ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI SEJARAH, GEOGRAFI & ILMU SOSIAL >  Ahli Geografi & Penjelajah >  Ibn Batutah

 
 
 
 
 
 
 
 

 Ibn Batutah

 

 

IBN BATUTAH (1304-1377 M)
Pengembara / Pelancong
 
     “ Aku memang – segala puji bagi Allah – telah mencapai hasratku di dunia ini, yakni bepergian ke seluruh dunia, dan aku telah mencapai apa yang orang lain, sepanjang pengetahuanku, belum pernah mencapainya.” (Ibn Batutah)
 
     Pengembara terbesar dan terpanjang sebelum penemuan mesin uap. Ia telah menjelajahi daratan dan mengarungi lautan 75000 mil, jauh lebih panjang dari perjalanan marcopolo atau pengelana manapun sebelum penemuan mesin uap. Ia tidak kurang dari 3 x melakukan pengembaraan ke seluruh dunia dengan memakan waktu 29 tahun
    Nama Abu Abdullah Muhammad Ibn Abdullah Al Lawati Al Tanj, atau lebih dikenal dengan Ibn Batutah. Ia lahir di Tangiers (Afrika Utara), keturunan suku Barbar di Lawata. Ia mendapat pendidikan agama dan sastra. Ketika usianya belum genap 21 tahun ia melakukan perjalanan dan pengembaraan dengan meninggalkan tangier pada 14 Juni 1325 dan kembali pada tahun 1354 M. Ia mendapat sambutan hangat dari penguasa dinegerinya (Sultan Abu Enan dari Maroko), dan kemudian diangkat menjadi kadi (hakim).
     Atas permintaan sultan Abu Enan, Ibn Batutah mendiktekan cerita perjalanannya kepada juru tulis sultan, Ibn Juzay (seorang teolog Andalusia), yang kemudian dibukukan dengan judul Tuhfat al Nuzzarfi Ghara’ib Al amsar Wa Aja’ib Al asfar (Hadiah buat para pengamat yang meneliti keajaiban-keajaiban kota dan keanehan-keanehan perjalanan). Buku ini kemudian dikenal umum dengan nama Rihlat Ibn Batuta, atau Rihla (perjalanan).  Karya ini diselesaikan oleh Ibn Juzay pada 13 Desember 1355 M, dengan tulisan tangan, yang kemudian disalin pada bulan Februari 1356 M.   
 
Perjalanan dan Pengembaraannya
     Pengembaraannya pada awalnya didorong oleh kewajiban agama untuk menunaikan ibadah Haji ke tanah suci Mekah, ketika usianya menjelang 21 tahun. Ia meninggalkan Tangier pada 14 Juli 1325 M menuju Mekah. Disebranginya gurun di Tunisia dengan berjalan kaki dan tiba di Alexandria, Mesir pada 15 April 1326 M. Sultan Mesir membantunya dengan hadiah dan uang untuk bekal perjalanannya ke Mekah melalui Kairo serta sampai ke Aidhab, pelabuhan penting di laut Merah dekat Aden. Karena mengetahui rute perjalanannya itu banyak perompak, ia kembali ke kairo dan meneruskan perjalanannya lewat Ghaza, Yerusalem (Pelestina), hamah, Aleppo, serta Damascus. Ia tiba di Mekah pada oktober 1326 M. 

   Selama melakukan ibadah haji ia bertemu dengan orang-orang Islam diberbagai negeri, hal itu membangkitkan imajinasinya serta mendorong keinginannya untuk melihat dunia. Lalu ia batalkan keinginannya untuk pulang dan selanjutnya menyebrangi gurun pasir Arabia. Setelah mengunjungi Irak dan Iran (Persia) ia kemudian ke Damaskus, yang waktu itu porak-poranda akibat serangan bangsa Mongol. Dari Damaskus ia pergi ke Mosul dan kemudian ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya. Di Mekah ia bermukim selama 3 tahun (1328-1330 M). Kemudian ia ke Aden, dari sini ia berlayar ke Somali, ke pantai-pantai Afrika Timur, termasuk Zeila dan Mombasa. Ia kembali ke Aden, lalu ke Oman, Hormuz (teluk Persia) dan pulau Bahrain. Kemudian ia melakukan ibadah haji yang ketiga, ke Mekah pada tahun 1332 m. Lalu menyebrangi laut Syiria dan tiba di Lhadiqiya lalu berlayar dengan sebuah kapal Genoa ke Alaya (candelor) di pantai selatan Asia kecil.

      Kemudian ia melakukan perjalanan darat di jazirah anatolia (tahun 1333M), yang ketika itu diperintah oleh kepala-kepala suku yang saling bermusuhan. Tiba di sanub (sanope), sebuah pelabuhan di laut hitam, kemudian ia naik kapal Yunani menuju Caffa dan menyebrangi laut Azow sampai ke stepa-stepa rusia selatan. Ia juga pergi ke istana Sultan Muhammad Ubzeg Khan, penguasa kerajaan yang membentang dari eropa hingga asia, dengan ibukotanya Serai, yang terletak di tepi sungai Wolga. Ia berjalan terus ke utara   menuju Bolghar (54 derajat LU) di siberia untuk merasakan pendeknya malam musim panas dan ingin mengalami perjalanannya di tanah gelap (Rusia paling utaara), tetapi kembali lagi ke balghar karena iklim yang teramat dingin.
    Setelah itu kemudian meneruskan perjalanan menuju bukhara (pusat ilmu pengetahuan islam). Setelah melewati stepa kering pada tengah musim dingin dan gurun-gurun tak berair di Persia utara dan Afghanistan, sampailah ia ke kabul. Dan kemudian ke India (Delhi), di India ia baru pertama kalinya melihat badak, di sini juga ia melihat pembakaran mayit dari orang Hindu dan istrinya yang ikut membakarkan diri, dan juga menyaksikan orang-orang Hindu mandi di sungai Gangga. Di Delhi ia ditunjuk oleh Sultan Muhammad Tughlaq sebagai kadi (hakim negara selama 8 tahun), kemudian ia diangkat sebagai duta besar ke Cina.
       Dalam perjalanan ke Cambay, ia diserang perompak di Jalali dekat Aligarh, lalu ia ditawan. Ketika akan di eksekusi ada seorang yang memohon dengan sangat agar ia dibebaskan dari hukuman mati. Akhirnya ia berlayar dar Cambay menuju Kalikut, akan tetapi semua hartanya musnah karena kapalnya karam. Takut akan ketidaksenangan sultan, maka ia tidak kembali ke Delhi, tetapi ia bergabung atas penaklukan Goa, lalu mengunjungi Maladewa. Disini ia diangkat menjadi kadi (hakim) dan mengawini 4 wanita. Pada tanu 1344 M ia mengunjungi Srilangka, ia kemudian berlayar ke timur. Setelah 43 hari lamanya sampailah ia ke Chitagong, kemudian ke Dacca, dan Sumatra.
     Di Sumatra ia tinggal 15 hari di kerajaan Samudra Pasai (Aceh Utara) pada masa Sultan Malik Al Dhahir. Diceritakan bahwa ia dijemput di pelabuhan oleh Al asfahany, mentri luar negeri Samudera Pasai yang ia kenal ketika sama-sama di kerajaan Acra India, dan melakukan perbincangan dengan sultan Malik Al Dhahir. Menurutnya Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di dunia Melayu, telah mempunyai tamadun dan hubungan luar negeri. 
     Di ceritakan pula , ketika ia pulang dari daratan Cina, ia menumpang kapal layar kepunyaan Samudera Pasai yang cukup besar. Menurut Batutah, kalau kapalnya tidak sebesar itu mungkin telah karam dipukul angin taufan dan gelombang yang menggunung, sehingga pelayaran dari Cina memakan waktu lebih dari 4 bulan, padahal biasanya hanya 2 bulan 15 Hari. Menurut Ibn Batutah kapal-kapal layar kepunyaan Samudera Pasai selalu berlayar dari negerinya menuju India sebelah barat. Dalam perjalanan pulang dari Cina , singgah kedua kalinya di Samudera Pasai, yang waktu itu Sultan Malik Al Dhahir sedang mempersiapkan perkawinan putrinya.
     Di Cina ia singgah di pelabuhan Zaitun, pelabuhan terbesar waktu itu. Dalam perjalanan pulang dari Cina, ia singgah lagi di Sumatra (Samudera Pasai) dan melanjutkan perjalanan lewat Malabar, India, Oman Persia, Irak, Ibn Batutah menyebrangi padang pasir Palmyra dan tibalah ia di Damascus.   Kemudian ia melakukan ibadah haji yang ke-4 pada tahun 1348 M. Sekembalinya dari sana ia melakukan perjalanan lewat Yerusalem, Ghaza, Kairo, Tunis, kemudian naik perahu ke Maroko, mengunjungi Dardania dan tiba di Fez, ibukota Maroko, 8 November 1349 M, setelah berkelana 24 tahun lamanya.
    Sebelum akhirnya menetap di tanah airnya, ia masih melakukan 2 kali perjalanan lagi, yang satu melewati gurun pasir Sahara di Afrika Utara pada tahun 1352 M, dan yang satunya lagi adalah perjalanan ke Spanyol dimana ia banyak melakukan wisata serta mengunjungi semua tempat bersejarah. Ia kembali ke Fez tahun 1354 M setelah menyelesaikan perjalanannya di Afrika Tengah, kemudian menetap di sana.
 
Ibn Batutah dan Jasanya terhadap Sejarah,
    Dalam pengembaraannya Ibn Batutah banyak sekali mengimformasikan sejarah yang tak ternilai. Ia adalah orang yang pertama kali menceritakan secara terinci perihal kepulauan Maladewa waktu itu dan Sudan Barat, demikian juga tentang Cina, kematian hitam di Damascus pada tahun 1348 M, dan kasus-kasus penyakit Clephantiasis (kaki gajah) dan hernia di Za’far, upacara sati, pembakaran janda dan teknis tipuuan pelaku yoga di India. Dan diceritakan tentang Asia kecil, mengungkapkan hal-hal mengenai Konstantinopel yang lebih mendetail daripada catatan-catatan orang Kristenb, meskipun ia toidak cakap berbahasa Yunani. Dari sudut pandangan sejarah geografis, tulisannya lebih tinggi daraipada tulisan hampir semua pengelana lain dalam sejarah abad pertengahan.
      Ibnu Bathutah oleh F.W. Fernau disebut Marcopolo-nya muslim. Kisah perjalannya (1325-1354 M) diterbitkan oleh H.R. Gibb, dengan judul The travel of Ibn Bathuthah AD 1325-1354, Cambridge, 1954.
 

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda