ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI TASAUF > Ahli Zuhud > Abdullah bin Mubarak

 
 
 
 
 
 
 
 

Abdullah bin Mubarak

 
ABDULLAH IBN MUBARAK (118-181H/ w. 736 M)
 Zahid, Alim dalam hadits, fiqih, tarikh
 
      Seorang alim besar dalam bidang hadits, fiqih, dan tarikh (sejarah) yang berasal dari Khurasan. Ia terkenal seorang ahli ibadah,seorang zuhud, yang dermawan, dan sangat cinta terhadap jihad. Disamping seorang ahli Hadits yang terkemuka dan seorang zahid termasyhur, ia juga sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam gramatika dan kesusastraan.
     Nama: Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwaz. Para sahabatnya sering menyebutnya Abdirrahman. Ayahnya seorang Turki dan ibunya seorang Persia. Abdullah bin Mubarak telah belajar di bawah bimbingan beberapa orang guru, baik yang berada di Merv maupun di tempat-tempat lainnya.
 , Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Banyak karya-karyanya mengenai Hadits, salah satu di antaranya dengan tema “Zuhud masih dapat kita jumpai hingga waktu sekarang ini.”
    Ia pernah mengirim surat kepada sahabatnya Fudloil Bin Iyadh, karena Fudhail telah meninggalkan jihad dan mengabadikan diri hanya untuk beribadah kepada Allah ditana haram (Mekah dan Madinah).
     Kisah kedermawannya, diceritakan jika musim haji tiba, maka para sahabatnya berangakat bersama dia. Ibnu Mubarak menyuruh mengumpulkan ongkos untuk naik haji, dan ia yang mengumpulkannya, yang dimasukan ke dalam kotak dan dikuncinya. Seluruh keperluan jamaah ia yang menaggungnya. Ia berangkat dari Irak menuju Medinah dan Mekah. Ia membelikan oleh-oleh seluruh jamaah dari kedua tempat suci itu. Dan ketika sampai di Irak, maka ongkos yang ia kumpulkan ia berikan lagi kepada para jamaah.
      Karena kedermawannya konon ia lebih dihormati dari pada khalifah. Suatu kisah Khalifah berkunjung ke Kota Riqqah, kebetulan ia pun datang ke kota itu. Mendengar kedatangannya tersebut maka keluarklah penduduk menyambutnya. Hal tersebut membuat khalifah Harun Al Rasyid ingin tahu penyebabnya. Dalam bidang jihad ia ikut bersama pasukan muslimin menghadapi tentara Romawi. Dan ia meninggal tanggal 8 Ramadlan 181 H.
    
Dalam pandangannya, rusaknya kehidupan ini disebabkan oleh:
  • Penguasa zhalim yang tidak bertakhim kepada kitab Allah, dan sunnah rasulullah.
  •  Ulama Suu’ (bejad) yang keluar dari batasan syari’at, karena fatwanya menyesatkan.
  • Ahli Ibadah yang bodoh, yang mereka keluar dari sunnah Rasulullah dengan membuat ritual-ritual baru (bid’ah).

by: Adeng Lukmantara

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda