ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > SAHABAT NABI > Sahabat dari Kalangan Anshar >  Sa;ad bin Muadz

 
 
 
 
 
 
 
 

 Sa;ad bin Muadz

 

 
SA’AD BIN MU’ADZ (w. 5 H)
 
     Sahabat Nabi dari kalangan Anshar, pemimpin kabilah bani Aus dan pembawa panji mereka dalam perang Badar.
     Nama Sa’ad bin Mu’adz bin Nu’man bin Imri’ul Qais Al Ausi al Anshari. Ia masuk Islam di Madinah  berkat  duta besar Islam, Mush’ab bi Umair.
      Ketika Nabi bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam perang Badar, Saad berbicara atas nama orang-orang anshar. Ia juga ikut dalam perang Uhud dengan gagah berani.
     Pada perang Al Ahzab, ia diutus nabi bersama Sa’ad bin Ubadah untuk menemui Ka’ab bin Asad, pemimpin Yahudi Bani Quraizhah, dalam rangka meminta keterangan terhadap sikap mereka terhadap perjanjian lama yang pernah ditandatangani bersama dengan nabi. Akan tetapi mereka ingkar.
    Dan masih dalam perang Ahzab, Nabi bermusayawarah dengan Sa’ad bi Mua’adz dan Ubadah bin Tsabit, tentang pemberian sepertiga hasil panen buah-buahan Madinah kepada bani Ghathafan agar mereka tidak bersekutu dengan orang-orang kafir Quraisy. Kepada Nabi mereka berdua mengatakan: “ Jika itu yang diperintahkan Alah kepada anda, maka jalankanlah perintah itu. Tapi jika itu bukan perintah-Nya, maka demi Allah, kami tidak akan memberikan kepada mereka kecuali perang (memerangi mereka).”
     Karena bukan perintah Allah, maka nabi sepakat dengan pendapat mereka berdua. Dan mereka berdua (sa’ad danUbadah) berkata:” Wahai Rasulullah, demi Allah, pada masa jahiliyah, mereka tidak memakan sedikitpun dari buah-buahan itu dari kami (tidak mendapat bagian). Lantas bagaimana dengan sekarang, dimana allah telah memberi kami petunjuk melelui anda, memuliakan dan mengokohkan kami. Demi Allah, kami tidaka akan memberikan kepada bani Ghatahafan keculai pedang.” Dengan pendapat Sa’aad dan Ubadah, akhirnya diputuskan Nabi untuk tidak berdamai dengan Bani Ghatafan dalam perang Ahzab.,
      Dalam perang Khandak (Parit) tahun 5 H, lehernya kena tembakan anak panah yang menyebabkan luka-luka. Tetapi ia berdo’a agar menunda kematiannya sebelum melihat keputusan terhadap bani Quraizha. Ia berkata:” Ya allah jangan engkau matikan aku sebelum mataku senang melihat keputusan terhadap bani Quraizhah.” Dan ketika Bani Quraizha menyerah, ia kemudian menjadi hakim ketika Bani Quraizhah menyerah dalam perang.
     Sa’ad kemudian meninggal, akibat parahnya luka-luka dalam perang khndaq (tahun 5 H) dalam usia 37 tahun.
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda