ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI TASAUF > Penyair Sufi > Fariduddin Attar

 
 
 
 
 
 
 
 

Fariduddin Attar

 
FARIDUDDIN ATTAR (w. 1222 M)
Sufi
 
     Seorang sufi dari Persia yang mendalam, penyair kecintaan terhadap Allah dan pengarang yang kaya akan khayal. Ia digelari Sauthu Salikin, yang artinya cemeti orang-orang yang mengerjakan suluk.
    Nama Abu thalib Muhammad Fariduddin al attar. Lahir di Nisyapur (antara tahun 1150-1155 M) dan meninggal di syaikhuna kira-kira tahun 1222 M.
     Ia mula-mula tertarik pada dunia tasauf pada usia yang sudah dewasa. Pada mulanya ia seorang penjual minyak wangi hingga memiliki toko sendiri. Attar sendiri berarti penyalur minyak wangi. Perubahan hidupnya, terjadi ketika di tokonya tempat berjualan, pada suatu hari didatangi oleh seorang darwisy (sufi) berbaju kumal dan compang-camping. Melihat sufi tersebut Attar mengusirnya. Tetapi sang darwisy itu berkata : “ Saya bisa saja dengan mudah pergi dari toko ini, karena yang saya miliki hanyalah jubah yang kumal ini, lainnya tidak punya. Dan bagaimana jika seandainya saudara (tuan) disuruh pergi, lantas cara saudara membawa toko beserta barang-barangnya?”
     Perkataan sang darwisy itu sangat mengesankan hatinya, sehingga mendorong dirinya untuk zuhud. Dan mulai saat itu, ia berguru kepada Syekh Rukhuddin dan Abu Sa’id al Khair. Tidak hanya itu, ia baca karya-karya kaum sufi, dan juga mengembara ke berbagai negeri Islam hingga menjadi sufi besar. Kemudian ia menetap di Syaikhuna, hingga meninggal.
     Ia banyak menulis syair, setidaknya tidak kurang dari 40 buah rangkaian syair karangannya, yang terdiri dari beribu bait, ada yang panjang dan juga yang pendek.
 
Karya
  • Pandinamah  (Book of moral Counsel / Kitab Nasehat) atau terkenal juga dengan nama Asrar Namah. Kitab ini mengupas masalah aturan-aturan tingkah laku dalam tasauf.
  • Taskiratul auliya
  • Manthiq al Thair (Percakapan Margasatwa). Sebuah kitab yang mendalam. Kitab ini menurut Hamka telah mencapai keindahan paham tasauf, yang melukiskan paham kesatuan makhluk dengan khaliknya dalam penjelasan yang indah dan mendalam. Kitab ini terdiri dari 4600 bait syair berupa matsnawi. Mula-mula sekali ucapan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Saw dan sahabatnya ( kira-kira 600 bait), setelah itu ia mengisahkan percakapan burung-burung di rimba, terdiri dari 40 maqalat dan penutup.
(By: Adeng Lukmantara)
 
Referensi:
1,  Hamka, Prof. Dr., Perkembangan Tasauf dari Abad ke Abad, Pustaka Islam,  Jakarta, 1966, Cet-6.
2.  Dahlan, Abdul Aziz (editor),   Ensiklopedia Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1996, (6 Jilid)

 

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda