ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > SAHABAT NABI > Pemeluk Islam Awal > Ali bin Abi Thalib

 
 
 
 
 
 
 
 

Ali bin Abi Thalib

 

ALI BIN ABI THALIB (w. 40 H)
 
    Sahabat Nabi Muhammad SAW, dan merupakan sepupunya dan juga menantu. Ali bin Abi Thalib adalah orang yang tidak tercemari oleh noda jahiliyah, dan merupakan anak kecil yang pertama kali masuk Islam. Ia juga merupakan salah satu dari 10 orang yang diberitakan nabi akan masuk surga.
     Nama Ali bin Abi Thalib ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim Al Quraisyi, dan biasa dipanggil Abu Hasan, sedang Nabi Muhammad memanggilnya Abu Turab.. Lahir di Mekah 32 tahun setelah kelahiran nabi Muhammad SAW atau 10 tahun sebelum bi’tsah (pengangkatan sebagai Rasul).
     Ia juga adalah orang yang pertama kali mengorbankan dirinya demi memperjuangkan agamanya. Pada malam hijrah, Rasulullah menugasinya untuk tidur ditempat tidur beliau, dan ia ditugasi untuk mengembalikan barang-barang kepada orang musyrik dipagi harinya.
      Dalam peristiwa hijrah, ia dipersaudarakan dengan Sahl bin Hanif. Rasulullah menikahkan Ali dengan putri bungsunya, Fatimah pada tahun 2 H. Dan Ali tidak menikah hingga Fatimah meninggal dunia, 6 tahun setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW.
     Ia memiliki 29 anak, 14 laki-laki dan 15 perempuan. Diantaranya: Hasan Husein, Muhammad ibn Al Hanafiyah, Abbas, Ali, Umar, Zainab dan lain-lain.
     Ia meninggal dunia di Kufah pada 17 Ranadhan 40 H dalam usia 63 tahun, akibat tebasan pedang Abdurrahmaan ibn Muljam, salah seorang tokoh Khwarij, ketika ia hendak sholat subuh.
     Ia meriwayatkan 586 hadits Nabi Muhammad SAW.
 
Menjadi Khalifah
     Ali ibn Abi thalib merupakan khalifah ke-4 dalam sistem kekhalifaahan Islam sepeninggal Rasulullah. Ia memangku khalifah pada tahun 35 H, setelah kematian Utsman ditangan pemberontak.
    Nepotisme di era kekhalifahan Utsman yang berasal dari kabilah Umayah menjadikan kedudukan kuam Umayah menjadi sangat kuat. Sehingga ketika khalifah Utsman terbunuh oleh kaum pemberontak, menjadikan alasan kaum Umayah yang menguasai wilayah wilayah tertentu (Damaskus) untuk tidak menerima pengangkatan Ali sebagai khalifah. Muawiyah bin Abu Sofyan yang dibantu oleh Amr bin Ash mempergunakan kematian Utsman sebagai senjata dalam kampanyenya untuk menjadikan dirinya sebagai khalifah, dan sebagai alasan untuk tidak membaiat Ali sebagai khalifah.
     Dilain pihak Zubeir bin Awwam yang dibantu oleh Thalhah dan mendapat dukungan dari Aisyah (istri rasul), memamfaatkan kematian Utsman sebagai isue utama dalam menjadikannya sebagai khalifah.
      Zubeir dan pasukannya kemudian memberontak dan mengakibatkan perang jamal (perang onta), yang terjadi pada tahun 36 H, yang dikuti perang siffin oleh pihak Muawiyah pada tahun 37 H. Perang jamal dapat dimenangkan oleh pendukung Ali, dan Aisyah dapat di tawan dengan keadaan terhormat. Perang siffin juga dapat dimenangkan oleh pihak Ali. Tetapi karena mencintai perdamaian pihak Ali kemudian menawarkan arbitrase yang dikenal dengan tahkim. Ali kemudian menunjuk Abu Musa Al Asya’ary sebagai juru rundingnya, sedang dipihak umayah menunjuk Amr bin Ash. Kelicikan dari Amr bin Ash yang kemudian memperdaya Abu Musa al Asy’ari yang lugu. Abu Musa yang dipersilahkan mengumumkan penurunan Ali sebagai khalifah, sedang Amr bin Ash dengan cekatan kemudian mengumumkan pengangkatan Muawiyah sebagai khalifah (yang pada awalnya disepakati untuk sama sama tidak memegangkendali pemerintahan), suatu peristiwa yang diluar dugaan dipihak Ali. Keliahaian Amr bina Ash dengan mudahnya mengelabui Abu Musa yang dikenal sangat alim. Peristiwa tahkim ini kemudian melahirkan apa yang disebut dengan kaum khwarij yang tidak setuju melakukan perdamaian dengan pihak Muawiyah yang dianggapnya telah memberontak dan kalah. Kaum khwarij ini kemudian keluar barisan dari pihak Ali dan juga Muawiyah. Dan pemberontakan kaum Khwarij terjadi dalam An Nahrawan tahun 40 H.

 

 by: Adeng Lukmantara

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda