ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI SEJARAH, GEOGRAFI & ILMU SOSIAL >  Ahli Geografi & Penjelajah >    Cheng Ho

 
 
 
 
 
 
 
 

   Cheng Ho

 

LAKSAMANA CHENG HO (1371-1433 M)
Petualang Bahari
     Cheng Ho atau Zheng He atau lebih terkenal lagi dengan nama Laksamana Chenh Ho adalah petualang bahari (lautan) muslim yang berasal dari Cina pada masa dinasti Ming. Ia telah melakukan petualangan antar benua selama 7 kali berturut-turut dalam kurun 28 tahun (1405-1433 M). Tidak lebih dari 30 negara di Asia, Timur Tengah dan Afrika yang pernah ia singgahi. Cheng Ho mendahului petualang-petualang Eropa : Cuolumbus (87 tahun kemudian), Vasco Da Gama (1497 M) dan Ferdinand Magellan (114 tahun kemudian).
    Cheng Ho yang waktu kecil bernama Ma He ( Ma sebuah marga yang merupakan singkatan nama depan muslim Mamhud atau Muhammad). Lahir tahun Hongwu ke-4 (1371 M), merupakan anak kedua dari pasangan Ma Hazhi dan Wen, yang berasal dari propinsi Yunan. Ia berasal dari etnis Hui (etnis Cina yang beragama Islam). Ia memeluk Islam sejak lahir. Kakeknya adalah seorang haji dan ayahnya Ma Hazhi juga pernah menunaikan ibadah haji.
    Ketika ia berusia 12 tahun, Yunan yang dikuasai dinasti Yuan, dapat direbut dan dikuasai oleh Dinasti Ming. Para pemuda di tawan dan dikebiri, lalu dibawa ke Nanjing untuk dijadikan kasim istana. Salah seorang diantara yang ditahan itu adalah Cheng Ho, yang diabdikan kepada Raja Zhu Di di istana Beiphing (kini Beijing), dan dikenal dengan nama kasim (abdi) San Bao. Nama tersebut dalam dialek Fujian biasanya diucapkan San Po atau Sam Poo atau Sam Po.
    Cheng Ho mempunyai postur yang tinggi besar, bermuka lebar, yang menunjukan kehebatannya dalam berperang. Ia berjasa ketika memimpin pasukan Raja Zhu dalam serangan militernya melawan Kaisar Zhu Yun Wen, dan akhirnya Zhu berhasil merebut tahta kaisar. Cheng Ho kemudian oleh sang kaisar ditugasi muhibah (expedisi) ke berbagai negara, dalam upaya mengembalikan kejayaan Tiongkok yang merosot akibat jatuhnya dinasti Mongol (1368 M).
     Ia meninggal pada tahun 1433 M di Calicut (India) dalam pelayaran terakhir. Cheng Ho adalah orang yang sangat perhatian terhadap agama dan juga keluarganya. Pada 7 Desember 1411 M sesudah pelayaran yang ke-3, ia menyempatkan mudik ke kampungnya, Kunyang, untuk berziarah ke makam ayahnya. Tahun 1413 M ia merenovasi Masjid Qinging (timur laut Xian). Tahun 1430 M memugar Masjid Sansan di Nanjing yang rusak karena terbakar, pemugarannya tersebut mendapat bantuan langsung dari kaisar.
    
Cheng Ho dan Petualangannya
    Tujuan dari ekspedisi Cheng Ho ini adalah memperkenalkan dan mengangkat prestise Dinasti Ming ke seluruh dunia, maksudnya agar negeri-negeri lain mengakui kebesaran kaisar Cina. Ia melakukan muhibah / expedisi ke berbagai negeri, 7 kali dan selalu melintasi perairan Indonesia. Ekspedisi-ekspedisi tersebut yaitu :
Ø Tahun 1405-1407 M, merupakan ekspedisi pertamanya yang mencapai Asia Tenggara (Jawa, Sumatra, dan Semenanjung Malaya)
Ø Tahun 1407-1409 M, ekspedisi yang ke-2
Ø Tahun 1409-1411, ekspedisi yang ke-3 ini mencapai India dan Srilangka.
Ø Tahun 1413-1415, ekspedisi yang ke-4 ini mencapai Aden, Teluk Persia, Mogadishu (Afrika Timur).
Ø Tahun 1417-1419 M, ekspedisi yang ke-5 ini mengulangi ekspedisi yang ke-4.
Ø Tahun 1421-1422 M, ekspedisi yang ke-6.
Ø Tahun 1431-1433 M, merupakan ekspedisi yang terakhir, mencapai Laut Merah.
 
     Cheng Ho mengorganisir armada dengan baik. Ekspedisinya ini mengerahkan armada raksasa. Pada ekspedisi-1 mengerahkan 62 kapal besar dan belasan kapal kecil yang digerakan 27.800 awak. Pada ekspedisi yang ke-3 mengerahkan 48 kapal dan awaknya 27000 orang. Sedang pada pelayaran yang ke-7 terdiri dari 61 kapal besar berawak 27.550 orang. Dan kapal yang ditumpangi oleh Cheng Ho merupakan kapal terbesar pada abad-15 M. Panjangnya 44,4 Zhang (138 M) dan lebarnya 18 Zhang (56 M), dan menurut J.V. Mills kapasitas kapal tersebut 2500 ton. Sebagai perbandingan Columbus ketika menemukan benua Amerika hanya mengerahkan 3 kapal dan 88 awak, dan kapal yang digunakan 1/5 besarnya dari kapal yang digunakan Cheng Ho.
      Setiap berlayar banyak yang beragama Islam turut serta. Beberapa tokoh muslim yang pernah ikut, diantaranya : Ma Huan, Guo Chong Li, Fei Xin, Hasan, Sha’ban dan Pu Heri. Ma Huan dan Guo Chong Li yang fasih berbahasa Arab dan Persia bertugas sebagai penterjemah. Sedangkan Hasan yang merupakan pimpinan Masjid Tangshi di Xian, berperan mempererat hubungan diplomasi Tiongkok dengan negeri-negeri Islam. Hasan juga memimpin kegiatan keagamaan dalam rombongan ekspedisi.
 

Cheng Ho dan Peranannya di Indonesia

     Karena selalu melalui kepulauan / perairan Indonesia, perjalanannya banyak memberikan keterangan tentang sosial politik nusantara waktu itu, dan memberikan kesan yang mendalam bagi daerah-daerah yang dikunjunginya.
     Pada ekspedisi yang pertama, ketika berada di perairan laut utara Jawa, waktu itu terjadi perang saudara di majapahit antara Wirabumi dan Wikramawardana. Meski tidak terlibat, pasukan Wikramawardana menyerang awak kapal    ekspedisi Cheng Ho, akibatnya sekitar 170 awak kapal terbunuh. Menyadari kesalahan ini, raja Wikramawardana mengirim utusan menemui laksamana Cheng Ho, menyatakan bersalah dan meminta maaf serta membayar ganti rugi sebesar 60.000 tail emas. Tetpi Kaisar Ming hanya mau menerima 10.000 tail emas saja, dan sisanya dibebaskan. Dana saat itu mulai terjalin hubungan yang baik antara dinasti Ming dengan kerajaan Majapahit.
    Di palembang berjasa dalam membebaskan Palembang dan Jambi yang dikuasai oleh sekelompok bajak laut pimpinan orang Cina perantauan yang bernama Zhu Yi atau Tan Tjogi. Dalam sejarah kira-kira tahun 1405 kota Palembang dan Jambi jatuh ke tangan bajak-bajak laut, sehingga Palembang (disebut Kieu Kiang (pelabuhyan lama)), sehingga Palembang yang merupakan pusat perdagangan memudar seiring dikuasainya oleh bajak-bajak laut tersebut, sampai dibebaskan oleh Laksaman Cheng Ho pada tahun 1407 M, sehingga Palembang menjadi pusat perdagangan kembali.
    Di Sumatra Utara, ekspedisi Cheng Ho juga membantu Zainal Abidin dari Pasai, yang tengah bersengketa (pearng saudara) dengan saudara tirinya Iskandar. Sehingga kekuatan Iskandar dapat dihancurkan. Dan setelah itu terjalin hubungan antara Pasai dan Dinasti Ming. Cheng Ho menghadiahkan lonceng raksasa (yang kemudian bernama Cakra Donya) kepada Sultan Zainal Abidin (lonceng tersebut sekarang masih tersimpan di museum Banda Aceh).
      Ia juga pernah mampir di pelabuhan Bintang Mas (Tanjung Priok) Jakarta, tahun 1415 M mendarat di Muara Jati Cirebon, beberapa cendera mata khas Tiongkok dipersembahkan kepada sultan Cirebon, sebuah piring bertuliskan ayat kursi saat ini masih tersimpan baik di keraton Cirebon. Ia juga pernah singgah di Semarang, kemudian Tuban, kepada warga pribumi ia mengajarkan tatacara pertanian, peternakan, pertukangan dan perikanan. Hal ini sama yang dilakukan ketika ia singgah di Gresik dan Surabaya. Di Surabaya Cheng Ho pernah menyampaikan khutbah di hadapan warga Surabaya yang jumlahnya sudah mencapai ratusan, kemudian dilanjutkan ke Mojokerto yang merupakan pusat kekuasaan kerajaan Majapahit, yang rajanya waktu itu bernama Wikramawaradana. Dan banyak lagi daerah yang pernah dikunjunginya diwilayah Nusantara, dan selalu memberi kesan yang dalam bagi daerah yang dikunjunginya
 

 

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda