ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI TASAUF

 
 
 
 
 
 
 
 

AHLI TASAUF

 

A. MENGENAL PARA AHLI ZUHUD DALAM ISLAM AWAL

 Dalam sejarah peradaban Islam, banyak tokoh meskipun mempunyai kekayaan yang melimpah tetapi menerapkan hidup yang sangat sederhana dan kecenderungan ibadah yang melebihi orang kebanyakan. Dalam sejarah peradaban Islam tokoh yang demikian disebut dengan zahid, atau ahli zuhud.
Diantara tokoh zuhud yang banyak menjadi sandaran kaum sufi berikutnya, diantaranya:

1. Abu Dzar Al Ghifari
Abu Dzar al Ghifari adalah sahabat Rasulullah yang terkenal akan kezuhudannya. Bahkan diakhir hidupnya, ia dibuang sebagai akibat kritikannya terhadap kemegahan dunia.

2. Sa'id Ibn Musayyab (w. 94 H)
Seorang zahid di kalangan tabi'in. Ia terkenal akan kewara'aan, kezuhudan dan keluasan ilmu pengetahuannya di bidang hadits dan fiqih (hukum Islam).
Ia merupakan menantu dari sahabat Nabi dan perawi hadits, Abu Hurairah. Pada diri Sa'id terkumpul kealiman dalam bidang hadits dan fiqih disamping dalam bidang ibadah, kezuhudan dan akhlak mulia.

3. Ali Zainal Abidin (w. 95 H/ 713 M)
Penghulu ahlul bayt, seorang ahli ibadah yang tiada taranya. Ia adalah satu-satunya putra Husein bin Ali yang selamat dari pembantaian di Karbala oleh Bani Umayah.
Ia merupakan cucu dari Ali Bin Abi Thalib, anak dari Husein bin Ali, atau cicit Nabi Muhammad SAW. Ia terkenal dengan julukan zainal abidin , karena sangat ahli dalam ibadah.

4. Hasan Al Bashry (w. 110 H/ 728 M)
Seorang tabi'in terkemuka dalam ilmu pengetahuan islam ....(lihat Mengenal para pemikir sufi)

5. Sufyan ats Tsaury (w.161 H/ 778 M)
Seorang mujtahid besar, faqih, ulama hadits yang utama dan zahid yang jarang tandingannya. Ia terkenal akan pendiriannya yang kuat, tidak mau mendekati penguasa. Bahakn dalam mencari nafkah, ia berniaga (dagang) dan berusaha sendiri. Ia sangat menjaga gengsi, jangan sampai mengemis kepada para penguasa dan orang-orang.

6. Malik Bin Dinar (w. 171 H)
Tokoh zahid asal Bashrah. Ia merupakan murid dai Hasan al Bashry. Meskipun terkenal sebagai seorang ulama besar, menurut imam Asy Sya'rani, ia tetap makan dari hasil kerjanya mengambil pelepah kurma, dan dirumahnya tidak ada apa-apa kecuali mushaf al qur'an, kendi dan tikar.
Salah satu ungkapan yang terkenal darinya:" Seandainya seseorang mempelajari ilmu untuk diamalkan, ilmunya akan berkembang, tetapi kalau ia mencari ilmu bukan untuk diamalkan. Ia akan bertambah keji, sombong dan merendahkan kaum awam."

7. Abdullah ibn Mubarak (w. 181 H)
Seorang alim dalam bidang hadits, fiqih dan tarikh (sejarah) asal Khurasan. Disamping itu, ia terkenal seorang ahli ibadah, ahli zuhud, dermawan dan sangat cinta jihad.
Karena kedermawanannya, ia kononlebih dihormati daripada khalifah. Hal ini terjadi ketika Khalifah Harun al Rasyid yang terkenal berkunjung ke kota Riqqah. Orang menyambutnya begitu antusias daripada kedatangan sang khalifah yang terkenal itu.
Salah satu pemikirannya ang terpenting, menurutnya rusaknya kehidupan itu disebabkan 3 perkara:

  • Penguasa zhalim angtidak bertakhim kepada kitab Allah dan Sunnah Rasulullah
  • Ulama Suu' (ulama bejad) yang keluar dari batasan syari'at, karena fatwanya yang menyesatkan.
  • Ahli ibadah yang bodoh, yang mereka keluar dari sunnah Rasulullah dengan membuat ritual-ritual baru (bid'ah).

8. Rabi'ah al Adawiyah (w. 185 H/ 796 M)
(lihat Mengenal para pemikir sufi)

9. Fudhail bin 'Ayadh (w. 197 H)
Seorang zahid besar yang hidup di era Khalifah Harun al Rasyid dari dinasti Abbasiah di Baghdad. Dalam bidang hadits ia dianggap imam sunnah yang baik, yang banyak diambil haditsnya oleh Imam Al Bukhary, Nasa'i dan Muslim.
Pada awalnya ia seorang penjahat besar, seorang durjana yang tersesat nafsu muda. Tetapi ketika, ia sedang mengintip, mendengar seorang perempuan muda sedang membaca Al Qur'an yang artinya berbunyi:" Belumlah datang masanya bagi orang yang beriman akan menundukan hatinya, karena ingat akan tuhan, dan kebenaran yang diturunkannya.?"
Mendengar ayat tersebut, gemetarlah tubuhnya, dan akhirnya ia tobat, dan kemudian berguru kepada Ja'far ash Shadiq, dan menjadi zahid besar yang sangat dihormati oleh Khalifah Harun ar Rasyid.

10. Abu Al Atahiyah (w. 828 M)
Seorang penyair terkemuka yang hidup sezaman dengan penyair jenius, Abu Nawas. Sajak-sajaknya sangat unik dan filosofis.
Ia dikenal sebagai penyair zuhud yang terkenal di era Khalifah Harun al Rasyid, dari dinasti Abbasiyah di Baghdad, dan sering mengingatkan khalifah apabila lalai.
Apabila sang khalifah sudah sampai kegembiraan sehingga lupa akan kewajibannya dan kemiskinan rakyat, ia dengan sairnya memberikan peringatan-peringatan, sehingga kadang Sang Khalifah tersedu-sedu mendengarkan ajaran yang diberikannya,

11. Ibrahim ibn Adham (w. 894 M)
Seorang sufi yang mengambil jalan revolusioner dari seorang penguasa yang berlimpah ruah kekayaan dan kesenangan menjadi seorang papa yang hanya mengabdi pada tuhan-Nya.
Pada awalnya ia seorang raja (penguasa) di Balkh ang selalu bergelimang dengan harta dan kemewahan. Tetapi pada suatu hari pembantunya yang membersihkan peraduannya (tempat tidur raja) ketiduran diperaduannya tersebut, Ketika hal ini diketahui oleh Ibrahim ibn Adham (sang raja), maka ia sangat marah sekali, dan sang pembantupun mendapat hukuman cambukan berkali-kali.
Pada awalnya sipembatu itu ketakutam, tetapi dengan lugas ia berkata:" Tuanku hamba sukarlah sekali tidur, walau hanya sekejap diperaduan tuanku, tatkala hamba merasakan 3 atau 4 kali cambukan mendera tubuh hamba yang lemah ini. Tidak hamba bayangkan hukuman apa yang tuan peroleh dari Tuahn, karena meniduri peradun ini setiap malam."
Mendengar perkataan sang pembatu itu ia terkesima dan membukakan hatinya. Maka ia kemudian meninggalkan semua kemewahannhya, dan memulai hidup ketat dan berguru Abu Yazid al Bustami.
Setelah selesai berguru, ia kemudian pergi ke Siri dengan mencari nafkah dengan bekerja sendiri untuk membiayai hidupnya.

12. Dan lain-lain.

 

B. DARI AHLI ZUHUD KE PEMIKIRAN SUFI

Pada kelanjutannya tindakan dan pemikiran orang yang mendedikasikan pada kezuhudan dalam hidup, telah menjelma  menjadi suatu kelompok pemikiran yang disebut dengan jallan  tasauf, dan orangnya kemudian  dikenal dengan kaum sufi,

Orang orang yang mendedikasikan pemikiran tasauf diantaranya:

1. Hasan al Bashry (wafat. 110 H/ 728 M)
Seorang tabi'in terkemuka dalam berbagai ilmu pengetahuan islam, terkenal kealimannya dalam bidang hadits, terkemuka juga dalam bidang tasauf. Ia berasal dari Bashrah, dan dipandang sebagai pemuka pemikir sufi.
Ia adalah zahid yang sangat masur dikalangan tabi'in, dan dipandang sebagai pemuka paham i'tizal. Beliaulah yang mula-mula menyediakan waktunya untuk memperbincangkan ilmu-ilmu tentang kebatinan, kemurnian akhlak, dan usaha untuk mensucikan jiwa.
Pemikirannyya dalam bidang sufi adalah zhud terhadap dunia, menolak akan kemegahannya semata menuju Allah, tawakal, khauf (takut) dan rajaa' (penuh harapan). Menurutnya antara khauf dan rajaa' tidak boleh terpisah, jangan hanya semata-mata takut pada Allah, tetapi ikutilah ketakutan itu dengan pengharapan, takut akan murkanya, tetapi mengharap akan karunianya.

2. Rabi'ah al Adawiyah (wafat. 185 H/796 M)
Seorang zahid wanita terkemuka, yang berasal dari Bashrah. Ia sezaman dengan intelektual terkemuka, sufyan ats Tsauri. Ia terkenal dalam kalangan sufi, karena dialah yang pertama kali mengembangkan zuhud karena cinta.
Ia telah mengembangkan tingkat kehidupan zuhud yang direntangkan Imam Hasan al Bashry, yaitu khauf (takut) dan rajaa' (pengharapan), dinaikan olehnya kepada zuhud karena cinta. Cinta yang suci lebih tinggi daripada takut dan pengharapan, karena cinta suci murni, tidak mengharap apa-apa.

3.Ma'ruf al Karahi (w.200 H/ 816 M)
Seorang sufi besar dari Baghdad. Dalam bidang tasauf ia menambah hasil peroleh jiwa dari cinta, yaitu Thumaninah (ketentraman jiwa) karena cinta. Ketentraman jiwa itulah tujuan, karena kekayaan yang sebenarnya dan yang kekal, bukanlah harta benda, tetapi kekayaan hati. Dan kecilah segala urusan kebendaan dalam penglihatan mata hati.
Dia pula yang memberi kaiadah tasauf :" Tasauf adalah mengambil hakikat, putus asa dari apa yang di tangan sesama makhluk. Mabuk karena rindu dan cinta kepada tuhan, dan belum sadar dari kemabukan itu sebelum bertemu dia."

4. Abu Yazid al Bustami (w.261 H/877 M)
Seorang sufi besar dalam peradaban islam, dan dikenal sebagai pemuka thaifuriyah (thaifurisme). Ia terkenal akan ketinggian ilmunya, ahli fiqih mumpuni, tetapi karena kezuhudannya, ia lebih dikenal sebagai seorang sufi.
Pemikirannya dalam tasauf, ia menggabungkan penolakan kesenangan dunia yang ketat dan kepatuhan pada hukum agama dengan gaya intelektual yang luar biasa, serta renungan yang imajinatif.
Ia adalah orang ang pertama kali mencetuskan teori ang lebih inti lagi tentang hamba dan tuhan. Ia secara terang-terangan mengungkapkan as sakr (mabuk ketuhanan), al isq (rindu dendam) dan teori Al fana' wal baqa' (peleburan diri untuk mencapai keabadain dalam diri ilahi). Hal ini mengantarkanna kepada teori al ittihad (bersatunya hamba dan tuhan) atauh hulul. Seperti salah satu ungkapannnya:" Laisa fi'l jubbati ilallah." , yang berarti " yang ada dalam jubah ini hanya allah.
Bagi Al Bustami, seorang sufi yang sudah begitu dekat dengan tuhan akan lebur bersatu dengan-Nya, ketika itu yang diucapkan bukan lagi perkataannya sendiri melainkan perkataan tuhan.

5. Harits al Muhasibi (w.243 H/ 857 M)
Seorang sufi besar pendiri madrasah baghdadiyah dalam bidang tasauf. Ia mengembangkan psikologi moral yang paling ketat dan berpengaruh dalam tradisi tasauf.
Nama sebenarnya Abdullah al Harits ibn Asad al Bashri, tetapi terkenal dengan nama Al muhasibi, suatu kata yang berasal dari suatu konsep muhasiba yang berarti orang yang senantiasa menghitung atau memeriksa hati nurani, ang diakini Al Muhasibi seharusnya mengikat setiap orang. Seperti kata hikmah: " Hasibu anfusakum qabla antu hasibu" (Hitunglah (hisablah) kamu sendiri, sebelum kamu dihitung (dihisab)."
Tasauf al muhasibi didasarkan pada 2 pilar, yaitu menghisab diri sendiri (muhasabah) dan sekaligus menjadi gelarnya, dan kesediaan menanggung derita dan musibah demi tuhan, kekasih utamanya. Ujian keimanan yang sejati menurutnya ialah kerelaan untuk mati dan ketabahan (shabr) menanggung penderitaan ang sangat menyiksa.

6. Yahya bin Mu'adh ar razi (w.258 M)
Seorang sufi sezaman dengan Abu azid al Bustami. Ia banyak sekali membicarakan tentang fana, tentang wajd (rindu) dan sakr (mabuk) ketuhanan.
Yahya telah memulai memakai ilmu pengetahuan dalam menegakan paham tasauf, yang merupakan bahan terpenting ahli tasauf yang datang kemudian.
Pokok ajarannya ialah kelanjutan dari tasauf Rabi'ah al Adawiah yaitu cinta. Sari cintanya adalah tunduk dan menyerah bulat kepada Allah. Ketundukan dan penyerahan yang membuat jiwa senantiasa mendorong hendak mencapai derajat tinggi.

7. Zin Nun Al Mishri (w. 246 H/ 860 M)
Seorang sufi besar dari Mesir dan merupakan sufi pertama yang banyak memperkenalkan konsep ma'rifah dalam ilmu tasauf.
Ia adalah orang yang banyak sekali menambahkan jalan buat menuju Allah. Tujuannya adalah mencintai Allah, membenci yang sedikit, menuruti garis perintah yang diturunkan dan takut akan terpaling jalan,

8. Abul Hasan Surri assaqthi (w.253 H/ 874 M))
ahli sufi dari Baghdad, pemuka assuqtiyah, dan murid dari Ma'ruf al Kharahi (w.816 M). Ia adalah ulama berpengetahuan luas, yang sangat dimuliakan oleh orang Irak waktu itu.
Pada mulanya, ia seorang pedagang besar, kemudian berhenti berniaga, bertafakur, beribadah dan memperdalam tasauf.
Assaqti dianggap orang pertama kali mengupas soal tauhid dari segi tasauf, ang mula-mula memperkatakan tentang hakekat. Dan darinyalah keluaar ajaran maqamat (tingkat-tingkat) pengalaman yang dituruti jiwa dan tentang ahwaal.

9. Sahl bin Abdullah al Tustari (w. 273 H)
Seorang sufi yang pertama kali menulis tafsir Alqur'an dalam pandangan tasauf. Ia juga peletak dasar ajaran madzhab tasauf Salimiah.
Setidaknya ada 2 konstribusi Sahl yang paling orsinil yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran sufi berikutnya, yaitu teorinya mengenai perjanjian prakeabadian (mitsaq) dan nur muhammad.

10. Amr Makki (w.291 H)
Seorang sufi yang keras dan sangat menyukai syair kegirangan. Pada mulanyaa ia seorang muhadist (ahli hadits) yang keras, murid dari Imam Al Bukhary, dan murid 2 ulama kenamaan mesir.
Diantara ajarannya antara lain: penesalan atas dosa merupakan suatu keharusan (wajib); Tidak ada situasi batin manusia (mabuk spiritual, sakr, dan lain-lain) yang berharga, hanya pencarian keras dari praktek-praktek ibadah.

11. Aljunaid (w.279 H)
Seorang sufi besar dari Baghdad yang terkenal dalam sejarah islam dan merupakan salah seorang yang paling berepengaruh terhadap perkembangan tasaauf era selanjutnya.
Aljunaid mengikuti gurunya, Al Muhasibi, yang berusaha menggabungkan antara sunnah dan tasauf. Ia selalu menghindari benturan dengan keyakinan ahlusunnah. Ia selalu menghindari benturan dengan keyakinan ahli sunnah, mengandalkan senjata sama (dalam membela dirinya dan kawan-kawanya) ketika mempertahankan kesufiannya.

12. Abu Husain al Nuri al Baghawi (w. 295 H/ 908 M)
Salah seorang sufi terkenal, yang sajak-sajak mistisnya sangat indah. Ia merupakan pemuka nuriyah dan kawan setia junaid, dan murid Surri as Saqti. Ia digelari Al Nuri karena ia mempunyai wajah yang dapat memancarkan sinar terang walau dalam keadaan gelap.
Nuri mengajarkan agar mengingat panggilan tuhan dalam setiap fenomena, dalam setiap keadaan yang menyita perhatian, dan merespon-Nya dengan Labbayka kepada-Mu.
Nuri adalah orang pertama yang berkhutbah tentang ciri cinta murni (muhabbah), kesungguhan cinta keimanan yang diwujudkan dalam ibadah (tanpa harapan mendapatkan imbalan).

13. Ibn 'Ata (w.309 H)
Salah seorang sufi yang pertama (setelah sahl Al Tustary) yang menusun al qur'an dalam tinjauan tasauf. Ia tinggal di Baghdad dan dibesarkan dalam lingkungan madzhab Ha,bali ang keras.
Kepribadian Ibn 'Ata ditunjukan oleh teologi moral praktisnya. Ia mengembangkan lebih jauh apa yang telah ditawarkan oleh Nuri (pemuka Nuriyah) mengenai subhah dan itsar ( memuja Allah dan mementingkan orang lain ketimbang diri sendiri).
Ia mendefinisikan esensi kehidupan tasauf dalam dimensi sosial, sebagai pertolongan persaudaraan yang saling menguntungkan, karya-karya dan substitusi mistik (tasauf), semuanya menggambarkan jalan ang membimbing kesatuan dengan tuhan.

14. Husein bin Mansur Al Hallaj (w. 309 H/ 921 M)
Seorang sufi terkenal penganut wihdatul wujud yang extrim, yang kemudian mendapat hukuman karena dianggap bertentangan dengan syari'at.
Menurut Hamka ada 3 intisari dari ajaran Al Hallaj, yaitu:
  • Hulul, yaitu ketuhanan (lahut) menjelma ke dalam diri insan (nasut)
  • Al Haqiqatul Muhammadiyah, yaitu nur Muhammad sebagai asal usul segala kejadian didalam alam.
  • Kesatuan Agama, nama agama yang berbagai macam hanyalah perbedaan nama dari hakekat yang satu saja.
15. Ibn Masarah ( w. 319 H/ 931 M)
Seorang sufi besar dari Andalusia (Spanyol Islam), yang mempunyai perhatian besar terhadap filsafat. Ia terkenal sebagai seorang sufi yang mempunyai kecenderungan sebagai seorang filosof yang lebih besar daripada sufi. Ia adalah seorang filosof naturalis ang mengemas pemikirannya dibalik konsep ibadah dan kesalehan asketik (zuhd).
Pemikiran terpenting Ibn Masarah, menurutnya jalan keselamatan adalah penucian diri, kezuhudan , tindakan memprioritaskan akal atas panca indra dan berusaha kembali kepada cinta ang merupakan tokoh utama kehadiran manusia di muka bumi.

16. Abu Bakar Syibli (w. 334 H)
Seorang sufi yang tidak pernah mengeluh menghadapi hidup, seorang sufi yang gembira. Pada awalnya ia pejabat negara, tetapi kemudian mengundurkan diri.
Ia merupakan sufi yang zuhud, wara' dan taqwa, disertai denngan pndangannya ang teguh dalam menghadapi dan memecahkan persoalan yang didapinya.
Pandanganyna tentang hidup, menurutnya:" Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh di tepi jalan , dilempar orang dengan batu, lalu dibalasnya dengan buah." 

 

 17. Dan lain-lain

 

C. PENULIS BUKU SEJARAH  DAN PEMIKIRAN AHLI TASAUF

Disamping pemikir sufi, ada juga orang yang menulis tentang teori tasauf, dan sejarah para ahli tasauf. Diantara penulis-penulis teori dan buku tasauf tersebut, antara lain:

1. Abu Nasr As Sarraj At Thusi (w. 378 H/ 988 M)
Seorang penulis kitab besar dan fundamentalis dalam tasauf, yang berjudul Al Luma. Dalam kitabnya ini, ia membahas tentang 7 maqamat (tingkatan) sepanjang jalan tasauf.
Ia memulai pembahasannya dengan pemahaman konvensional mengenai maqam biasa, kemudian memperlakukan versi kedua yang dipraktekan oleh yang khusus (al Khashsh) dan kemudian terakhir dengan versi puncak yang dipraktekan oleh para arifin (al 'arif).

2. Abu Thalib Al Makki (w.386 H)
Seorang sufi penulis 2 kitab sufi terkenal. Yang pertama adalah kitab 'Ilm al Qulub, yang sekarang ada di perpustakaan Kairo Mesir. Dan yang kedua adalah kitab Qutul Qulub fi Mu'amalatil Mahbub, suatu kitab yang sangat terkenal dalam dunia tasauf, dan menjadi panduan dan inspirasi bagi penulis tasauf yang datang kemudian, seperti Imam Al Ghazali.

3. Abdurrahman As Sulami Al Azdy (w. 412 H)
Seorang sufi yang disegani, zuhd dan wara'. Ia juga merupakan seorang sufi yang menulis kitab tafsir dalam tinjauan sufi (Kitab Haqaiq at Tafsir). Ia juga merupakan penulis kitab Thabaqat as Shufiyah, suatu kitab yang membahas sekitar 100 orang tokoh sufi terkemuka dizamannya. Kitab ini sangat berpengaruh pada sufi berikutnya seperti: Abu Nu'aim, Al Qusyairy dan lain-lain.

4. Abul Hasan al Hujwiri (w.465 H/ 1072 M)
Seorang sufi yang memainkan peranan penting dalam kehidupan spritual di anak benua India (Pakistan, India, Afghanistan.
Karya Al Hujwiri yang terkenal adalah Kasyful Mahjub. Kitab ini merupakan kitab pertama dalam bahasa persia yang membahas tasauf. Dalam kitab ini ia merinci pengalaman spiritualnya tentang kasf (pengalaman rohaninya)

5. Dan lain-lain

(lihat adenglukmantara@blogspot.cm)
 

Submenu

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda