ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI TASAUF > Sufi & Tokoh Tarekat > Ahmad ibn Ali Abul Abbas ar Rifa'i

 
 
 
 
 
 
 
 

Ahmad ibn Ali Abul Abbas ar Rifa'i

 

AHMAD IBN ALI ABUL ABBAS AR RIFA’I (512-578 H / 1118-1183 M), Sufi
 
     Sufi besar yang sholeh, pemuka tarekat Rifa’iyah, dan juga terkenal sebagai ahli hukum (fiqih) dan penganut madzhab Syafi’i. Ia adalah seorang ulama yang sangat disegani di dunia tarekat, sehingga digelari Al Quthub dan Al Ghaus.
     Nama Sayyid Ahmad ibn Saquib Abul Hasan al Rifa’I al Husaini. Lahir di Qaryah Hasan, dekat Bashrah, Irak, dan meninggal di Umm Abidah. Nama Ar Rifa’I dinisbahkan kepada kakeknya Rifa’I al Maghribi Al Husaini dari bani Rifa’ah, salah satu kabilah Arab diwilayah Al Bata’ih.
    Ayahnya meninggal di baghdad ketika ia masih kecil (7 tahun). Ia kemudian dididik pamannya, Mansur al Batha’ihi, seorang ahli tarekat dari Bashrah. Kemudian ia belajar kepada Abu al Fadl Ali al Wasiti (pamannya juga) tentang fiqih Syafi’I dan juga Ummu Ubaidah, dan ia terus menuntut ilmu hingga usia 27 tahun.
    Ar Rifa’I hidup sezaman dengan Abdul Qadir Jailani, pendiri tarekat Qadiriyah.
 
Pemikiran dan Pengaruhnya
     Ajaran dari Ahmad Ar Rifa’I terkenal dengan tarekat Ar Rifa’iyah, yang dinisbahkan atau dikenal juga dengan Al bata’ihiyyah, yang dinisbahkan kepada tempat sukunya berasal. Ajaran tarekat Rifa’iyah ini ada 3, yaitu : Tidak meminta sesuatu, tidak menolak dan tidak menunggu.
     Diantara ajaran yang terpenting darinya adalah tentang masalah zuhud, tentang ma’rifat dan cinta ilahi. Tentang masalah zuhud, menurutnya, zuhud merupakan suatu maqam dari berbagai tingkatan maqam yang disunnahkan. Zuhud merupakan langkah pertama yang harus ditempuh oleh siapapun yang ingin berjalan menuju Tuhan. Orang yang belum menguasai perilaku kezuhudan tidak akan benar untuk melakukan langkah selanjutnya.
     Tentang ma’rifat dan cinta ilahi, menurutnya ma’rifat adalah menyaksikan kehadiran dalam makna kedekatan Tuhan disertai ilmu yakin dan tersingkapnya hakikat realitas secara benar-benar yakin. Cinta mengantar kepada kerinduan dan ma’rifat mengantar pada kefanaan atau ketiadaan diri.
     Ajaran tarekat Rifa’iyah berkembang di berbagai pelosok dunia Islam, seperi Turki, Suriah, Mesir, dan Indonesia. Penyebar tarekat ini adalah seorang muridnya yang bernama Abu al Fath al Wasiti (w. 580 H) di Iskandariyah, yang menyebarkannya di Mesir dan berkembang hingga kini.
      Di Indonesia tarekat ini tersebar di Aceh (terutama bagian barat dan utara), Jawa, Sumatra Barat dan Sulawesi. Tarekat ini di Indonesia terkenal dengan permainan debus dan tabuhan rebana, yang dikenal di Aceh dengan nama Rifa’I, di Sumatra Barat dengan nama Badabuih dan di Banten dengan nama Debus (berasal dari kata Arab, Dabbus = sepotong besi yang tajam). Jadi Debus adalah permainan yang dilakukan oleh para pengikut Rifa’iyah dalam bentuk menikam diri mereka dengan benda tajam sambil berdzikir. Ketika berdzikir mereka diiringi dengan suara gemuruh tabuhan rebana (meskipun mereka ditikam benda tajam mereka tidak terluka). Jadi permainan debus dan rebana, erat kaitannya dengan tarekat rifa’iyah. Dan salah satu ciri dari tarekat ini adalah dzikir yang nyaring dan lantang bahkan keras dan meraung-raung.
     Tarekat Rifa’iyah ini dalam perkembangannya berkembang menjadi beberapa macam, antara lain : Al Haririyah (pendirinya Al Hariri); Sa’diyah (pendirinya Sa’duddin Jibawi (w. 1335 M) dan Sayyadiyah. Sedang di Mesir, tarekat ini terdiri dari beberapa aliran, antara lain: Baziyah, Malikiyah dan Habibiyah.

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda