ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI TASAUF > Tokoh utama dalam ilmuTasauf >  Harits al Muhasibi

 
 
 
 
 
 
 
 

 Harits al Muhasibi

HARITS AL MUHASIBI ( 165-243 H / 781-857 M )
Sufi
 
     “ Rasa cinta seorang makhluk kepada khaliqnya itu adalah anugrah Ilahi, yang disemaikan Tuhan di dalam hati orang yang mencintainya. Kalau cinta itu telah bertambah, belum tercapai maksudnya sebelum bersatu diantara yang mencintai dan yang dicintai.” (Al Muhasibi)
 
     Seorang sufi besar pendiri madrasah Bagdadiyah dalam bidang tasawuf. Ia mengembangkan psikologi moral yang paling ketat (rigor) dan berpengaruh dalam tradisi tasauf. Al Qusyairi (seorang penulis tentang tasawuf yang terkenal) memasukan Al Muhasibi ini ke dalam 5 orang terkemuka dalam tasawuf (yang lainnya adalah Al Junaid, Ruaim, Ibn Athak, dan Umar Ibn Utsman Makki).
      Nama : Abdullah Al Harits ibn Asad Al Bashri, dan terkenal dengan nama Al Muhasibi, yang berasal dari konsep muhasiba yang berarti orang yang senantiasa menghitung atau memeriksa hati nurani, yang diyakini Al Muhasibi seharusnya mengikat setiap manusia, seperti kata hikmah, “ Hasibu anfusakum qabla antu hasibu” (Hitunglah (hisablah) kamu sendiri, sebelum kamu dihitung (dihisab).
      Ia lahir di Bashrah, dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Baghdad. Di Baghdad inilah ia belajar, mengajar dan meninggal. Di Baghdad ini ia terlibat perseteruan sengit dengan intelektual terkenal waktu itu, Imam Ahmad ibn Hanbal dan pengikutnya. Meskipun psikologi moral yang ia kembangkan mensandarkan pada Qur’an dan Sunnah, tetapi pemikirannya mendapat serangan dari Imam Ahmad bin Hambal. Psikologi moral yang dikembangkannya ini berpengaruh besar terhadap tasauf periode berikutnya dan pemikiran Islam secara luas.
     Almuhasibi terkenal sebagai orang yang berilmu luas, wara’ dan pandai bergaul. Ia merupakan orang yang senantiasa menjaga dan mawas diri terhadap perbuatan dosa. Ia juga sering menginstropeksi diri menurut amal yang dilakukannya. Disamping itu ia juga terpandang dalam ilmu ushul fiqih, mua’amalah dan dalam bidang hadits ia dikenal sebagai perawi hadits yang terkenal.
      Ia banyak meninggalkan karya tulis (Menurut Abdul Mun’in Al Hifni (seorang ahli tasauf Mesir) sekitar 200 judul buku) dalam berbagai ilmu keagamaan (ilmu fiqih, hadits, kalam dan tasauf). Pemikirannya disebarkan oleh para murid dan pengikutnya, terutama Surry as Saqthy, dan psikologi moralnya dapat ditemukan dalam bentuk yang sangat kuat dalam karya-karya Abu Thalib al Makki yang melandaskan pandangan sinoptiknya sendiri tentang tasauf dalam ekspos yang gigih dari Al Muhasibi atas kehalusan egoisme manusia. Al Makki ini pada gilirannya nanti berpengaruh kuat dan sangat menentukan pada karya ensiklopedis Abu Hamid Al Ghazali (w. 1111 M), sufi yang karyanya sangat populer saat ini.
 
Pemikiran
     Tasauf Almuhasibi didasarkan pada 2 pilar, yaitu menghisab diri sendiri (muhasabah) yang sekaligus menjadi gelarnya, dan kesediaan menanggung derita dan musibah demi tuhan, kekasih utamanya. Ujian keimanan yang sejati menurutnya ialah kerelaan untuk mati dan ketabahan (shabr) menanggung penderitaan yang sangat menyiksa.
     Al Muhasibi dalam psikologi moralnya selalu menganalisis tentang berbagai bentuk egoisme manusia dan cara mewaspadainya agar manusia tidak terjatuh ke dalam keasyikan dengannya. Bentuk egoisme yang dibahas Al Muhasibi adalah
Ø   Riya’ (Narsisisme)
Ø   Kibr, yang didefinisikannya sebagai tindakan hamba yang menempatkan dirinya pada kedudukan sang tuan atau Tuhan (dalam istilah kontemporer: dorongan ke arah megalomania dimana seseorang melihat dirinya sebagai pusat realitas)
Ø   ‘Ujub, yang dengannya seseorang memperdaya dirinya sendiri dengan melebih-lebihkan penilaiannya atas segala tindakan serta melupakan kelemahan-kelemahannya.
Ø   Ghirrah, yang dengannya seseorang berkhayal bahwa penolakannya untuk mengubah perangai buruknya dibenarkan oleh harapannya akan sifat rahman Allah.
Setiap bentuk utama egoisme ini berhubungan satu sama lain dan masing-masing melahirkan sub bentuk egoisme baru, seperti persaingan, permusuhan, ketamakan serta tafakhur (membanggakan diri- self vaunting). Masing-masing sub bentuk itu memiliki modalitas dalam hubungannya dengan bentuk-bentuk prinsipil. Oleh akarena itu terdapat suatu persaingan yang berlandaskan pada kecongkakan dan bentuk persaingan yang berbeda berlandaskan pada kibr dan ‘ujub.
     Menurutnya masing-masing bentuk dan sub-bentuk egoisme tersebut memiliki penawarnya dalam kehidupan berhamba. Misalnya ikhlas adalah penawar riya, pad akhirnya setiap penawar bersumber pada renungan tentang kesadaran tuhan, wahyu Al Qur’an, sunnah nabi, dan akal budi manusia selama ia tetap berpijak pada wahyu ilahi.
 
Karya
  • Kitab Ar Ri’ayah li Huquq Allah (Penjagaan terhadap hak-hak Allah), berisi analisis yang dikembangkan secara utuh mengenai berbagai bentuk egoisme manusia, metode pelatihannya dan cara mewaspadainya. Buku ini disusun dalam bentuk dialog antara dia dan muridnya. Sang murid mengajukan pertanyaan pendek dan muridnya memberikan jawaban yang panjang dan detail. Tulisannya ini tergolong berat dan tidak puitis, seolah-olah sang penulis telah memutuskan bahwa tema-temanya hak-hak allah dan pengaruh egoisme terhadapnya merupakan topik yang tidak menyenangkan, sehingga perlu kecerdikan yang memungkinkan pembaca terbebas dari kesimpulan yang suram.
  • Al ‘Aql (Akal)
  • Al Makasib (Keberuntungan)
  • Al Washaya (Wasiat-wasiat)
  • Al Masail fi ‘Amal Al Qulub Wa Al Jawarih (Berbagai masalah mengenai hati dan anggota badan)
 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda