ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI TASAUF > Penyair Sufi > Hafiz al Syirazi

 
 
 
 
 
 
 
 

Hafiz al Syirazi

 
 
HAFIZ AL SYIRAZI (w. 793 H)
Sufi pujangga
 
Embusan angin pagi akan segera menebar keharuman kesturi
Duniapun akan menjadi muda lagi
Bunga bakung akan segera menutup mata pada anemone
Merah padam hingga bakung putih akan segera memperlihatkan kelopak harum
Burung bulbul yang sudah sekian lama menderita sakit keterpisahan
Akan segera ke kamar mawar dalam formasi dan riuh rendah
Kebahagiaan……………………..
 
      (Dinukil dari Nyanyian Musim Semi, yang ditulis Hafiz untuk menjelaskan makna kehijauan, dunia musim semi, sebuah dunia yang berubah dalam pandangan kaum sufi. Dalam syair ini Hafiz menangkap titik transisi antara dunia tua renta yang letih ('alam epir') dan dunia baru yang tumbuh dan berkembang) (Dikutip dari Tabloid Nurani, 2002)
 
      Hafidz adalah seorang pujangga sufi, lirikus Persia yang abadi dan salah satu dari 4 sokoguru persajakan Persia. Ia sangat terkenal dengan karya-karyanya yang memiliki semangat pencapaian yang kuat akan hakikat ilahiyah, sehingga oleh para pemujanya (pengagumnya) dijuluki Lisanul Ghaib (Si Lidah Ghaib / Si Lidah dari yang tidak terlihat) dan Tarjumanul Asrar (Pemandu / penafsir misteri), dan dijuluki lagi sebagai raja penyair Persia.
      Nama Syamsuddin Muhammad Hafiz, dan lahir di Syiraz. Kakeknya berasal dari Isfahan bermigrasi ke Syiraz pada masa kekuasaan Atabek. Ayahnya, Bahauddin seorang saudagar kaya yang meninggal muda, dan meninggalkan 3 putra.       Dua anak pertamanya menghabiskan harta warisan dengan foya-foya, sehingga Hafiz sebagai putra bungsu yang bersama ibunya berada dalam kemiskinan. Karena miskin akhirnya Hafiz terpaksa bekerja di toko roti. Meskipun demikian ia sangat tergila-gila belajar. Ia berikan 1/3 dari upah kepada ibunya, 1/3 untuk gurunya, dan sisanya (1/3) lagi untuk orang-orang yang tak punya dan mengharapkan bantuannya. Dengan cara ini didapatkan pendidikan yang baik. Ia belajar menghapal Al Qur'an, oleh karena itu ia mengambil nama samaran kepenyairannya dengan nama Hafiz, seorang yang hapal Al Qur'an.
      Pada masa mudanya merupakan masa puisi dan roman. Didaerahnya ada seorang pedagang kain pengagum para penyair, senang mengumpulkan para penyair ditokonya setiap malam, dan para penyair tersebut membacakan sajak-sajaknya. Hal ini membuat rangsangan pada Hafiz untuk ikut menggubah dan membacakan sajak-sajaknya, tetapi karya-karyanya kurang memuaskan sehingga orang-orang mentertawakannya. Pada awalnya ia sangat bersedih dan hampir prustasi atas kegagalannya sebagai penyair. Tetapi ia terus berusaha sehingga syair-syairnya mulai dikagumi dan kemasyurannya mulai terkenal sampai tempat yang paling jauh. Ia mulai menerima surat-surat dari istana-istana Irak, India dan Arab, yang mengundangnya untuk mengunjungi negeri-negeri mereka.    
      Hafiz hidup sezaman dengan kaisar Timur Leng sang penakluk besar dari timur (negeri Islam bagian timur) dan pernah berjumpa dengannya di Syiraz.
      Hafiz meninggal pada 793 H dan dimakamkan di kebun buah-buahan yang hijau dipinggiran Syiraz, yang kemudian dinamakan mengikuti namanya Hafiziya.
 
Pemikiran dan Pengaruh
     Dalam syair-syair tasaufnya sangat terkenal dalam kesanggupan atau keistimewaan menggambarkan cinta kepada tuhan dan keindahan alam. Dalam dirinya terdapat pencapaian kekuatan dan daya ungkapan yang lebih besar. Dan sebagai lirikus abadi, ia secara cemerlang melukiskan segi kehidupan yang optimistis.
     Hafiz diakui secara universal sebagai salah satu dari 4 pilar persajakan Persia dan tidak tertandingi dalam lirik. Gayanya luar biasa dalam ketulusan dan kehalusan pikirannya, kekayaan serta kelemahlembutan ekspresinya. Sajak-sajaknya memiliki sedikit humor, kuplet-kupletnya meluapkan optimisme, sebagai seorang yang berwatak gembira, diamatinya kehidupan dengan senyum wajahnya. Puisinya memiliki pesona universal. Pengungkapannya yang lebih bersemangat dan mempesona. Ia menyatakan bahwa manusia tidak menyadari rahasia-rahasia alam.
    Hafiz adalah penyair muslim yang memberikan paling banyak pengaruh dalam kesusastraan dunia disamping Sa’di dan Rumi. Pada abad ke 18 M, sajak-sajaknya mengilhami bapak orientalisme Inggris, Sir William Jones, melalui terjemahan Jones inilah Hafizh mempengaruhi Lord Byron dan penyair romantik Inggris lainnya. Terjemahan sajak-sajaknya ke dalam bahasa Jerman mengilhami Goethe, sehingga Goethe menulis Diwan Barat Timur sebagai ungkapan kekagumannya pada Hafizh.
    John Payne memandang Hafizh sebagai salah seorang dari 3 penyair besar dunia bersama-sama Dante dan Shakespeare, sedang Ralph Waldo Emerson memandang Hafizh bersama Shakespeare sebagai type penyair besar yang murni yang jarang ditemui. Tidak hanya dibarat ditimurpun Hafizh sangat berpengaruh terhadap penyair besar, Rabin Dranat tagore.
 
Karya
·         Diwan-I-Hafiz
 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda