ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > PENGUASA & NEGARAWAN > Dinasti Buwaihi > Adhud al Daulah

 
 
 
 
 
 
 
 

Adhud al Daulah

 
ADHUD AL DAULAH (324-372 H/ 936-983 M)
Penguasa Buwaihi
 
      Penguasa dinasti Buwaihi yang terbesar. Pada masanyalah dinasti ini mencapai puncak egelimangannya.
     Lahir di Isfahan, nama aslinya Abu Syuja’ Fanna’ Khusrau. Abu Syuja merupakan gelar kakeknya, sedang fanna’ Khusrau, suatu nama Persia, merupakan nama buyutnya. Ia sendiri merupakan putra tertua Rukhn al Daulah penguasa dinasti sebelumnuya. Gelar adhud al daulah (penyangga negara / arm of the dinasy) dianugrahkan olh khalifah Al Mu’thi (351 H/ 462 M)
     Pendidikannya, guru pertamanya adalah Abu Al fadhl Ibn Al Amid di istana ayahnya di Rayy. Selama menjalani hidupnya di Syiraz, ia menjadikan istananya sebagai tempat berkumpul teolog, ahli bahasa dan penyair. Ia membangun perpustakaan di dalam istana yang megah mencakup sekitar 300 kamar, yang ditangani oleh eseorang pengawas, bendahara dan seorang kepala. Buku-bukunya dicatat dalam katalog dan diletakan di dalam rak-rak buku seesuai dengan tema utamanya. Ia juga memanggil ahli tata bahasa (nahwu), Abu Ali Al farisi, ke Syiraz untuk menjadi guru pribadinya. Setelah menyelesaikan karya-karya Al farisi , Al Idhah (penjelasan) dan Al takmilah (penyempurnaan), ia menyumbangkan 50.000 dirham untuk amal. Ia juga membawa teolog Asy’ariyah, Abu bakr al baqillami, untuk mengajari anak-anaknya. Dalam bidang astronomi, ia menjadikan Abdurrahman ash Shufi sebagai gurunya. Sebuah globe (bola dunia) dari perak yang dibuat oleh Ash Shufi untuk pelindungnya (Adhud al daulah) ditemukan kemudian hari di sebuah koleksi perpustakaan di Kairo
      Karier politiknya dimulai tahun 338 H / 949 M, ketika usia masih belia (13 tahun). Ia menggantikan pamannya, Imad ad daulah, yang tidak mempunyai anak, penguasa Fars yang beribukota di Syiraz. Ketika Muizz ad daulah meninggal, ia meluaskan kekuasaannya sampai Oman, setahun kemudian ke Kirman, dan pada tahun 362 H/ 971 M mencapai Makran.
       Adhud al daulah terkenal sekali sebagai penguasa yang cinta ilmu pngetahuan dan pendukung kebudayaan. Termasuk anak-anaknya juga mengembangkan usaha dalam bidang kebudayaan. Anaknya, Abu Al Husain Ahmad Taj al daulah merupakan seorang penyair yang terkenal dikalangan keluarga Buwaihi. Dan Abu al fawaris Syirdil (syaraf al Daulah) mempunyai kecenderungan kepada astronomi.
 
Peran
     Adhud ad Daulah adalah penguasa terbesar Buwaihi, paling berkuasa dan dibawahnyalah dinasti ini berkembang pesat mencapai puncak prestasi kultural dan kemegahan imperialnya.. Ia memerintah seluruh kekuasaan Buwaihi yang diwarisi pendahulunya dan memperluas wilayah kekuasaannya melebihi yang pernah dicapainya.
  Ketika ia berkuasa, ia berusaha untuk mengembangkan jalur-jalur perjalanan yang menghubungkan Syiraz dan Baghdad. Ia membangun sebuah bendungan melintasi sungai Kur di Fars, timur laut Syiraz, sehingga dapat mengalirkan air untuk kepentingan irigasi.
     Ia juga membangun kembali kota Baghdad dan mengembalikan kembali dalam kemegahan setelah melewati suatu periode yang penuh dengan tindakan anarki dan kerusuhan pada masa Bakhtiyar (Izz al Daulah). Ia memerintahkan membangun kembali jalan-jalan yang tertimbun rerubtuhan bangunan yang terbakar, atau yang dihancurkan selama periode fitnah (kerusuhan). Ia juga membangun kembali masjid-masjid Jami’ (besar) yang telah hanvcur sama sekali, membangun kembali mesjid-mesjid di pinggiran kota. Ia juga menyediakan gaji yang cukup untuk pengurus-pengurus mesji (muadzin, imam shalat, pembaca Al qur’an dan lain-lain). Ia menyediakan makanan bagi orang-orang asing atau orang miskin yang mencari perlindungan.
     Disamping itu ia juga meminta kepada para pemilik property (aqarah) untuk memperbaharui propertynya. Membangun kembali rumah-rumah pejabat yang dihancurkan, dan membangun serta memperindah taman-taman.
  Salah satu kontribusi terpenting dari Adhu ad daulah adalah pembangunan rumah sakit yang setelah kematiannya disebut Bimaristan Adhudi. Ruma h sakit ini terletak di Baghdad Barat di tepi sungai Tigris. Beberapa perkuliahan pernah disampaikan di rumah sakit ini, dan ia ditangani oleh 24 dokter. Rumah sakit ini mendapat berkah yang sangat baik, yang masih memancarkan berkahnya hingga 200 tahun kemudian, ketika ia dikunjungi oleh Ibn Jubair, yang melukiskannya sebagai rumah sakit yang paling besar dan paling terkenal di masa itu.
   Dalam bidang ilmu lainnya, Al Biruni melaporkan sebuah observasi deklinasi (rasd al mail / pengamata kemiringan) atas perintah Adhud al daulah kepada Ash Shufi. Peristiwa ini disaksikan oleh Abu sahl al Kuhi, Ahmad ibn Muhammad ibn Abd al jalil al Sijzi, Nazhif ibn Yumn al Yunani   dan Abul Qosim Ghulam Zuhal.
 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda