ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI HADITS > Ahli Hadits Abad 3 H/9 H >  Bukhary, Imam

 
 
 
 
 
 
 
 

 Bukhary, Imam

 

BUKHARY, Imam (194-252H / 810- 870 M)
Ahli hadits
 
    Seorang imam hadits terbesar dalam sejarah Islam, penulis kitab shahih, yang dipandang paling shahih setelah Al Qur’an.
     Nama Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Bukhary. Ia lahir pad 13 syawal 194 H / 21 Juli 810 M di Bukhara, Ubzekistan. Ayahnya, Isma’il ibn Ibrahim al Ju’fi al Bukhary adalah seorang yang gemar mempelajari hadits, meninggal ketika Bukhary masih kecil. Ia mewariskan kepada anaknya sebuah perpustakaan pribadi miliknya. Bukhary kecil kemudian mendapat bimbingan ibunya.
    Bukhary (ketika masih kecil) merupakan anak yang cerdas. Pada usia 10 tahun ia telah hapal Al Qur’an, dan ketika berusia 11 tahun, buku-buku diperpustakaan milik ayahnya sudah tidak memadai lagi bagi Bukhary. Ia kemudian berguru kepada beberapa ahli hadits dinegerinya. Pada usia 16 tahun, ia telah hapal kitab hadits yang ditulis oleh Abdullah al Mubarak dan Waki’, 2 tokoh ahli hadits terkemuka saat itu. Tidak hanya menghapal, ia juga mampu memeberikan koreksi ats kesalahan sanad hadits. Pada usia 18 tahun ia sudah menulis buku yang berjudul Qadaaya as Sahabat wa at Tabi’in.
     Pada usia 216 H, ia diajak ibu dan kakaknya (Ahmad) ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji, tetapi ia tidak ikut kembali pulang ke Bukhara. Ia memilih tinggal di Mekah untuk mendalami hadits dari tokoh-tokoh hadits di kota ini, seperti: Al Walid al Azraqi dan Ismail bin Salim as Saigh. Kemudian ia pergi ke Madinah untuk mempelajari hadits dari anak cucu sahabat. Tidak hanya itu kemudian ia mengembara ke berbagai kota dan negeri untuk menemui ahli ahli hadits, diantaranya ke Baghdad, Wasith, Bashrah, Kufah, Kairo, Khurasan dan lain-lain.
     Kecerdasannya diakui oleh para ulama waktu itu. Pad waktu di Baghdad (ketika masih belia), ia pernah diuji oleh ahli-ahli hadits setempat dalam pertemuan ilmiyah yang telah direncanakan. Seratus hadits yang telah dicampur aduk baik sand maupun matan-nya, diajukan kepada Al Bukhary untuk disusun kembali seperti semula. Tanpa ragu-ragu lagi, ia mengoreksi sanad dan matannya, kemudian menyusun kembali dengan tanpa kesalahan sedikitpun. Para hadirinpun kagum dengan kemampun anak muda tersebut.
    Dari pengembaraanya, setidaknya ia berhasil mengumpulkan 600 ribu hadits, separuh diantaranya dihapalnya. Setelah itu kemudian ia pulang ke kampung halamannya (Bukhara) ketika berumur 62 tahun. Disini ia diminta oleh gubernur setempat, Khalid bin Ahmad, untuk mengajar anak-anaknya. Tetapi Bukhary bersedia mengajar asalkan anak-anak gubernur yang datang ke rumahnya. Hal ini membuat sang gubernur marah, sehingga ia mengusir Imam Bukhary dari Bukhara. Oleh karena itu kemudian Imam Bukhary pindah ke suatu kampung yang terletak tidak jauh dari kota Samarkand. Disinilah kemudian ia meninggal pada malam ‘Idul Fitri 256 H dalam usia 62 tahun.
 
Imam Bukhary & hadits
 
     Pada mulanya medan hadits bagaikan lautan yang sangat luas yang bercampur antara hadits yang shahih dan hadits palsu, antara yang benar dan yang buatan, bahkan hadits oleh sebagian orang sudah dikomersialkan. Mereka telah menghilangkan batas-batas hadits shahih dan hadits palsu. Mereka telah memamfaatkan hadits untuk memperoleh keuntungan pribadi. Hal inilah yang menginisiatifnya (memberi dorongan) untuk menyeleksi agar dapat dikumpulkan hadits yang shahih saja. Ia kemudian menyeleksi lebih dari 600.000 hadits dengan sangat cermat, menjadi 7.275 hadits yang benar-benar dianggap shahih dalam kitabnya.
     Ia sangat mengutamakan sanad (mata rantai rawi) dari pada isinya (matan). Ia sangat ketat menyeleksi hadits berdasarkan ketakwaan dan kejujurannya. Baginya mata rantai rawi adalah tiang pancang hadits, jika dia roboh, robohlah haditsnya, dan jika mata rantainya benar, maka haditsnya dapat diterima.
 
Karya
  • Al Jami’ Shahih, atau lebih populernya disebut Shahih Bukhary, merupakan kitab hadits yang dianggap paling shahih setelah Al Qur’an. Kitab ini berisi 7275 hadits dengan pengulangan. Dan apabila tanpa pengulangan berjumlah jumlah itu hanya 4000 buah. Jumlah tersebut ia seleksi dari 600.000 buah lebih hadits yang diperoleh dari 70.000 guru. Untuk melahirkan kitab monumental ini, ia memerlukan waktu 16 tahun. Lamanya waktu itu, karena ia memang sangat cermat dalam menyeleksi hadits. Dan diapun tidak mau menulis sebuah hadits sebelum mandi dan shalat istikhharh 2 raka’at dan yakin betul bahwa hadits yang ditulis itu benar-benar shahih. Kitab hadits ini banyak dikomentari oleh ulama-ulama sesudahnya. Setidaknya ada 57 yang mensyarahkan (mengomentari secara lengkap), dan yang paling populer adalah Fath al Bary, karya Ibn Hajar al Asqalani dan Umdah al Qari karya Al ‘Aini. Jumlah kitab ta’liq (komentar pada bagian-bagian tertentu) ada 5 buah, sedang mukhtasar (resume/ ringkasan)nya ada 3 buah, dan yang paling populer adalah At Tajrid as Sharih karya Al Zabidi.
  • Tarikh al Kabir, menceritakan perawi-perawi hadits sejak zaman sahabat hingga dirinya, serta mengandung pembahasan tentang kecacatan-kecacatan hadits, jarah, ta’dil dan sebagainya. Dicetak di Hiderabad, India (1961)
  • At tarikh al Ausat
  • At Tarikh as shaghier
  • Al Kuna. Kitab ini dicetak sebagai lampiran kitab At Tarikh al Kabir.
  • Adh Dhu’afa. Imam Bukhary mempunyai 2 kitab dengan nama Adh Dhu’afa, salah satunya Shaghier (kecil) dan satunya lagi Kabir (besar). Dan yang sampai hingga kini adalah Adh Dhu’afa Ash Shaghier. Buku tersebut berisi sejumlah perawi-perawi hadits yang lemah.
  • Al Adab al Mufrad, Merupakan kitab adab dan akhlaq (kitab ini dicetak berulang kali).
  • Al Qir’at Khalfa al Imam (Bacaan di belakang imam), yang dikenal sebagai Juz Al Qira’at. Dalam buku ini ia membahas masalah bacan ma’mun di belakang imam dan menyokong hujah tentang diwajibkan membaca Al Fatihah pada setiap raka’at, baik imam, ma’mun atau sendirian.
  • Mengangkat kedua tangan didlam shalat, yang dikenal dengan Juz Raf’ul Yada’in.
Dan karya-karyanya yang tidak sampai kini / tidak dijumpai lagi, yaitu :
  • Al Jami’al Kabir, telah disebut oleh Ibn Thahir al maqdisi
  • Al Musnad al Kabir, telah disebut oleh Al Farabri.
  • At tafsir al Kabir, telah disebut oleh Al Farabri.
  • Al Hibah, telah disebut oleh Waraqah Muhammad bi Abi Hatim.
  • Al Asyribah (Minuman), telah disebut oleh Ad Daruquthny dalam kitabnya Al Mu’talaf wal Mukhtalaf.
  • Usama As Sahabah (nama-nama Sahabat), telah disebut oleh Abu al Qasim bin Mundah.
  • Al Mabsut, telah disebut oleh Al kalili dalam kitabnya Al Irsyad (Petunjuk).
  • Al Wihdan, diceritakan oleh Ibn Mundah.
  • Al Ilal (Kecacatan), telah disebut oleh Abu Al Qasim bin Mundah
  • Al Fawaid (faidah-faidah), telah disebut At Tarmidzi dalam sunannya.
 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda