ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI FIQIH > Imam Madzhab > Imam Syafi'i

 
 
 
 
 
 
 
 

Imam Syafi'i

 

IMAM SYAFI’I (150-204 H / 767-820 M)

Pemuka Mazhab Syafi’iy
 
     “Kita cela zaman ini, padahal cela ada pada diri kita. Tidak ada cela pada zaman kita selain diri kita, kita hina zaman yang tidak berdosa. Andai zaman ini berbicara ia akan menghina kita. Serigala tidak makan serigala, sedangkan kita saling memakan secara nyata.” (Imam Syafi’I)
 
     Seorang mujtahid besar, pemuka Mazhab Syafi’iy, peletak dasar (pelopor) ilmu ushul fiqih, dan pencetus teori ijma’ (konsensus) yang menjadi salah satu sumber syari’ah.
    Nama Abu ‘Abdillah Muhammad Bin Idris Al ‘Abbas Bin ‘Utsman Bin Syafi’iy Bin As Saib Al Hasyimy Al Muthaliby Al Quraisyi. Kakeknya, Syafi’iy pernah bertemu dengan Rasulullah dikala masih belia. Dan nenek moyangnya Saib, adalah pembawa panji Bani Hasyim di perang Badar, setelah tertawan oleh orang Islam dan menebus diri, kemudian masuk Islam.
     Ia dilahirkan di Gazza, suatu kota di pantai Pelestina selatan. Ayahnya pergi ke kota tersebut untuk suatu keperluan dan ia meninggal di sana saat Syafi’iy lahir. Setelah berumur 2 tahun, ibunya membawa ke tempat kelahiran orang tuanya di Mekah. Ia dibesarkan oleh ibunya dalam kemiskinan, tetapi ia seorang anak yang cerdas dan jenius. Ia sudah hafadh Al Qur’an sejak umur 7 tahun. Dan karena bergaul lama dengan orang badui, dasar pengetahuan puisi Arab kunonya sangat kuat.
     Di Mekah ia belajar kepada Muslim Abu Khalid Al Zanni, seorang ulama besar dan mufti Mekah. Ia juga belajar kepada ahli hadits, Sufyan Bin Uyainah dan ilmu-ilmu Al Qur’an didapat dari Imam Isma’il bin Qostantin.
     Pada usia 13 tahun ia sudah hapal Kitab Al Muwatha karya Imam Malik. Waktu umurnya 20 tahun ia pergi ke Madinah menemui Imam Malik untuk minta izin agar diperkenankan meriwayatkan hadits-haditsnya. Imam Malik mengetes Syafi’iy, ia sangat kagum dan sangat menghargai kemampuannya, dan ia berkata: “Jika ada orang yang berbahagia, maka inilah pemudanya.”
     Tidak puas juga, kemudian ia pergi ke Baghdad. Di sini ia menemui Imam Abu Yusuf dan juga Imam Ibn Hasan as Syaibani (2 orang ulama besar madzhab Hanafi) untuk mengambil ilmu darinya. Setelah 2 tahun di Baghdad, ia pergi ke Persia, lalu ke Hirah, Pelestina dan Ramlah. Dari Ramlah ia kembali ke Madinah dan tinggal disana bersama Imam Malik kurang lebih 4 tahun, sampai wafatnya Imam Malik (795 M).
    Aktifitas mengajar dimulai dengan menjadi asisten Imam Malik di Madinah (pada usia ± 29 tahun). Sebagai ahli fiqih yang cerdas namanya mulai dikenal dan murid-muridnyapun berdatangan.
     Ia kemudian pindah ke Yaman atas undangan Abdullah bin Hasan, wali negeri Yaman. Disini ia menikah dengan seorang putri bangsawan, Siti Hamidah binti Nafi’ (Perkawinannya dianugrahi 3 anak: Abdullah, Fatimah, dan zainab). Tetapi ia kemudian dicurigai bersepongkol dengan kaum alawiyin (keturunan Ali ibn Abi Thalib) akan melakukan makar / pemberontakan terhadap kekuasan Harun Al Rasyid di Baghdad. Sehingga Syafi’I dan juga 9 tokoh Alawiyyin ditangkap (dengan tangan di borgol rantai) dan dikirim oleh Gubernur Yaman ke Khalifah Harun Ar Rasyid di Baghdad. Tetapi Imam Syafi’I dibebaskan sedang 9 tokoh alawiyyin di hukum bunuh.
     Setelah bebas, di Baghdad, ia mulai mengajar, dan pada tahun 181 H/ 797 M, ia kembali ke Mekah. Pada tahun 804 M, ia berangkat ke Syuri’ah dan Mesir melalui Harran. Di Mesir kedatangannya dielu-elukan para murid Imam Malik. Ia mengajar fiqih selama 6 tahun di Kairo. Pada tahun 810 M, ia pergi ke Baghdad (pada masa Khalifah Al Ma’mun), tempat ia sukses sebagai pengajar. Disini banyak ilmuwan Irak yang menjadi muridnya dan ia disambut dengan antusias dan diberi tempat mengajar di Mesjid. Pada saat kedatangannya di mesjid itu ada sekitar 20 halaqah (kelompok belajar), tetapi setelah ia datang tinggal 3 halaqah saja, yang lainnya menggabungkan diri dengan halaqoh Imam Syafi’iy.
      Belum cukup setahun di Baghdad, ia diminta oleh wali negeri Mesir, Abbas ibn Musa, untuk mengajar di Mesir, tetapi karena ada kerusuhan ia terpaksa berangkat ke Mekah. Pada tahun 815 / 816 H ia kembali ke Mesir dan mengajar di Masjid Amr bin Ash dengan jumlah murid yang tidak kalah banyaknya dari tempat lain.
     Ia meninggal di Mesir pada 20 Januari 820 M / 29 rajab 204 H, dan dimakamkan di pemakaman Banu Abd Al Hakam di Fustat (Kairo kuno).
    Karya Imam Syafi’iy banyak sekali, dalam bidang hadits, fiqih dan ushul fiqih.   Diantara karya-karya tersebut ada yang ditulis sendiri dan dibacakan kepada orang banyak dan ada pula yang didiktekan kemudian murid-muridnya yang membukukannya.
    Diantara murid-muridnya yang terkenal, antara lain: Al Muzani, Al Buwaiti, Ar Rabib Sulaiman, Al Maradi, Al Zafarani Abu Thawi, Al Humaidi, Ahmad Bin Hambal, Al karabisi dan lain-lain.
 
Pemikiran
     Imam Syafi’iy disamping ahli dalam ushul Fiqh, ilmu Balaghah, ilmu fiqih, Ilmu berdebat juga terkenal sebagai ahli hadits (muhadits).
     Dalam bidang fiqih dianggap sebagai penghubung/ penyambung / penengah antara peneliti data hukum yang beraliran bebas (Ahl Ar Ra’yi) dan Ahli hadits. Ia berbeda pendapat dengan Imam Malik (gurunya) dalam hal penggunaan akal (Ra’yi) ketika tidak ada nash dalam menentukan hukum. Ia juga menolak qiyas sebagai salah satu sumber penetapan hukum syari’ah, yang dilakukan Imam Abu Hanifah. Ia kemudian menetapkan syarat lain yaitu adanya penelitian tentang alasan yang ada dibalik Al qur’an atau hadits bukan syarat kemiripan dan kesamaan kasus. Tetapi kemudian syafi’I meletakan qiyas setelah Ijma’.
     Ijma’ merupakan suatu prinsip yang sudah dikenal oleh kaum muslim sebelum Syafi’I, akan tetapi para fuqaha belum memiliki kesepakatan mengenai batas dan syarat-syaratnya. Apakah mencakup seluruh pendapat ulama atau pendapat mayoritasnya. Ia (dalam kitab al Umm) menolak teori Imam Malik mengenai konsensus ulama lokal atau sedaerah (Al’ijma’ al mahalli atau al iqlimi). Ijma’ yang dimaksudnya adalah kesepakatan pendapat pada setiap masa, dan selalu dipengaruhi oleh para ulama setiap generasi, agar masyarakat Islam berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Dia mendasari pendapatnya pada hadits, “Umatku tidak akan sepakat untuk melakukan kesesatan”. Kalau umat bersepakat melakukan kesesatan atau kebatilan, hilanglah predikat kejujuran dan keadilannya, dan hal ini bertentangan dengan Al Qur’an,:” Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu (umat islam) umat yang adil dan pilihan….(QS 2:143).
    Kaidah-kaidah fiqih yang dicetuskannya secara umum diterima kaum muslimin. Keunggulan ilmu dan kekuatan pengaruhnya telah menarik banyak murid dan pengikut, baik dari kalangan ilmu ra’yi maupun dari kalangaan ilmu hadits, begitu pula dari kalangan orang-orang yang nantinya tidak mengikuti madzhabnya. Orang-orang menerima dirinya sebagai Imam yang dijanjikan akan muncul 100 tahun sekali untuk menegakan agama umat tersebut.
     Dalam ushul fiqih, ia dianggap sebagai peletak dasar ilmu ini. Imam Ahmad Bin Hambal berkata: “ Fiqih menjadi suatu ilmu yang tertutup hingga   datangnya Syafi’I yang membawa kuncinya.” Salah satu buku tentang ilmu usul fiqih, Ar Risalah, banyak membantu para pengkaji fiqih. Ia merupakan tiang pancang yang kokoh bagi dasar perdebatan, argumentasi, yang juga banyak membantu generasi setelahnya dalam menterjemahkan naskah filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab yang benar, karena menawarkan kosa kata Arab yang mampu mengungkapkan pikiran aslinya, yang belum pernah dikenal oleh orang Arab.  
     Dalam bidang hadits, menurutnya hadits yang paling shahih harus ditempatkan sejajar (diberikan pertimbangan yang sama) dengan Al Qur’an. Atas dasar itulah, ia bersikeras untuk betul-betul membuktikan keshahihan hadits yang disandarkan kepada nabi. Oleh karena itu, oleh masyarakat Mekah ia diberi gelar  Nashiru’l Hadits (Penolong memahamkan hadits). Karena ia juga adalah orang yang pertama kali menjelaskan pokok-pokok ilmu hadits dan hukumnya. Ia juga sangat menguasai nasikh dan mansukh hadits.
 
Pribadi dan Pengaruhnya
     Seperti pendahulunya, imam Abu Hanifah dan Imam malik, Imam Syafi’I juga menolak menjadi qadli (hakim) rezim Abbasiyah. Tahun-tahun kediamannya di Irak dan di Mesir merupakan periode kegiatannya yang intensif. Waktunya dimamfaatkan untuk membaca dan mengajar. Kehidupan sehari-harinya amat teratur dan ia membagi waktunya secara sistematis.
    Imam Syafi’iy dikenal sebagai orang yang sangat cerdas, karena banyaknya guru pada ahli dari berbagai kalangan. Ia menguasai berbagai ilmu, menguasai fiqih Madinah, menguasai fiqih syam, fiqih Mesir dan fiqih Irak. Pada mulanya ia murid dari Imam Malik dan gigih mempertahankan madzhab ulama Madinah, karenanya disebut Nasir as Sunnah (pembela sunnah). Tetapi pada tahun 184 H, setelah meninggalkan Baghdad dalam perlawatan pertama, ia memulai menyusun madzhabnya dan melepaskan diri dari madzhab gurunya (Maliki).
    Dalam membangun madzhabnya ia berusaha mempertemukan fiqih Madinah (ahl hadits) dan fiqih Irak (madzhab ahl ra’yi). Adapun istimbath hukum madzhabnya dibangun pada 5 dasar (seperti diungkapkan dalam kitab Ar Risalah), yaitu:
Ø Al Qur’an
Ø As Sunnah
Ø Ijma’
Ø Qiyas
Ø Istidlal (Menetapkan hukum berdasarkan kaidah umum agama Islam)
    Ia memusatkan kegiatannya di kedua kota Baghdad dan Kairo, dan ada sedikit perbedaan tentang fatwa-fatwanya di kedua kota tersebut. Fatwa-fatwanya selama di Baghdad dihimpun dan dinamakan Qaulu’l Qadim (pendapat lama) dan sedang kumpulan fatwa-fatwanya ketika di Mesir dinamakan Qaulu’l Jadid (Pendapat baru).
    Pada abad ke-3 H dan abad ke-4 H, pengikutnya semakin banyak di Baghdad dan Kairo. Dan pada abad ke-4 H, Mekah dan Madinah menjadi pusat ajaran Syafi’I di samping Mesir. Dibawah sultan Salahuddin al Ayyubi, madzhab Syafi’I menjadi paling utama, tetapi sultan Baibars mengakui juga madzhab fiqih lain dan mengangkat hakim dari ke-4 madzhab yang ada.
      Sebelum kekuasaan Ottoman (Turki Utsmani), pengikut Syafi’I paling unggul di pusat wilayah Islam. Selama abad ke-16 M, Turki Utsmani mengganti madzhab Syafi’iy dengan madzhab Hanafi. Tetapi Madzhab Syafi’iy masih tetap unggul di Mesir, Hejaz, Suriah dan masih banyak dipelajari di Universitas Al Azhar. Fiqih Syafi’I juga banyak dianut di Arab Selatan, Bahrain, Kepulauan Melayu termasuk Indonesia, sebagian Afrika Timur dan Asia Tengah.  
 
Karya
  • Al Musnad, (Musnadu’sy Syafi’iy), berisi tentang hadits-hadits Nabi Saw yang dihimpun dari kitab Al Umm, disana juga dijelaskan tentang sanad setiap hadits.
  •  Mukhtalifu’l Hadits, dalam kitab ini ia menjelaskan cara-cara menerima hadits sebagai hujjah dan menjelaskan cara-cara untuk mengkompromikan hadits-hadits yang nampaknya kontradiksi satu sama lain. Karena itu Syafi’I dianggap sebagai pelopor dalam bidang ilmu mukhtalifu’l hadits (ilmu yang membahas hadits-hadits yang menurut lahirnya saling berlawanan). Meskipun ia tidak bermaksud untuk menjadikan ilmu itu berdiri sendiri, tetapi ia hanya menulisnya dengan dengan membahas masalah-masalah dalam kitabnya “Al Umm”, dan ia menulis kitab ini (mukhtalifu’l hadits), yang dicetak dibagian pinggiran (hamisy) juz ke-7 dari kitab Al Umm.
  • Al Hujah atau Al Mabsut, yang ditulis ketika ia berada di Baghdad.
  • Al Amali
  • Al Imlaq
  • Jami’ah Misan al Kabir
  • Al Wasayah al Kabirah
  • As Sunan
  • Siyar al Ausa’I
  • Jima’ al ‘Ilm
  • Ibtal al Istihsan
  • Ar Radd ‘ala Muhammad ibn Hasan
  • Al Umm, suatu kitab tentang fiqih yang konfrehensif, yang ditulis ketika di Mesir dan penyempurnaan Al Hujjah. Kitab ini sekarang terdiri dari 7 jilid dan mencakup beberapa kitab Syafi’I lainnya, seperti: Siyar al ausa’I, Jima’ al ‘Ilm, Ibtal ar Radd ‘ala Muhammad ibn Hasan.
  • Ar Risalah. Kitab tentang ushul fiqih dan merupakan buku pertama yang ditulis dalam masalah ini. Pada awalnya kitab ini diberi nama oleh Imam Syafi’I dengan Kitabi (Kitabku). Kiitab ini diberi nama Ar Risalah dilakukannya ketika ia mengirimkan kitab ini kepada Abdurrahman bin Mahdi (w. 198 H), salah seorang pejabat dinasti Abbasiyah. Sejak saat itu kitab ini lebih dikenal dengan nama Ar Risalah. Kemudian imam Syafi’I menulis ulang kitab ini ketika ia berada di Mesir dan menjadikannya sebagai pengantar kitab Al Umm. Kitab Ar Risalah ini ia tulis ketika berada di Mekah.

(By: Adeng Lukmantara)

Referensi:

1. Ahmad, KH. Jamil, Seratus Muslim Terkemuka  (Terj),   Pustaka Firdaus,   Jakarta, 1984, Cet.-3.
2.    Almaraghi, Abdullah Musthafa Pakar Pakar FiqihSepanjang Sejarah,LKPSM, Yogyakarta, 2001
3.    Sirajuddin, KH., Ulama Syafi’I dan Kitab-kitabnya dari Abad ke Abad, Pustaka tarbiyah, 1975
4. Amin, Husayn Ahmad,    Seratus Tokoh dalam   Sejarah Islam,   Remaja  Rosdakarya, Bandung, 2001, cet-6.
5.    Dahlan, Abdul Aziz (editor), Ensiklopedia Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1996, (6 Jilid)
6.    Dahlan, Abdul Aziz (editor), Ensiklopedia Hukum Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve, jakarta, 1996, Cet-1. (6 Jilid)
7.    Dahlan, Abdul Aziz (editor), Ensiklopedia Islam Untuk Pelajar, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, (6 Jilid)
8.    Syahrastani, Muhammad ibn ‘Abd al Karim Ahmad,   Al Milal wa Al Nihal, Aliran-aliran Teologi dalam Islam    (terj. Muslim   Sects and Divisions: The Section on Muslim Sects in Kitab Al Milal wa Al Nihal), Mizan, 2004, cet-1.
9.    …………...., Leksikon Islam, Pustaka Azet, Jakarta, 1998

 

 

 

 

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda