpulan ayat-ayat Al Qur’an ini kemudian disimpan di rumah istri Nabi dan merupakan putri Umar bin Khathab, Hafsah binti Umar.
       Di era khalifah Utsman bin Affan, ketika wilayah Islam sudah meluas, dan berbondong-bondong orang yang memeluk Islam. Segolongan sahabat yang dipimpin oleh Hudzaifah Ibul Yaman menghadap khalifah Utsamn dan mendesak agar membuat mushaf Al Qur’an sandar, karena kala itu terjadi perbedaan pembacaan Al Qur’an menurut dialek kabilah masing-masing. Maka khalifah Utsman menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai ketua panitia penulisan Al Qur’an menjadi satu muishaf. Mushaf tersebut nantinya terkenal dengan nama Mushaf Utsmani, yang merupakan standar Al Qur’an hingga kini.

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda