ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI TASAUF > Penyair Sufi > Jalaluddin Rumi

 
 
 
 
 
 
 
 

Jalaluddin Rumi

JALALUDDIN RUMI (604-674 H / 1207-1273 M)
Sufi Penyair
 
Karamlah aku di dalam rindu
Mencari dia, mendekati dia
Dan telah tenggelam pula
Nenekku dulu, dan yang kemudian
mengikut pula
 
Kalau kukatakan bibirnya
Itulah ibarat dar bibir pantai lautan
Yang luas tak tentu tepinya
Dan jika aku katakan Laa
Tujuku ialah Illa
 
Aku bukan tertarik oleh huruf
Dan oleh suarapun bukan; lakin
Jauh dibelakang dari yang didengar
Dan dipaham
Apa huruf, apa suara
 
Apa guna kau pikirkan itu
Itu hanya duri, yang menyangkut kakimu
Dipintu gerbang taman indah itu
Kuhapuskan kata, dan huruf dan suara
Dan aku langsung menuju engkau
 
(dikutip dari Hamka, Tasauf dari Abad ke Abad, Pustaka Islam, Jakarta, 1966, hal 169)
 
     Seorang sufi dari Persia yang merupakan salah satu penyair sufi terbesar yang dilahirkan peradaban Islam Klasik, pengarang matsnawi (sajak naratif panjang), yang merupakan karya puisi abadi, dan juga pemuka tarekat Maulawiyah.
     Nama Muhammad Bin Muhammad Bin Husain Al Khatbi Al Balkhi, dan terkenal dengan nama Maulana Jalaluddin Rumi. Nama Rumi sendiri merupakan nama tempat dimana ia tinggal yaitu Koniya, negeri Seljuk, yang terletak di Asia kecil, yang waktu itu terkenal dengan nama negeri Rum. Ia lahir di Balkh, Persia, dan meninggal di Koniya. Ayahnya, Bahauddin Walad, seorang ahli ilmu terkemuka diwilayahnya dan pemimpin tarekat Kubrawiyah, yang mengungsi ke Persia, kemudian ke Baghdad, Kirman dan akhirnya ke Koniya. Di Kirman ayahnya menetap 7 tahun, dan mengawinkan Jalaluddin Rumi dengan seorang wanita yang bernama Gauher, yang kelak melahirkan 2 anak yaitu Sultan Walad (Sultan Veld) dan Alauddin.
       Rumi mendapat pendidikan pertama dari ayahnya sendiri dan dipercayakan juga kepada murid ayahnya yang terpelajar Sayyid Burhanuddin Muhaqiq. Meskipun telah mengajar, Rumi tidak menghentikan aktifitasnya untuk mencari ilmu. Pada tahun 629 H, ia pergi ke negeri Syam (Halab dan Damaskus). Di kota Halab ia belajar di Madrasah Al Alawiyah kepada Kamaluddin Bin Al Adim dan di Damascus ia belajar di Madrasah Muqadasiyah.
     Tahun 634 H ia kembali ke Koniya, disini ia mengajar di madrasahnya dan memberi fatwa. Waktu itu Koniya merupakan pusat ilmu pengetahuan, karena banyak ulama yang mengungsi ke sini akibat daerah mereka diserang bangsa Mongol. Di sini juga murid-murid dari Ibn Arabiy tinggal, diantaranya Syekh Sadruddin Al Qanawi.
     Murid dari Rumi banyak sekali. Aktifitas mengajar sebagai pendidik berlangsung sampai terjadinya peristiwa yang mengubah pemikirannya, dengan kedatangan seorang sufi dari Tabriz (wilayah Persia) pada Jumadil Akhir 642 H, yang bernama Muhammad Bin Ali Bin Malik Bin Dawud, atau terkenal dengan nama Syamsi Tabriz, yang kemudian menjadi guru spiritualnya. Seperti yang diakui oleh Rumi sendiri bahwa Syamsi Tabriz ini telah menunjukan jalan kebenaran dan mempertebal keyakinan dan keimanannya. Sultan Walad (anak pertama Rumi) mengomentari :” Sesungguhnya seorang guru besar (Rumi) tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu padanya, meskipun sebenarnya beliau (Rumi) cukup alim dan zuhud, tetapi itulah kenyataannya, didalam diri Tabriz guru besar itu telah melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.”
      Lama-kelamaan keberadaan Syamsi Tabriz tersebut mulai tidak disenangi oleh santri-santri Rumi, maka setelah satu tahun 4 bulan menetap di Koniya, akhirnya Syamsi Tabriz meninggalkan Koniya. Gurunya tersebut sangat membekas kepada Rumi, sehingga anaknya (Sultan Walad) disuruh mencari gurunya tersebut. Dan akhirnya Syamsi Tabriz kembali lagi ke Koniya. Tetapi karena tetap tidak disenangi oleh santri-santrinya, Syamsi Tabriz meninggalkan Koniya untuk selamanya.
      Rumi adalah penyair yang prolifik (berkarya banyak). Rumi adalah fenomena, ia telah menulis lebih dari 35 ribu bait puisi
 
Pandangan-pandangannya
     Islam merupakan agama cinta, adalah trade mark dari tasauf Rumi. Sehingga karakteristik tasauf Rumi menonjol pada aspek cinta (mahabah).
     Rumi dalam tasaufnya bercorak gnosis seperti Ibn Araby. Ajaran-ajaran tasaufnya kemudian terkenal dengan nama tarekat Maulawiyah, yang memiliki pengikut yang tersebar di kawasan Timur Tengah. Tarekat ini sangat khas karena memakai tarian yang mirip gasing berputar, musik dan puisi untuk menghantarkan ke pengalaman ektase spiritual. Bagi rumi, manusia ibarat harpa yang dipetik tangan tuhan, seperti bunyi salah satu puisinya :” Kami bagaikan harpa yang Engkau mainkan…..”
    Tentang syair-syairnya, ciri pokok syairnya adalah keagungan pikiran dan kesederhanaan serta spontanitas penyajiannya. Lirik-liriknya penuh kejujuran dan keagungan, emosi yang dalam dan semangat melupakan yang memberi ciri karya-karya penyair mistik Persia. Liriknya bebas dari Ornamentasi dan Pasiviti (hiasan dan ketidakpedulian).
    Pandangan Rumi terhadap taqdir dan ikhtiyar sangat istimewa, sangat berbeda dengan sufi-sufi yang lainnya, yang kebanyakan berpaham Jabariyah (yang senantiasa menyerahkan segala sesuatu kepada nasib dan takdir). Rumi melakukan pendekatan Islam yang paling realistik dan praktis terhadap kehidupan. Bagi Rumi sekali-kali tidak boleh menyerah dan tunduk begitu saja terhadap taqdir. Hidup ini untuk berjuang terus dan bekerja terus. Insan (manusia) dilepaskan ke dunia ini dengan penuh kemerdekaan. Dia mesti berusaha sendiri mengisi kebahagiaan hidupnya dan memberi nilainya.
     Ia mengajarkan optimisme yang sehat. Hidup menolak dunia dan pasrah, sesungguhnya bertentangan dengan kemauan tuhan. Islam menganjurkan seseorang harus berusaha sebaik mungkin dan menyerahkan keputusannya kepada Tuhan, manusia mengusulkan, Tuhan yang menentukan. Penderitaan, kesusahan, kesengsaraan, kegagalan dan kekecewaan sekali-kali tidak boleh merintang manusia dalam berusaha. Kepedihan dan penderitaan sesungguhnya merupakan wasilah (jalan) untuk mencapai Lazzat (kepuasan batin). Bahkan dalam kepedihan itulah tersimpannya kepuasan. Kadang untuk menyempurnakan martabat diri perlulah ditempuh jalan yang sulit dan sukar. Orang yang berani menempuh jalan (tarekat) Allah, pasti bertemu dengan yang baik, yang jahat, susah dan sulit, yang memuaskan hati dan yang mengecewakan, semuanya harus ditempuh dengan gagah berani. Dengan menderita kepedihan insan (manusia) mencapai apa yang ditujunya. Karena yang pedih dan yang puas sama-sama dicintai oleh Allah.
 
Karya
  • Matsnawi, puisi panjang berisi komentar esoteris yang sangat mendalam tentang Al Qur’an. Puisi ini berisi 20700 bait syair, yang terdiri dari 6 jilid. Disinilah rumi melukiskan pendirian tasaufnya yang berdasar wihdatul wujud. Matsnawi ini menandai klimaks persajakan puisi mistik dan termasuk dalam syair-syair abadi di dunia. Matsnawi ini oleh sarjana barat sering dibandingkan dengan Divina Comedia karya dante, karena pijakannya   yang kuat pada teologi Islam.   Buku ini   terdiri dari 6 bagian yang berisi   cerita rakyat, legenda, anekdot, riwayat orang-orang saleh, dan kejaksanaan yang   memberi tuntunan pada sufisme.
  •  Al Fiqhu Al Akbar
  • Manthiq Al Thair
  • Fihi Ma Fihi
  • Hadiqat Al Haqaiq
  •  Diwan-I-Syamsyi Tabriz

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda