ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI HADITS > Ahli Hadits Abad 3 H/9 H > Ibn Majah

 
 
 
 
 
 
 
 

Ibn Majah

 

 
IBN MAJAH (209-273 H )
Ahli hadits
 
      Salah seorang perawi hadits yang terkenal, Penulis kitab Sunan Ibn Majah, yang merupakan kitab urutan ke-6 dari kutubus sittah sebagai induk kitab-kitab hadits (tetapi menurut sebagian ulama, kitab ke-6 adalah Al Muwaththa karya Imam Malik, bukan Sunan Ibn Majah).
     Nama Abu Abdillah bin Yazid bin Majah ar Raba’iy al Qazwiny al Hafidz, julukannya Abu Abdillah dan terkenal dengan sebutan Ibn Majah. Sebutan Majah Majah dinisbahkan kepada ayahnya, Yazid, yang dikenal juga dengan nama Majah Maula Rab’ah. Ia lahir di Qozwin Irak.
     Ibn Majah mulai belajar hadits pada usia 15 tahun kepada ahli hadits ternama kala itu, Syekh Ali Ibn Muhammad at Tonafisy al Hafizh (w. 233 H). Bakat dan minatnya terhadap hadits makin besar, sehingga pada usia 21 tahun, ia berkelana ke beberapa daerah dan negri untuk mencari, mengumpulkan dan menulis hadits. Puluhan negeri yang ia telah kunjungi antara lain: Bashrah, Rayy, Kufah, baghdad, Mekah, Syam dan Mesir.
     Dengan cara inilah   ia dapat menghimpun dan menulis ratusan hadits dari sumber-sumber terpercaya kesahihannya. Tidak hanya itu di berbagai tempat yang yang kunjungi, ia juga berguru kepada banyak ulama setempat, seperti: Abu Bakar ibn Syaibah, Yazid ibn Abdillah al Yamany, Jubarah ibn Mugalis, Mus’ab ibn Abdillah az Zubairy, Suwa’id ibn Ma’bad, Abdullah ibn Muawiyah al Jumahy, Muhammad ibn Rumhin, Ibrahim ibn Munzhir al Hizamy, Muhammad ibn Abdullah, Hisyam ibn Ammar, Abu Mus’ab az Zuhry, dan lain-lain.
      Dan diantara ulama-ulama besar yang pernah menimba ilmu darinya, antara lain: Ali ibn Sa’id Ghadaniy, Ibrahim bin Dinar al Jarsyiy al Hamdany, Ahmad bin Ibrahim al Qazwiny, Abu Thoyyib Ahmad ibn Rouh al Masy’arony, Ishaq bin Muhammad al Qazwiny, Ja’far ibn Idris, Al Husain ibn Ali ibn Yazdi Amjad, Sulaiman ibn Yazid al Wazwiniy, Muhammad ibn Isa As Shafar, dan lain-lain.
    Sepanjang hayatnya ia telah menulis puluhan buku baik dalam bidang hadits, sejarah, fiqih maupun tafsir. Dalam bidang tafsir ia  menulis Tafsir Al Qur’anul Karim, sementara dalam bidang sejarah ia menulis buku At Tarikh, suatu karya sejarah yang memuat biografi para perawi hadits sejak awal hingga masanya (tetapi kedua buku ini tidak sampai kepada kita), dan yang membuat ia populer ialah karya haditsnya yang berjudul Kitab Sunan Ibnu Majah.
 
Tentang Sunan Ibn Majah
    Kitab Sunan Ibn Majah mendapat kedudukan penting dalam dalam yurisprudensi hukum Islam, karena ia ditempatkan pada salah satu dari kitab induk kutubus sittah (kitab induk yang enam) pada urutan ke-6 setelah Shahih Bukhary, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasa’I, dan Sunan Tirmidzi. Meskipun urutan kedudukannya diperselisihkan dengan Kitab Al Muwaththa karya Imam Malik.
     Yang pertama kali memamndang Sunan Ibn Majah sebagai kitab ke-6 dari kutubus sittah adalah Al Hafidz Abul Fardl Muhammad bin Thahir al Maqdisi (w., 507 H) dalam kitabnya Atraful Kutubus Sittah dan dalam risalahnya Syurutul ‘A’immatis Sittah. Pendapat ini diikuti oleh AlHafidz Abdul Ghani bin al Wahid al Maqdisi (w. 600 H) dalam kitabnya Al Ikmal fi Asma’ ar Rijal, selanjutnya pendapat mereka diikuti oleh para ulama di kemudian hari.
     Mereka mendahulukan Sunan Ibn Majah dan memandangnya kitab yang ke-6, tetapi tidak mengkategorikan Kitab Al Muwaththa karya Imam Malik senagai kitab ke-6. Padahal kitab ini (Al Muwaththa) lebih shahih daripada Sunan Ibn Majah. Hal ini mengingat bahwa Sunan Ibn Majah banyak zawa’idnya (tambahannya) atas kutubul khamsah (kitab yang 5). Berbeda dengan Al Muwaththa, hadits-hadits itu sedikit sekali telah termuat dalam kutubul khamsah.
    Ada sebagian ulama yang memandang Al Muwaththa karya Ibn Malik sebagai salah satu dari kutubus sittah, bukan Sunan Ibn Majah. Dan ulama yang pertama kali berpendapat demikian adalah Abul Hasan Ahmad bin Razin al Abdari as Sarqisti (w. 535 H) dalam kitabnya At Tajrid fil Jam’I Bainas Sihah, yang dikuti oleh Abus Sa’adat Majduddin Ibnul Asir al Jazairi asy Syafi’I (w. 606 H), demikian juga Az Zabidi asy Syafi’I (w. 944 H) dalam kitabnya Taysirul Wusul.
     Kitab Sunan Ibn Majah memuat hadits-hadits shahih, hasan dan dha’if (lemah), bahkan hadits munkar dan maudlu’ meskipun kategori jumlahnya amat sedikit. Martabat Sunan Ibn Majah berada di bawah kutubul khamsah (kitab yang 5), hal ini karena kitab sunan dinilai paling banyak terdapat hadits-hadits dha’if. Keunggulan lainnya, Ibn Majah telah meriwayatkan beberapa hadits dengan sanad tinggi (sedikit sanadnya), sehingga antara dia dengan nabi hanya terdapat tiga perawi. Haditsa semacam inilah yang dikenal dengan sebutan Sulasiyyat.
 
Karya
·         Sunan ibn Majah. Menurut Ibn Katsir, Sunan Ibn Majah ini terdiri dari 32 kitab, 1500 bab, dan 4000 hadits, semuanya jayyid (baik) kecuali sedikit. Sedang menurut Mahmud Muhammad Mahmud Hasan Nadhar (dalam Mukadimah Sunan Ibn Majah), berisi 4341 hadits, 3002 hadits ditulis dalam Kutubul Khamsah (Shahih Bukhary, Muslim, Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’iy) dan selebihnya 1339 hadits sebagai tambahan dari yang ada dalam kutubul khamsah. Adapun 428 hadits rijalnya tsiqat (shahihatul isnad), 199 hadits hasanul isnad, 613 dha’iful isnad dan 99 hadits wahiyatul isnad (sangat lemah isnadnya) atau munkaroh makhzubah. Kitab sunan ini banyak dikomentari oleh para ulama sesudahnya, antara lain: Ad Diibaajah ‘ala Sunan Ibn Majah, karya Kamaluddin ibn Musa ad Damiry (w. 808 H); Misbahuzzaujajah ‘ala Sunan Ibn Majah, karya As Suyuthi (w. 911 H); Mishbahuzzujajah fi Zawaid ibn Majah, karya Ahmad bin Abi Bakar bin Ismail al Kinany al Bushoiry (w. 840 H); Kifaayatul Haajah fi Syarhi ibn Majah, karya Abu Hasan ibn Abdil Hadi as Sindy; Raf’ul ‘Ajaajah karya Maulawi Wahiduz Zaman; Injaahul Haajah karya Abdul Ghani ad Dihlawy; Miftahul Haajah, karya Muhammad ibn Abdillah Banjaabiy.
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda