ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLUL BAYT > Imam Ahlul bayt > Ali Zainal Abidin

 
 
 
 
 
 
 
 

Ali Zainal Abidin

 
ALI ZAINAL ABIDIN (38-95 H/ w. 712-713 M)
 
      Penghulu ahlul bayt, seorang ahli ibadah yang tiada taranya. Ia adalah satu-satunya putra Husein bin Ali yang selamat dari pembantaian di Karbala oleh pasukan dinasti Umayah.
      Nama Ali Ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib, biasa dipanggil Abu Husain. Ia merupakan cucu dari Ali ibn Abi Thalib dan anak dari Husein bin Ali ibn Abi Thalib. Ia terkenal dengan julukan Zainal Abidin, karena sangat ahli dalam ibadah. Ia lahir pada hari Kamis, 5 Sya’ban 38 H, di Madinah.
      Zainal Abidin adalah satu-satunya laki-laki yang masih hidup dari kalangan ahlul bayt (anak Husein bin Ali bin Abi Thalib), yang dibantai di karbala, pada 10 Muharam 61 H, oleh pasukan Hajjaj bin Yusuf, penguasa Umayah (raja muda Irak) yang terkenal kejam. Ia selamat dari pembantaian di Karbala, karena ia tidak ikut serta dalam peperangan itu akibat sakit yang dideritanya. Pada waktu itu ia berusia 23 tahun.
      Peristiwa Karbala ini merupakan pembantaian yang sangat biadab terhadap keturunan Rasulullah (atau turunan Ali Bin abi Thalib) oleh Bani Umayah, yang hampir semua keturunan Rasulullah dibantai (27 orang termasuk Husain Bin Ali Bin Abi Thalib, ayahnya). Diantara yang selamat selainnya adalah bibinya, Zainab bin Ali.
    Sekembali dari Karbala, ia hidup di Madinah sepanjang sisa hidupnya, dan menghindari keterlibatan politik sedapat mungkin. Tragedi Karbala meninggalkan goresan yang ada padanya. Karena itu ketika orang Madinah bangkit menantang Yazid bin Muawiyyah (penguasa dinasti Umayah waktu itu) pada tahun 62 H / 681 M, demi menjaga kenetralannya dalam pergulatan politik umat, ia meninggalkan Madinah dan berdiam diri di perkebunannya.
     Husein bin Ali bin Abu Thalib tidak mempunyai keturunan lain selain dari jalur Zainal Abidin. Ia meriwayatkan hadits dari ayahnya, Husein, Shafiyah, Ibnu Abbas dan Ummu Salamah. Dan yang meriwayatkan hadits darinya, antara lain: Az Zuhri, Amr bin Dinar, Hisam bin Urwah dan anak-anaknya.
     Ia meninggal pada usia 57 tahun (pada 95 H) dalam keadaan yang sangat mengenaskan dan dimakamkan di Baqi’, kota Madinah, didekat pamannya, Hasan bin Ali.
      Tentang keutamaannya, Az Zuhri berkata: “ Aku beum pernah meihat orang Quraisy yang lebih utama dan lebih pandai terhadap ajaran agama dari dia.”
 
Karya
  • Al Shohifah Al Sajjadiyah, kumpulan do’a-do’a yang tersusun sangat indah. Buku ini berisikan tentang anjuran dan bimbingan kepada manusia agar dapat kembali ke dalam kehidupan yang sangat harmonis.
  • Risalah Al Huquq. Kitab ini berisi tentang hak (pribadi dan masyarakat) secara rinci, dan juga menerangkan halal dan haram, dan upaya menangkalnya dengan penuh keasadaran dan perasaan batin.
by: Adeng Lukmantara
Referensi : lihat daftar pustaka

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda