ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI FIQIH > Imam Madzhab > Ja'far Shadiq

 
 
 
 
 
 
 
 

Ja'far Shadiq

 
JA’FAR SHADIQ (83-148 H /       -756 M)
Pemuka Ja’fariyah
 
      Pemuka Ja’fariyah, seorang imam yang luar biasa dan imam ke-6 dari Madzhab Syi’ah Itsna Asyariyah.
      Nama Ja’far Ibn Muhammad ash shadiq. Lahir di Mekah pada 17 Rabi’ul Awal 83 H, dari keluarga ahlul bayt (keturunan Rasulullah atau Ali bin Abi Thalib) yang sangat dihormati. Ayahnya, Muhammad Al Baqir (cicit Ali bin Abi Thalib) dan ibunya Farwah binti Qasim Ibn Muhammad ibn Abu Bakar (cucu Abu Bakar Siddiq). Ia dibesarkan oleh kakeknya yang saleh dan alim, imam Zainal Abidin, sedangkan ayahnya memberikan ia pendidikan ilmu keagamaan dan ilmu pengetahuan lainnya.
     Ia terlahir pada masa pemerintahan Abdul Malik Marwan dari Dinasti Umayah. Ketika dunia Islam sedang melewati masa yang sangat sulit. Nilai spiritual dan moral mengalami degradasi (penurunan) mencapai titik yang paling rendah. Para penyebar ilmu pengetahuan dan mercusuar keagamaan (ulama) yang besar telah tiada, sebagian mereka disingkirkan oleh kekuasaan umayah yang korup dan sewenang-wenang.
      Ja’far Shadiq tumbuh dan berkembang menjadi salah satu diantara ilmuwan terbesar yang mengabdikan hidupnya bagi perkembangan spiritual dan kecerdasan masyarakat. Ia sangat terkenal akan kealimannya dan menguasai berbagai ilmu pengetahuan: hadits, astronomi, fisika dan lain-lain. Ia terkenal karena keahliannya menjelaskan hadits nabi satu persatu, berdasarkan kebenaran dan kejujurannya mengungkap hadits. Oleh karena itu ia digelari Shadiq (yang benar) oleh kaum muslimin. Ia juga terkenal sebagai ahli ibadah yang jarang tandingannya.
     Imam Malik (Pemuka Madzhab Maliki) berkata: “Setiap kali aku mengunjungi Ja’far Ibn Muhammad, ia tidak lepas dari salah satu diantara 3 keadaan ini: shalat, puasa atau membaca Al Qur’an. Sungguh belum terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terpikir oleh setiap orang yng lebih luas ilmunya, lebih banyak ibadahnya dan lebih zuhud dari Ja’far Ibn Muhammad.” Dan Abu Hanifah (Pemuka Madzhab Hanafi) menceritakan tentang ketinggian ilmu imam Ja’far ini: “ Ketika pada suatu hari Al Manshur (khalifah Abbasiyah waktu itu) memanggil Imam Ja’far ke Irak, ia (khalifah) memanggilku untuk melakukan debat dengan sang imam. Al Manshur menyiapkan 40 persoalan yang akan diajukan kepada imam Ja’far. Ketika aku masuk, kulihat imam Ja’far duduk disebelah kanan Al Manshur. Aku memberi salam kemudian duduk. Manshur menyuruhku maju dan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada Imam Ja’far. Aku menanyakan semua pertanyaanku dan imam menjawabnya satu persatu. Pertama ia menggemukakan pandangan ulama-ulama Madinah tentang persoalan yang ditanyakan, kemudian pandangan ulama-ulama Irak, terakhir pandangannya sendiri. Kadang-kadang sama, kadang-kadang berlainan. Disitu aku tahu bahwa imam Ja’far ash shadiq adalah orang yang paling ahli dan paling tahu pandangan-pandangan ulama dizamannya.”
      Imam Ja’far hidup sezaman dengan beberapa penguasa Umayah dan Abbasiyah. Penguasa dari Dinasti Umayah, antara lain: Hisyam Ibn Abdul Malik Ibn Marwan, Walid Ibn Yazid Ibn Abdul Malik, Yazid Ibn Abdul Malik, Ibrahim Ibn Walid Ibn Abdul Malik dan Marwan ibn Muhammad yang terkenal dengan sebutan Marwan Keledai, dan juga penguasa Abbasiyah: Abu abdillah Ibn Muhammad As Saffah, dan Abu Ja’far Manshur Al Dawaniqi (ke-7 penguasa tersebut hanya berkuasa 34 tahun). Ia hidup hampir 50 tahun dibawah kekuasaan Umayah yang sangat kejam dan sisanya bersama Bani Abbasiyah yang tidak jauh beda.
    Ia merasakan langsung kekejaman Bani Umayah, pamannya, Zaid bin Ali disalib terbalik dan bugil diatas tiang gantungan pada tahun 122 H, jasadnya dibiarkan diatas tiang gantungan selama 5 tahun, kemudian dibakar dan abunya dibuang ke laut. Demikian pula perlakuan bani Umayah terhadap sepupunya, Yahya bin Zaid bin Ali. Kekejaman demi kekejaman yang dilakukan oleh Bani Umayah , tidak hanya dirasakan oleh ahlul bayt, tetapi masyarakat umumnya, sehingga menimbulkan pemberontakan Selama 9 tahun yang mengakibatkan jatuhnya dinasti Umayah dan digantikan dengan dinasti Abbasiyah (keturunan Abbas bin Abdul Muthalib, paman nabi).
     Pada awal revolusi, semua mata tertuju kepada Imam Ja’far. Dialah dianggap satu-satunya yang paling layak menduduki kursi khalifah. Tetapi ia menolak ajakan kaum pemberontak sejak hari pertama. Ia mengetahui persis motif dibalik pemberontakan tersebut dan ia menolak bekerja sama, tetapi ia tidak menentang mereka. Meskipun pemberontakan tersebut dilandasi dengan “Menuntut hak-hak ahlul bayt.” Ia melihat bahwa aktualisasi nilai-nilai Islam tidak dapat dilakukan melalui kekuasaan yang mereka tawarkan.
     Dalam situasi politik dan social yang tidak menentu, pada transisi dari Dinasti Umayah ke dinasti Abbasiyah, telah memberi peluang dirinya untuk mengembangkan ilmu-ilmu keislaman dan mencetak kader-kader brilyan yng dirintis oleh ayahnya (Muhammad Al Baqir). Setidaknya ada 4000 ahli dalam berbagai bidang keilmuan (tafsir, hadits, fiqih, kalam, falsfah, juga fisika, kimia dn lain-lain. Syekh Al Thusi mencatat tidak kurang dri 3000 ulama terkemuka yang belajar pada imam Ja’far. Diantaranya: Hisyam ibn Al Hakam yang meninggalkan tidak kurang dari 25 karya yang sangat berharga dan eksak; Ali Al Mufadhdhal Ibn Umar Al Kufi, telah mencatat penjelasan imam Ja’far tentang hukum alam dalam bukunya “Tauhid Al Mufadhdhal” yang kemudian menjadi rujukan ahli-ahli fisika muslim dikemudian hari. Demikian juga Jabir Ibn Hayyan Al Tartusi, seorang ahli kimia muslim terbesar dan dianggap yang pantas disebut sebagai bapak kimia modern, yang telah banyak menulis persoalan-persoalan kimia yang sangat menakjubkan.
     Ia meninggal di Madinah, dan dimakamkan di Jannat-ul-Baqi. Ia adalah seorang imam besar, yang selalu menjaga harga diri dan berpendirian teguh. Dalam hidupnya ia tidak pernah meminta kemurahan hati agar disayangi khalifah Umayah & Abbasiyah yang selalu berusaha mendapat simpatinya, seorang yang memiliki kesabaran dan tenggang rasa yang sangat besar, yang selalu membalas kejahatan dengan kebaikan, selalu mengikuti tauladan nabi dan selalu menjunjung kebiasaan tradisi keluarga besarnya yang selalu mengasihani dan bermurah hati.

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda