ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > PENGUASA & NEGARAWAN > Dinasti Umayah > Umar bin Abdul Aziz

 
 
 
 
 
 
 
 

Umar bin Abdul Aziz

 
UMAR IBN ABDUL AZIZ (61-    H),
 
      Penguasa pada dinasti Umayah yang terkenal akan keadilannya, dan dikenal sebagai pembaharu pemerintahan dinasti Umayah yang dhalim, disamping sebagai penguasa yang peduli terhadap pengumpulan hadits Nabi. Umar bagaikan mutiara yang muncul ditengah kekuasaan Umayah yang zhalim.
      Lahir di Madinah pada tahun 61 H. ia merupakan anak dari Abdul Aziz dan cucu Marwan (w. 64/65 H). Ibunya Ummi Asim, adalah cucu Umar bin Khaththab. Umar di besarkan dan dididik dibawah asuhan Ibnu Umar (Abdullah bin Umar). Abdul Malik bin Marwan memberikan kepada Abdullah seribu dinar sebulan untuk mengajar kemenakannya. Ia juga mendapat bimbingan (guru) dari Hubayzullah bin Abdullah bin Atbah dan Saleh bin Kiyan. 
     Suatu hari Saleh bin Kiyan mengeluh kepada ayahnya (Abdul Aziz) yang waktu itu menjadi gubernur Mesir, bahwa anak didiknya (Umar) banyak membuang-buang waktu dengan menyisiri rambutnya dan melalaikan shalkatnya. Abdul Aziz segera mengirim orang dari Kairo untuk mencukur gundul kepala Umar. Umar juga memperoleh pengajaran dari Anas bin Malik, Abdullah bin Jafar, Urwah bin Zubayr dan Abu bakar bin Abdurrahman. Ia juga berguru kepada Utbah bin Mas’ud, yang merupakan cucu dari Abdullah bin Mas’ud (salah seorang sahabat Nabi).
      Sudah menjadi kebiasaan dari Bani Umayah, yang selalu mengecam Ali Bin Abi Thalib dan keturunannya. Baik ketika bermain ataupun di acara-acara resmi, seperti khutbah Jum’at. Umar bin abdul aziz masa kecilpun demikian, selalu mengecam dan memperolok-olok Ali bin Abi Thalib. Hal inila kedengaran oleh Utbah bin Mas’ud (gurunya), yang membuat sang guru marah. Dan mulai saat itu ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi, dan ia                                 juga berjanji jika kelak berkuasa akan merubah paradigma yang salah tentang Ali bin Abi Thalib dari bani umayah.              
    Ketika masih belia, Umar sudah menguasai dengan baik isi Al Qur’an maupun hadits yang dihapalnya. Sehingga ia sendiri sering membanggakan kehebatan dirinya:” Ketika saya meninggalkan Madinah, tidak seorangpun yang lebih menguasai pengetahuan agama daripada saya.”
      Ia kemudian menikah dengan Fatimah, puteri pamannya Abdul malik (65-86 H), penguasa Umayah, dalam tahun terakhir pemerintahannya. Dalam tahun yang sama ia kemudian ditunjuk menjadi gubernur Medinah dan praktis menjadi gubernur seluruh Hijaz.
     Pada awalnya masyarakat Madinah skepstis terhadap Umar bin Abdul Aziz, karena ketika pindah Madinah, ia membawa perabotan rumah tangga, perhiasan dan barang-barang kenikmatan lainnya, yang diangkut dengan 30 ekor unta. Mereka mengatakan, bahwa , kearifan sudah dikubur dibawah kekuasaan. Karena telah terbiasa dengan hidup senang dan santai, Umar sulit dapat diharapkan untuk menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Tetapi ternyata ketika ia berkuasa, ia menjalankan keadilan, mendengar setiap pengaduan, berjanji bahwa tidak seorangpun akan ditindas betatpapun lemahnya, bahwa ia melarang orang menindas orang lain, betapapun besar kekuatannya.
     Disamping memenuhi tugasnya serta memerintah rakyatnya dengan perhatian yang sebesar-besarnya, Umar juga melakukan banyak hal lain untuk kebaikan masyarakat Islam. Salah satu pencapaian Umar yang tahan lama ialah pembangunan dan perluasan Mesjid Nabi da Mausoleumnya. Bilik-bilik tempat tingga istri nabi dibeli dan pekerjaan ini dimuali pada tahun 87 H/ 707 M. Disamping itu, gubernur muda dan bersemangat ini juga menghendaki dan memperbaharui semua mesjid dan tempat-tempat suci dalam kota maupun dipinggiran kota Madinah dimana Nabi pernah melakaukan Sholatnya. Untuk kepentingan para kafilah dan orang-orang yang dalam perjalanan, ia telah menyuruh menggali sumur=-sumur air dan jalan-jalan besar diperbaiki.
     Umar mencapai kedudukan dan ketenaran pada masa khalifah Walid din Abdul Malik dan Sulaiman bin Abdul Malik. Ia berhenti dari jabatannya pada tahun 93 H, yang kemudian diangkat menjadi khalifah menggantikan Sulaiman bin Abdul malik (MP 96-99 H).
        Pengangkatan Umar menjadi khalifah merupakan cerita yang menarik. Khalifah waktu itu, Sulaiman bin Abdul Malik ketika sudah sakit-sakitan dan merasa harapan untuk sembuh sudah tiada. Ia ingin mengukuhkan salah seorang puteranya untuk menjadi khalifah. Salah satu anaknya, Ayyub, sudah meninggal. Yang lain, Dawud, sedang melakukan ekspedisi yang sangat berbahaya dan tiada khabar berita. Sedang putera-puteranya yang lain masih belia. Atas usul Reja bin Haywah , penasehatnya, agar menyerahkan kekuasaan kepada Umar bin Abdul Aziz. Usulannya ini diterima, dan kemudian dibuat surat wasiat pengangkatan Umar sebagai khalifah penggantinya. Tindakan Sulaiman ini merupakan satu-satunya sejak masa kekuasaan dinasti Umayah, yang sangat menguntungkan ketatanegaraan Islam. Pengangkatan Umar sebagai khalifah disambut hangat oleh kaum muslimin. Umar memberikan harapan baru bagi kaum muslimin yang sebelumnya sudah putus asa, terhadap politik kotor dan kedzaliman yang dilakukan oleh Bani Umayah.
 
Reformasi Kekuasaan
    Ketika abad pertama Hijriyah mencapai akhirnya. Pada abad itu telah menyaksikan kemenangnan-kemenagna yang menyilaukan tentara Islam. Kekuatan sistem Islam setra solidaritas kekuatan Islam yang dibangun Nabi Muhammad dan kemudian dilanjutkan oleh para khalifah yang yang tepat. Tetapi kermudian pencapaian militer yang diteruskan oleh Bani Umayah hingga Khalifah Umar bin Abdul Aziz digelapi oleh tindakan-tindakan politik tidak berperikemanusiaan dari para penguasa Umayah. Kekuasaan yang direbutnya dengan tidak syah membuat orang-orang istana Umayah cenderung bermental busuk. Yang dilakukan oleh yang dianggap khalifah banyak bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah, dan hampir tidak memberikan sumbangan bagi pembangunan kembali watak Islam yang sejati. Pemasukan ke dalam agama islam telah menjadi suatu praktek yang tidak ada gunanya, sementara orang-orang yang sudah masuk Islam diterlantarkan dan bahkan ditindas di beberapa daerah.
    Umar menyoroti perkembangan yang tidak sehat itu dan ia sangat menghargai tugas-tugas khalifah. Ia kemudian mengeluarkan petunjuk-petunjuk yang intinya ialah agar orang-orang muslimin menjadi orang-orang yang saleh dan agar mereka jangan tidak mengenal belas kasihan dan hanya mementingkan keduniawiaan saja dalam hubungan-hubungan mereka.
    Ia kemudian melakukan reformasi dari berbagai segi. Kelemahan moral dicela, penindasan yang paling kecil diberikan hukuman yang setimpal, dan beban yang diberikan oleh penguasa-penguasa lalim sebelumnya (terutama oleh Hujaj bin Yusuf terhadap orang-orang Irak, Khurasan dan Sind ynag baru masuk Islam) ditiadakan.
     Umar bin Abdul Aziz sangat menyadari bahwa perombakan akan tidak efektif apabila ia sendiri yang memperbailki kehidupan pribadinya. Karena itu sejak diberi jabatan khalifah, ia kemudian melepaskan semua kemewahan dan kesenangan baik makanan dan praktis menunjukan suatu pengabdian yang tiada hentinya kepada warisan Nabi dan para khalifah yang adil. Ia tidak mau tinggal di istana yang megah. Ia melelang onta-onta dan kuda-kuda pribadi dan kerajaan dan menjual perabotannya, permadani-permadani dan perkakas yang terbuat dari emas dan perak dan menyimpan hasil penjualannya pada bendahara negara. Ia kemudian membebaskan semua pengawal apartemen dan istana khalifah dan minta kepada Khalid, kepala algojo agar menyarungkan pedangnya. Mengenai istrinya, Fatimah, ia menyarankan kepadanya agar mengembalikan semua permata dan barang perhiasan yang diterimanya dari sanak keluarga kepada bendaharawan negara, karena semua itu bukanlah milik mereka sendiri.
     Ia juga melakukan langkah-langkah yang drastis ketika ia mengambil kembali tanah-tanah yang dirampas oleh kalangan Umayah dan mengembalikannya kepada pemilik aslinya. Tanah-tanah yang diwariskan kepadanya dan yang memberikan pendapatan 40.000 dinar, juga ia serahkan kepada penuntutnya. Tanah subur, Fedak, yang dirampas kaum Umayah dari keluarga nabi, ia serahkan juga kepada ahli warisnya (keturunan Nabi). Meskipun tindakan ini kemudian mendapat tantangan dari dinastinya.
     Dalam surat-suratnya yang disampaikan kepada para gubernur, ia banyak berbicara tentang ajaran Islam, reformasi keagamaan serta nilai-nilai moral yang harus dipertimbangkan dalam menjalankan pemerintahan. Ia berpendapat bahwa suatu pemerintahan yang efisien dan adil hanya mungkin apabila para pejabat dan gubernur merombak tingkah laku maupun kehidupan pribadi mereka. Ia menekankan kepada shalat jamaah karena hal ini memajukan kerjasama melalui perhimpunan dan saling mengerti. Ia menginstruksikan kepada pemerintah propinsi agar mereka secara cermat mengikuti cara-cara nabi dan para khaliufah yang saleh. Pra funsionarus persemakmuran debebani tanggung jawab nuntuk menyebarkan Islam Kejahatan harus diberantas ke akar-akarnya dan kebaikan harus diberi dorongan dan dipopulerkan. Para hakim harus lembut hati dalam menegakan hukum.
     Seperti halnya para khalifah yang adil (yang 4), ia sangat ingin memelihara harta kosmopolitan yang terkandung dalam perkataan-perkataan nabi. Ia kemudian memerintahkan agar studi tentang pengetahuan keagamaan diberi dorongan. Surat-surat edaran ia kirimkan kepada para gubernur dan walikota serta kaum cerdik pandai, untuk mengumpulkan semua tradisi Islam dimanapun itu dapat ditemukan. Dan ia juga mengirim surat kepada intelektual terkemuka waktu itu, Abu Bakr ibn Hazm, untu mengumpulkan dan menulis hadits-hadits Nabi. Dan sejak itulah tradisi menulis hadits berkembang sangat pesat.
     Dalam taran sosio-religius ia juga melakukan reformasi, ia membuat suatu keputusan yang tegas untuk meremajakan masyarakat muslim. Banyak hal, seperti gambar-gambar dan pertunjukan-pertunjukan musik ia larang. Kaum wanita dilarang berkabung untuk orang mati tanpa tutup kepala. Perdagangan minuman keras dilarang termasuk   impor maupun ekspor. Ketidaksopanan sosial dikutuk, sistem pemandian bersama dicela dan dihentikan. Kebiasan Bani Umayah mencaci Ali bin Abi Thalib dalam setiap jum’at ia hilangkan. Para imam di mesjid-mesjid diberi instruksi ayat yang berbicara tentang keadilan dibacakan (QS 16:90). “Tuhan menyuruh berbuat adil dan menyuruh berbuat kebajikan dan suruh mencintai sanak kerabat, dan menyuruh mencegah yang keji dan munkar serta segala kejahatan. Allah memperingatkan   hal itu kepadamu, semoga engkau mengingatnya.”
 
 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda