ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI TATA BAHASA > Ahli Nahwu/ Ahli Lughah (Ahli Tata Bahasa) > Abu Said al Sirafi

 
 
 
 
 
 
 
 

Abu Said al Sirafi

 
ABU SAID AL SIRAFI (w. 368 H/979 M)
Ahli tata bahasa
 
      Ahli tata bahasa yang termasyhur, yang banyak terlibat dalam beberapa perdebatan penting dengan ahli-ahli terkemuka dizamannya.
          Ia terlibat perdebatan dengan filosof muslim, Al Amiri. Tetapi perdebatan yang masyhur, tentang relatifitas logika dan bahasa, yang terjadi pada tahun 320 H/ 932 M, dengan Abu Bisyr Mata bin Yunus (w. 328 H/ 940 M), seorang ahli filsafat beragama kristen, yang diadakan di Baghdad, diistana Ibn Furah, wazir dari sultan Bakhtiyar, penguasa Buwaihi Irak. Inti kontroversi berkaitan erat dengan persoalan apakah logika merupakan alat pengungkapan yang universal atau alat yang terbatas pada bahasa Yunani.
      Al Syirafi banyak meninggalkan karya (buku). Dan menjelang akhir hayatnya, ia meninggalkan buku-buku tersebut untuk anaknya, Muhammad, dengan pesan bahwa jika buku-buku itu menyelewengkannya dari kebaikan, semua buku itu harus dihanguskan.
 

Pemikiran

 

     Hal yang sangat menarik dari pemikirannya, adalah mengenai perdebatannya tentang hakekat keterepaduan antara logika dan bahasa, dengan Matta ibn Yunus. Yaitu, apakah logika bagian dari bahasa sehingga tiap-tiap bahasa mempunyai logikanya tersendiri? Atau logika adalah tekhnik untuk mendiskusikan bangunan dakhil (the deep sctructure) yang melandasi semua bahasa?
      Ibn Matta membela pandangan logika sebagai kelaziman bagi semua ekspresi sehingga suatu kajian tentang logika dalam kerangka kebudayaan tertentu akan dapat bermamfaat bagi kebudayaan lainnya. Dan karenanya, ia bisa dipindahkan .
     Sebaliknya, Al Sirafi berpendapat bahwa setiap bahasa memiliki bangunannya masing-masing. Dan pada dasarnya, bangunan ini berkaitan dengan tata bahasanya, bukan logika. Karenanya, bangunan bahasa Arab tidak membutuhkan dan tidak menggunakan tata bahasa yang tersirat dalam pemikiran Yunani.
     Ibn Matta berpihak kepada filsafat dalam kontrovesi ini, tetapi menariknya, menurut pendapat Oliver Leaman, pendapat Al Sirafi justru lebih sesuai dengan banyak isu ini pada zaman sekarang.
    Menurutnya, adalah keliru untuk melihat makna (meaning) sebagai segi esensial dari bagian dakhil bahasa sehingga   dengan mudahnya dapat dipindahkan ke bahasa lain melalui penerjemahan dan penafsiran.
     Banyak keberatan diajukan atas pandangan ini dengan alasan bahwa pandangan itu seakan memungkinkan pemakai bahasa tertentu untuk memahami bahasa berbeda hanya dengan menguasai aturan-aturan bahasanya. Padahal itu tidak membuktikan bahwa pemakai bahasa tertentu akan bisa menyerap pengertian terdalam (inner meaning)  dari suatu pernyataan yang disampaikan dengan bahasa lain. Dengan demikian kata Oliver Leaman, Al Sirafi tampaknya demikian bisa lebih berhak secara filosofis ketimbang yang selama ini diakui secara umum
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda