ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI SEJARAH, GEOGRAFI & ILMU SOSIAL > Ahli Sejarah & Sosiologi > Ibn Khaldun

 
 
 
 
 
 
 
 

Ibn Khaldun

 

IBN KHALDUN (1332-1406 M)
Ahli sejarah, ahli sosiologi
 
  Seorang ahli hukum, ahli sejarah dan sosial kemasyarakatan (sosiologi), dan orang yang paling layak disebut sebagai bapak sosiologi modern.
     Nama Abdurrahman Abu Zaid Waliuddin Ibn Khaldun. Nama kecilnya, Abdurrahman, nama panggilannya Abu Zaid (nama anak sulungnya, Zaid), gelarnya Waliuddin (gelar ini diberikan ketika menjabat qadli (hakim) di Mesir), dan nama populernya Ibn Khaldun, yang dihubungkan dengan moyangnya yang ke-9, yaitu Khalid ibn Utsman (cucu sahabat nabi, Wail Hujr dari bani Kindah yang berasal dari Handramaut), yang pertama kali dari marga ini memasuki Andalusia bersama orang-orang Arab penakluk pada awal abad 3 H / 9 M dan anak cucu Khalid ini membentuk keluarga besar yang bernama Bani Khaldun, bertempat tinggal di Qarmunah dan pindah ke Isybilia (Sevilla).
     Ayahnya, Abu Abdillah Muhammad (w. 749 H / 1339 M), mempunyai 5 putra, yaitu Abdurrahman (Ibn Khaldun), Umar, Musa, Yahya dan Muhammad. Diantara yang selalu berjalan beriring dengan Ibn Khaldun adalah Yahya (Abu Zakaria Yahya, yang kelak menduduki jabatan mentri, Yahya ini mengarang buku Bughyatur Ruwwad fi Akhbari Bani Abdi Wa’ad, yang membicarakan sejarah salah satu negeri maghrib, yaitu negeri Bani Abdil Wa’ad. Tetapi banyak orang berpendapat bahwa buku ini merupakan karya Ibn Khaldun). Ayahnya tidak terjun ke dunia politik, tetapi lebih cenderung pada dunia ilmu pengetahuan dan tasauf. Ia (ayahnya) meninggal ketika Ibn Khaldun berusia 18 tahun.
     Ibn Khaldun lahir di Tunisia, awal Ramadhan 732 H / 27 Mei 1333 M (rumah tempat kelahirannya masih utuh hingga kini, di jalan Turbahbay, dan menjadi sekolah Idarah ‘Ulya). Waktu kecil ia mulai menghapal Al Qur’an dan mempelajari tajwidnya. Ia mempelajari qira’at 7 dan juga qira’at Ya’qub. Ia juga mempelajari ilmu-ilmu syari’at: tafsir, hadits, ushul, tauhid, dan fiqih Maliki (fiqih resmi masyarakat Maghribi). Disamping itu ia mempelajari ilmu-ilmu bahasa (nahwu, sharaf, balaghah dan kesusastraan), kemudian juga mempelajari ilmu logika, filsafat serta ilmu-ilmu fisika dan matematika. Dalam semua bidang studinya, ia membuat takjub guru-gurunya. Dan salah satu gurunya yang berpengaruh adalah Muhammad bin Abdul Muhaimin bin abdil Muhaimin al Hadlrami.
     Pada tahun 749 H, studinya terhenti karena terjangkitnya penyakit Pes di sebagian besar belahan dunia timur dan barat, meliputi Samarkand, Maghribi hingga Italia. Disebutkan, di Tunis, dimana ia bertempat tinggal, ketika itu hampir 1200 jiwa meninggal. Di tempat ini, ia juga kehilangan gurunya, Ibn Abdil Muhaimin. Dari kejadian ini banyak guru dan syekh-syekh yang lain menyelamatkan diri menuju maghrib jauh (Maroko) bersama sultan Abul Hasan, penguasa daulah Bani Maryin waktu itu (750 H). Kejadian ini menyebabkan ia tidak mampu melanjutkan studinya.
     Pada usia 19 tahun (751 H), ia mulai terjun ke dunia politik, dan mulai saat itu ia sering berpindah-pindah (± 25 tahun / 751-776 H). Pada usia 21 tahun ia diangkat menjadi sekretaris kesultanan dinasti Hafs al Fadhl di Tunisia, tetapi kemudin terhenti, karena penguasa yang didukungnya kalah perang.
    Pada tahun 753 H, ia lari ke Baskarah, sebuh kota di Maghrib tengah (sekarang Aljazair). Disana ia berusaha bertemu dengan sultan Abu Anan, penguasa Bani Maryin yang sedang berada di Tilmisan (ibukota maghrib tengah) dan berusaha untuk menarik simpati sultan. Pada tahun 755 H, ia diangkat menjadi anggota majelis ilmu pengetahuan dan setahun kemudian menjadi sekretaris sultan. Dengan 2 kali diselingi pemenjaraannya, jabatan itu diduduki sampai tahun 763 H (1316-1362 M), ketika wazir Umar murka kepadanya dan memerintahkan untuk meninggalkan negeri itu.
     Pada tahun 764 H, ia lari ke Granada, Spanyol, disini oleh Bani Ahmar diberi tugas sebagai duta di Castilla (sebuah kerajaan yang berpenduduk kristen yang berpusat di Sevilla) yang membuahkan hasil yang gemilang. Tetapi hubungannya dengan sultan retak, sehingga pada tahun 766 H/ 1364 M, ia pergi ke Bijayah (pesisir laut tengah di Aljazair) atas undangan Bani Hafs, Abu Abdullah Muhammad, yang kemudian mengangkatnya menjadi perdana mentri dan khatib.
      Setahun kemudian Bijayah jatuh pada sultan Abul Abbas Ahmad, gubernur Qasanthinah (sebuah kota di Aljazair). Pada penguasa baru itu Ibn Khaldun menduduki jabatan yang sama, tetapi tidak lama setelah itu ia pergi ke Baskarah. Dari Baskarah ia berkirim surat kepada Abu Hammu, sultan Tilmisan dari Bani Abdil Wad. Kepada sultan ia menjanjikan dukungan. Oleh sultan kemudian ia diberi jabatan yang penting, tetapi ia menolaknya. Sebab ia ingin melanjutkan studinya yang telah lama terhenti. Tetapi ia bersedia mengkampanyekan mendukung Abu Hammu. Setelah berhasil ia berangkat ke Tilmissan.
     Tatakala Abu Hammu ditaklukan sultan Abdul Aziz (Bani Marin) Ibn Khaldun beralih berpihak kepda sultan Abdul Aziz dan tinggal di Bashkarah. Tetapi dalam waktu singkat, Tilmisan kembali direbut Abu Hammu, sehingga Ibn Khaldun menyelamatkan diri ke Fez (774 H).
     Ketika Fez direbut Sultan Abul Abbas Ahmad (776 H), Ibn Khaldun pergi ke Granada untuk kedua kalinya. Tetapi sultan Abul Abbas Ahmad melarangnya tinggal di daerah kekuasannya, akhirnya Ibn Khaldun kembali ke Tilmisan. Sesampai di Tilmisan ia masih diterima baik oleh Abu Hammu, meskipun ia sudah bersalah pada penguasa Tilmisan itu. Ia berjanji untuk tidak terjun lagi ke dunia politik, dan pada masa itulah ia memasuki pase / masa mengarangnya (akhir 776-784 H) 8 tahun, empat tahun pertama dijalaninya dan menyepi di Benteng (qal’at) Ibn Salamah, dan sisanya di Tunisia (tempat kelahirnnya) untuk studi pustaka (tahun 780H), dengan menelaah beberapa kitab sebagai bahan koreksi atas bukunya Al Ibar.
     Pada tahun 784 H, ia pergi ke Kairo, Mesir. Disana kedatangannya disambut oleh para ulama dan penduduk setempat dengan suka cita. Setelah itu, di Al Azhar ia membentuk sebuah halaqah, memberi ceramah ilmiyah dan kuliah. Dua tahun setelah itu, sultan Mesir, Az Zhahir Burquq (dari dinasti Mamluk) menunjuknya menjadi guru besar fiqih Madzhab Maliki di madrasah Qamhiyah dan juga hakim / qadli. Tetapi setahun kemudian keluarganya mendapat musibah. Kapal yang membawa istri dan anak-anaknya tenggelam setelah merapat di Iskandariyah. Maka ia mengundurkan diri dari jabatannya. Tetapi sultan Mesir mengangkatnya kembali menjadi guru besar dibeberapa madrasah termasuk di Khanqah Beibers, semacam tarekat.
     Tahun 789 / 1387 M, ia pergi menunaikan ibadah haji, lalu kembali ke Kairo. Setahun berikutnya sultan mengangkatnya menjadi hakim agung, tetapi tidak lama kemudian ia mengundurkan diri.
     Pada tahun 803 H / 1401 M, ia ikut menemani sultan ke Damaskus dalam satu pasukan untuk menahan serangan pasukan Timur Leng, sang penakluk mongol muslim. Ia sempat bertemu dengan timur Leng di luar garis perbatasan Damaskus. Sang penakluk itu menyambut ilmuwan besar ini dengan antusias dan menggemukakan niatnya untuk mengangkat Ibn Khaldun sebagai pejabat pemerintahannya. Ibn Khaldun sendiri kemudian memilih kembali ke Kairo. Setelah kembali, sultan Mesir kemudian mengangkatnya kembali menjadi hakim agung, dan jabatan itu diembannya hingga ia meninggal.
 
Perhatian Kaum Muslimin terhadap Ibn Khaldun
     Ibn Khaldun begitu dihormati di negara barat, tetapi dalam masa yang cukup lama, bangsa Arab (dan kaum muslimin secara keseluruhan) ragu-ragu memberikan penghargaan kepada kelebihan Ibn Khaldun dalam bidang ilmiyah. Mereka (bangsa Arab) merasa sakit hati kepadanya. Ibn khaldun oleh sebagian orang Arab dianggap telah menghina bangsa Arab, sehingga mentri pendidikan Irak pada tahun 1939 M, menganjurkan penggalian kuburan Ibn Khaldun dan pembakaran buku karangannya.
     Sangat sedikit diantara bangsa Arab yang terpelajar mengakui kelebihan Ibn Khaldun sebelum abad 20 M. Yang paling pertama mengakuinya, adalah sejarawan Al Maqrizi (muridnya) pada abad 15 M, kemudian Muhammad Abduh pada akhir abad 19 M & awal abad 20 M, yang dibukakan oleh barat pada saat ia berada di Eropa, untuk memandang penting kedudukan Ibn Khaldun yang memiliki kelebihan diatas Mostesqieu. Thaha Husein adalah orang Arab pertama kali yang mengajarkan kajian Ibn Khaldun sebagai kajian ilmiyah. Dan sarjana muslim modern yang mencoba mengembangkan teori Ibn Khaldun dalam ilmu sosial kontemporer adalah Malek Bennabi (Malik bin Nabiy) (w. 1973 M), meskipun ia berlatar belakang pendidikannya sebagai seorang insinyur.
 
Pemikiran
    Ibn Khaldun merupakan pemikir multidisiplin ilmu, banyak gagasan tentang sosial kemasyarakatan, pararel bahkan dapat dikatakan banyak mempengaruhi pemikir / ilmuwan barat dikemudian hari. Sebagai salah seorang tokoh besar dalam sejarah pemikiran Islam, ia menduduki posisi ganda dalam konteks ini. Selain sebagai perangkum ilmu-ilmu keislaman (termasuk filsafat dan tasauf) dalam karyanya yang terkenal Muqadimah, ia juga penulis satu-satunya tentang filsafat sejarah Islam. Konstribusi positif Ibn Khaldun terletak pada elaborasinya atas ilmu peradaban yang menandai babak baru dalam sejarah pemikiran Arab (Islam) ataupun filsafat sejarah yang dibangun atas dasar dialektika perkembangan atau perubahan sosial.
    Menurutnya, hal yang vital bagi kebangkitan dan kemajuan suatu peradaban adalah apa yang disebutnya ashobiyah. Istilah ini sudah digunakan sejak masa pra-Islam tetapi dalam konotasi yang negatif, yaitu fanatisme kekabilahan yang sempit, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan mereka sendiri. Ibn Khaldun mendekatinya dari sudut pandang lain, ia berupaya mendapatkan titik temu antara prinsip islam tentang ukhuwah dengan ashobiyah, seperti rasa solidaritas, kesetiaan kelompok atau nasionalisme.
    Ia juga membahas tentang hubungan kemajuan sains dan kemakmuran suatu bangsa. Dalam bukunya (Al Muqadimah) ia mendiskusikan faktor-faktor yang mendasar bagi kemunculan sains dan profesi-profesi lainnya serta faktor-faktor yang menyebabkan kemundurannya. Ia mengatakan bahwa:” Profesi-profesi akan dikuasai dan menjadi subur, tatkala akan kebutuhannya meningkat…, jika sebuah profesi banyak dibutuhkan maka orang akan berusaha untuk mempelajarinya. Sementara itu, jika tidak ada kebutuhan terhadap suatu profesi, maka profesi itu akan diabaikan dan menghilang.” Dikatakan pula, negara merupakan pasar terbesar dari suatu profesi, kebutuhan negara begitu besarnya sehingga kebutuhan individu-individu per pribadi terlampau kecil bila dibandingkan dengannya. Ini berarti, ketika negara hancur / runtuh, maka seluruh profesi juga mengalami kemunduran.
    Tentang hubungan antara profesi dengan kehancuran negara, ia menyatakan bahwa wilayah-wilayah yang mendekati kehancuran akan sepi dari profesi-profesi. Ketika suatu wilayah melemah, kemakmurannya hilang dan jumlah penduduknya menurun, maka profesi-profesi akan berkurang, karena tidak dapat lagi dihasilkan sampai akhirnya menghilang.
    Mengenai sains, ia mengatakan bahwa sains meningkat dengan meningkatnya kemakmuran dan tingginya peradaban suatu wilayah. Ia mengatakan:” Mari kita pertimbangkan apa yang telah kita ketahui kondisi-kondisi di Baghdad, Cordoba, Al Qairawan, Al Bashrah dan al Kufa. Ketika kota-kota tersebut menjadi banyak penduduknya dan menjadi makmur pada abad-abad pertama Islam, dan peradaban berdiri megah di dalamnya, pusat sains tumbuh dan melimpah, dan para ilmuwan takjub dengan terminolog dan tekhnikalis dari pendidikan dan berbagai sains, dan dalam memikirkan berbagai masalah dan seni sehingga mengungguli pendahulu-pendahulu mereka dan melampaui orang-orang yang datang kemudian. Tetapi ketika kemakmuran kota-kota ini dan peradabannya menurun, dan ketika populasinya tersebar, permadani itu – dengan segala sesuatu yang berada diatasnya – terbalik sama sekali dan sains serta pendidikan hilang darinya dan berpindah ke wilayah-wilayah Islam lainnya.”
    Ketika membahas sains-sains rasional, Ibn Khaldun memberikan analisis yang serupa. Ia mengatakan ketika imperium Islam telah didirikan dan peradaban Islam melampaui yang lainnya, kaum muslimin dengan penuh kegairahan mempelajari sains-sains rasional orang-orang terdahulu sampai mereka mengunggulinya. Ia mengatakan pada masanya (paruh abad 14 M) sains-sains rasional di Maghribi dan Andalusia rendah, sementara wilayah-wilayah Islam belahan timur, khususnya di Persia dan membentang hingga Transoxiana, sains-sains rasional tumbuh subur akibat kemakmuran wilayah-wilayah ini dan kemapanan peradaban mereka. Ia pun sadar bahwa pada zamannya, sains-sains rasional di Roma dan Eropa umumnya sedang sangat diminati dan bahwa di negara-negara tersebut terdapat komunitas-komunitas ilmiyah yang aktif.
    Pemikiran Ibn Khaldun ini banyak memberikan inspirasi bagi sosiolog generasi selanjutnya.
 
Karya
·         At Ta’rif bi Ibn Khaldun wa Rihlatihi Gharban wa Syarqan, merupakn karyanya tentang autobiografinya.
·         Syifa’ al Sail, merupakan risalah mistiknya (tasauf). Dalam buku ini ia secara terang-terangan mengungkapkan sikap hormatnya terhadap tasauf.
·         Kitab al Ibar atau lengkapnya Kitabu’l Ibar wa Diiwanul Mubtada’ wal Khabar, fi Ayyami l’Arab wal Ajam wal Barbar, wa man ‘Asharahum min Dzawis sulthanil Akbar. Cetakan Bulaq yang terbit tahun 1284 / 1868 M, terdiri dari 7 jilid, dan jilid pertama berisi Muqadimah yang sangat terkenal.

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda