ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI ILMU KALAM (TEOLOG) > Ahli Ilmu Kalam Mu'tazilah > Al Jahizh

 
 
 
 
 
 
 
 

Al Jahizh

 

AL JAHIZH (w. 255 H / 776-869 M)
Pujangga &Teolog
 
     Seorang pujangga besar Arab, asal Bashrah, dan pendukung kalam Mu’tazilah. Ia adalah seorang penulis yang sangat berbakat, terkenal tajam penanya, banyak karangannya dan gemar membaca buku-buku filsafat. Ia juga terkenal sebagai mufasir (ahli tafsir) yang banyak menyoroti ayat dari segi bahasa, disamping orang yang pertama kali menulis tentang ilmu ma’ani.
     Nama: Abu Utsman Amr Ibn Bahr, dan dikenal dengan nama Al Jahizh karena terdapat cacat dimatanya (Al Jahiz = dengan kornia mata terbelalak / si mata besar). Ia lahir di Bashrah dari keluarga mawali dari bani Kinana asal ethiopia (ada juga yang mengatakan berkebangsaan Persia). Masa kecilnya dihabiskan di tanah kelahirannya, kemudian bermukim di Baghdad dan Samara.
     Sejak kecil ia memiliki hobi (kesenangan) membaca dan belajar yang tiada batasnya, hingga ia sering   menginap di toko buku, hanya untuk membaca. Ia merupakan anak yang jenius, otaknya sangat cemerlang dan dikaruniai kekuatan yang dashyat untuk melahap semua yang ia baca.
    Ia memulai belajar keagamaan dan bahasa di madrasah yang ada di Bashrah, kemudian belajar fiqih dan filsafat kepada Ibrahim an Nazhzham (W. 838 M), seorang tokoh Mu’tazilah Bashrah. Pemikiran An Nazhzham inilah dikemudian hari sangat mempengaruhi pemikirannya, meskipun pada perjalanannya banyak pendapatnya yang berlainan.
     Pada zaman Al Mutawakil, ia diangkat oleh khalifah sebagai pengajar anak-anaknya.
 
Pemikiran dan Pengaruhnya
     Al Jahizh merupakan teolog Mu’tazilah yang sangat berpengaruh di zamannya, yang mempunyai kemampuan keilmuan yang tinggi, seorang poligraf / polimath muslim terdepan, seorang pujangga (prosais Arab) yang jarang tandingannya, pengarang karya-karya adab yang jenius, disamping pengeksplorasi ilmu-ilmu baru. Terobosan-terobosan pemikiran orsinilnya membuat ia merajai belantara kecendikiawanan dimasa hidupnya.  
    Pada zamannya, kritik dan pengkajian-pengkajian sangat marak. Iklim seperti itu sangat membantunya dalam melakukan kritik terhadap ulama-ulama sebelumnya dan ulama zamannya, baik dikalangan Arab maupun bukan Arab. Ia selalu mendorong orang yang berselisih pendapat dalam suatu masalah, dan menjelaskan segi-segi positif serta negatifnya dalam setiap perbedaan.
     Ia mempunyai karangan yang banyak, meliputi berbagai macam bidang: bayan, syair, ilmu hewan, fiqih, sifat dan karakteristik berbagai ras, macam-macam pekerjaan, cara mencari penghidupan / nafkah, dan lain-lain. Tetapi karangannya yang masih ada hanyalah yang bertalian dengan kesusastraan.
     Dalam tulisan-tulisannya, dijumpai paham naturalisme atau kepercayaan akan hukum alam, yang oleh kaum mu’tazilah disebut sunnah Allah. Ia antara lain menjelaskan bahwa perbuatan manusia tidaklah sepenuhnya diwujudkan oleh manusia itu sendiri, melainkan ada pengaruh hukum alam.
     Dalam kapasitasnya sebagai seorang pakar biologi, ia berhasil menciptakan teori-teori embrionik sehingga dinilai sebagai seorang pencetus konsep evolusi organik.
     Dalam bidang politik ia sering menyerang dinasti Umayah, menyerang kaum rafidi, dan mengisyaratkan sedikit pada Syi’ah ekstrim. Diuraikannya garis-garis besar dokrin imamah yang menurutnya merupakan sebuah institusi penting bagi kebutuhan masyarakat luas. Bahwa masyarakat berkewajiban mengangkat seorang imam (pemimpin panutan) kalau memang singgasana kekuasaan lagi kosong. Khalifah-khalifah tak sah dan para tiran harus digusur dari kursinya sambil memberi sandi perlunya seorang imam memiliki moral dan kapasitas intelektual yang mumpuni, punya wawasan keagamaan yang luas dan mendalam, menjadi ikutan dalam mengamalkan kebajikan serta sesempurna  mungkin mewarisi jejak langkah rasul. Dengan kata lain, seorang pemimpin / imam merupakan figur paling ideal di mata masyarakat.
     Tetapi ia menolak dokrin kepatuhan mutlak (inconditional abedience). Baginya ini Cuma berlaku selama sang imam berdiri di jalan kebenaran. Jika tidak mereka berhak menerima kritik atau bila perlu langsung dipecat oleh rakyat.
 
Karya
  • Fadilat Al Mu’tazilah (Kelebihan Mu’tazilah). Buku ini ia buat untuk mengembalikan citra mutakalimun yang waktu itu mulai luntur.
  • Fahrus-saudan Al Baidan
  • Nudhamul Qur’an (Susunan kata Al Qur’an)
  • Al Bayan Wa Tibyan, suatu karya sastra adab terkemuka, yang membicarakan masalah psikologi dan etika serta memuat antara lain masalah gaya-gaya literer dan penggunaan bahasa yang efektif. Dalam buku ini didefinisikan juga kata al bayan yang merupakan tema sentral, menurutnya kata Al bayan itu merupakan kata umum yang meliputi bermacam-macam pengertian. Rincian pengertian bayan itu antara lain dapat dipahami oleh akal manusia, sehingga bayan dan akal manusia itu 2 hal yang melengkapi.
  • I’jazul Qur’an, suatu kitab pertama tentang ilmu ma’ani.
  • Kitab Mu’allimin (The Book of Teachers / Buku tentang Guru). Buku yang membahas tentang seluk beluk , termasuk status sosial guru, pengingat atau pujian terhadap para guru.
  • Kitab Al Hayawan, (Book of Animals), dalam 7 Jilid. Kitab ini membahas mengenai ilmu hewan. Suatu karya yang mencerminkan keluasan ilmunya, keberagaman perhatiannya, dan penguasaan kosa kata Arab yang sangat kaya berikut ungkapannya. Buku ini masih bisa dinikmati hingga kini.
  •  Kitab al Bighal
  • Kitab as Sina’ataya
  • Kitab al bukhala (Book of Misery, buku tentang orang-orang kikir), yang merupakan kritikannya terhadap bangsa-bangsa non Arab, terhadap keserakahan yang langka dijumpai dalam literatur-literatur Arab.
  • Kitab al Mufakharat al jawabi wal Ghilman
  • Kitab al Kiyan, yang memuat tentang penyanyi-penyanyi budak perempuan.
  • Al Ma’ad wa’l ma’ ash al Sirr wa hifz al Lisan al Jidd wa’l Hazl Fasl ma baya al Adiwa wa’l Hasad
  • Kitab al Utsmaniyah.Dalam buku tebal ini, ia dengan tegas menyatakan keabsahan ketiga khalifah pertama dan menolak klaim Syi’ah, sekaligus mengkritik kampanye Muawiyah melawan Ali. Dinasti Umayah dianggap inkonstitusional, serta mendesak agar rakyat diberi hak pembangkangan sosial terhadap otoritarian, tiran dan perebut kekuasaan, dan sebaliknya ia menyokong upaya-upaya Bani abbasiyah untuk meraih puncak kekuasaan.
  • Kitab Taswib Ali fi tahkim al hamayu, dalam buku ini ia mengecam pendukung bani Umayah.
  • Risalah fi Nabita (fi Bani Umayah), yang menguraikan situasi politik waktu itu, penyebab terkotak-kotaknya kelompok masyarakat dan bahaya-bahaya yang dibawa oleh nabita (penyokong berat bani Umayah) yakni neohasywiyah yang menyadarkan Muawiyah akan tujuan-tujuan mereka dan penggunaan kalam untuk mendukung tesis mereka.
  • Risalah fi Nafyi’l Tashbih
  • Ar Radd ‘ala’l Nasara
  • Risalah fi Manaqib at Turk (Aksi-aksi berani orang Turki), sebuah ulasan panjang tentang kualitas dan sifat-sifat kemiliteran serdadu-serdadu Turki
 by: Adeng Lukmantara

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda