ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI TASAUF > Tokoh utama dalam ilmuTasauf >  Abu Yazid al Bustami

 
 
 
 
 
 
 
 

 Abu Yazid al Bustami

 

ABU YAZID AL BUSTAMI (128-261 H / 746-877 M)
Sufi
 
 “…Dua belas tahun aku menjadi tukang bagi diriku sendiri, dan lima tahun aku menjadi cermin hatiku…”(Abu Yazid Al Bustami)
   Seorang sufi besar dalam sejarah peradaban Islam. Ia merupakan pemuka Thaifuriyah atau Thaifurisme.
     Nama Abu Yazid Thaifur Bin Isa Bin Adham Bin Surushan, dan nama ketika ia masih kecil adalah Thaifur, sehingga ajarannya dikemudian hari dinamakan Thaifuriyah. Ia lahir di kota Bustam, Khurasan. Nenek moyangnya seorang penganut Zoroaster yang kemudian masuk Islam.
     Ketika ia masih muda, ia belajar kepada Abu Ali dari Sind. Dan dalam kurun waktu 30 tahun, ia mengembara ke berbagai negeri Islam. Ia susuri padang pasir yang menyengat untuk mencari ilmu dan menemui / berguru kepada ulama-ulama besar dan sufi yang masyhur. Setidaknya ia telah berguru dan mendapat bimbingan dari sekitar 113 ulama besar dizamannya. Ia jalani semua itu (dalam kehidupan dan pengembaraanya) dengan penuh kezuhudan: makan, minum, dan tidur ia tempuh hanya sedikit sekali.
    Abu Yazid terkenal akan ketinggian ilmunya. Ia sebenarnya ahli fiqih (madzhab Hanafi), tetapi karena kezuhudannya, sehingga ia lebih terkenal sebagai sufi.
     Ia meninggal pada tahun 877 M, pada usia 131 tahun, dan dimakamkan di Bustam.
     Para murid dan pengikutnya, dikenal sebagai Thaifuris, mendirikan ajaran sufisme, (yang menurut Hujwiri dalam bukunya Kasyful Mahjub), menentang kelompok Al Junaid Al Baghdadi, yang mempersiapkan kemabukan mistikal menjadi kesenangan mistikal.
 
Pemikirannya Tentang Tasauf
     Abu Yazid merupakan sufi besar, yang menggabungkan penolakan kesenangan dunia yang ketat dan kepatuhan pada hukum agama, dengan gaya intelektual yang luar biasa, serta renungan yang imajinatif.
    Ia adalah orang yang pertama kali mencetuskan teori yang lebih inti lagi tentang hamba dan Tuhan. Ia secara terang-terangan mengungkapkan as sakr (mabuk ketuhanan), al isq (rindu dendam),dan teori Al Fana’ wal Baqa’ (peleburan diri untuk mencapai keabadian dalam diri ilahi). Hal ini mengantarkan ia kepada teori Al Ittihad ( bersatunya dengan hamba dengan tuhan) atau hulul. Seperti salah satu ungkapannya, “Laisa fi’l jubbati illallah,” Yang berarti “Yang ada di dalam jubah ini hanya Allah.” Bagi Al Bustami, seorang sufi yang sudah begitu dekat dengan Tuhan akan lebur bersatu dengan-Nya, ketika itu yang diucapkan bukan lagi perkataannya sendiri melainkan perkataan Tuhan.
 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda