ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI FIQIH > Imam Madzhab > Imam Malik

 
 
 
 
 
 
 
 

Imam Malik

 
IMAM MALIK (93-179 H/ 712-798 M)
Imam Daru’l Hijrah, Faqih, Pemuka Maliki
 
“ ….Al ‘ilmu yu’ta walaa ya’ti…..” (Ilmu didatangi, bukan mendatangi) (Imam Malik)
 
      Seorang ‘Imam Daru’l Hijrah (Madinah), seorang faqih dan pemuka mazhab Maliki.
    Nama Abu ‘Abdilllah Malik bin Anas bin Malik bin Abu ‘Amir bin ‘Amr bin Harits. Nenek moyangnya Abu Amir adalah sahabat rasul yang mengikuti seluruh peperangan, kecuali perang Badar. Kakeknya, Malik Bin Anas adalah seorang dari 4 orang thabi’in besar yang jenazahnya diusung sendiri oleh Khalifah Utsman ditempat pemakamannya.
     Imam Malik Lahir di Madinah (dalam kandungan ibunya 3 tahun).      Ia mengambil hadits secara qira’ah dari Nafi’ bin Abi Nua’im, Az Zuhry, dan lain-lain. Dan ulama yang pernah berguru padanya adalah: Al Auza’iy, Sufyan Ats Tsaury, Sufyan Bin ‘Uyainah’ Al Mubarak, Imam Syafi’iy, dan lain-lain.
      Tentang Imam Malik ini, Imam Syafi’iy memujinya:”Apabila dibicarakan tentang hadits, maka Imam Malik-lah bintangnya dan apabila di bicarakan keulamaan maka Imam Malik juga bintangnya. Tidak ada seorang yang lebih terpercaya dalam ilmu Allah dari pada Imam Malik, Imam Malik dan Imam Ibn Uyainah adalah 2 orang sekawan, yang andaikata kedua orang tersebut tidak ada, niscaya hilang pula ilmu orang-orang Hijaz.”
      Sebagai seorang muhadits yang konsekwen dengan ilmu yang dimilikinya, ia tidak pernah melalaikan berjama’ah, selalu aktif menjenguki kawan-kawanya yang sakit, dan selalu melakukan kewajiban-kewajiban yang lain. Ia juga terkenal sebagai ulama yang keras dalam mempertahankan pendapatnya, bila telah dianggap benar. Ia pernah diadukan orang kepada Khalifah Ja’far Al Manshur dengan tuduhan tidak menyetujui pembaiatan sebagai khalifah. Menurut Ibnul Jauzy, ia disiksa (didera) 70 x sampai ruas lengannya sebelah atas bergeser dari persendian pundaknya. Siksaan ini karena disebabkan fatwanya tidak sesuai dengan kehendak khalifah.
     Ia meninggal hari ahad, tanggal 14 rabiul awal tahun 179 H di Madinah, dengan meninggalkan 3 anak: Yahya, Muhammad, dan Hammad.
 
Pemikiran
     Imam Malik disamping keahliannya dalam bidang ilmu fiqih (fuqaha), seluruh ulama mengakuinya sebagai muhadits (ahli hadits). Oleh masyarakat Hijaz ia diberi gelar Sayyidi Fuqaha’il Hijaz.
     Pemikiran Imam Malik (fiqih dan ushul) dapat dilihat dari karyanya al Muwaththa, yang ia susun atas permintaan khalifah Harun Al Rasyid dan selesai pada zaman Khalifah Al Ma’mun. Al Muwaththa ini merupakan kitab hadits, tetapi karena disusun dengan sistematika fiqih dan uraiannya juga mengandung pemikiran fiqih Imam Malik dan istimbathnya, maka buku ini juga disebut oleh ulama hadits dan fiqih belakangan   sebagai kitab fiqih.
    Prinsip dasar Madzhab Maliki kemudian ditulis oleh murid-muridnya berdasar berbagai isyarat yang mereka temukan dalam Al Muwaththa. Dasar madzhab Maliki adalah:
Ø Al qur’an
Ø Sunnah nabi Saw
Ø Ijma’
Ø Tradisi penduduk Madinah (Statusnya Sunnah menurut mereka)
Ø Qiyas
Ø Fatwa Sahabat
Ø Al Maslahah al Mursalah
Ø ‘Urf
Ø Istihsan
Ø Istishab
Ø Sadd az Zari’ah
Ø Syar’u Man Qablana
Dasar-dasar madzhab Maliki ini dapat dijumpai dalam kitab Al Furuq karya Imam Al Qarafi (tokoh fiqih madzhab Maliki). Imam Asy Syatibi menyederhanakan dasar fiqih madzhab Maliki tersebut dalam 4 hal, yaitu: Al Qur’an, Sunnah Nabi, ‘Ijma, dan Rasio. Alasannya adalah karena menurut Imam Malik, fatwa sahabat dan tradisi penduduk Madinah dizamannya adalah bagian dari sunnah Nabi Saw, dan yang termasuk rasio adalah al maslahah almursalah, sadd az zari’ah,istihsan, ‘urf, dan istishab. Menurut para ahli ushul fiqih, qiyas jarang sekali digunakan madzhab Maliki, bahkan mereka lebih mendahulukan tradisi penduduk Madinah daripada qiyas.
    Murid-murid Imam Malik yang berperan dalam perkembangan madzhabnya, antara lain: Abu abdillah Abdurrahman bin Kasim (w. 191 H), dikenal murid terdekat, dan belajar pada Imam Malik selama 20 tahun; Abu Muhammad Abdullah bin Wahab bin Muslim (w. 197 H); Asyab bin Abdul Aziz al Kaisy (w. 204 H); Abu Muhammad Abdullah bin Abul Hakam al Mishri (w. 214 H) dari Mesir, dan lain-lain. Dan para pengembang madzhab ini berikutnya, antara lain: Muhammad bin Abdullah bin Abdul hakam (w. 268 H); Muhammad ibn Ibrahim al Iskandary bin Ziyad, yang lebih populer dengan nama Ibn al Mawwaz (w. 296 H).
     Disamping itu ada pula murid-murid lainnya yang berdatangan dari Tunis, Hejaz dan Bashrah. Madzhab ini banyak dipelajari oleh mereka yang berasal dari Afrika dan Spanyol, dan berkembang hingga kini.
 
Karya
  • Al Muwatha’, kitab ini disusun Imam Malik pada tahun 144 H. Jumlah hadits yang terdapat dalam kitab ini kurang lebih 1720 buah, dengan perincian, yang musnad 600 buah, yang mursal 222 buah, yang mauquf 613 buah dan yang maqthu 285 buah. Kehadiran kitab ini dalam masyarakat waktu itu mendapat sambutan yang luar biasa dari pendukung-pendukung sunnah. Ulama yang datang kemudian banyak mensyarahkan kitab ini, diantaranya As Suyuthi dengan kitabnya Tanwiru’l Hawalik, Al Khathaby mengikhtisarkannya dengan nama Mukhtasharu’l Khathaby. Kitab Syarah yang lainnya, ‘Abdi Barr dengan nama At Tamhid Wa’l Istidkar, Abul Walid dengan nama Al Mau’ib, Az Zarqany dan Ad Dihlawy dengan nama Al Musawa
  • Ar Raddu ‘Alal Qadariyah
  • Ar Risalah Ila Ar Rasyid Fil Adab Wal Mawa’idz
  • Al Mudawwanatul Qubra
  • Kitab Al Syia
  • Risalah Fil Raddin Al Qadariyah
  • Tafsir Ghaibil Qur’an

(by: Adeng Lukmantara)

Referensi:

 

1.    Ahmad, KH. Jamil,    Seratus Muslim Terkemuka   (Terj),   Pustaka Firdaus,   Jakarta, 1984, Cet.-3.
2.    Almaraghi, Abdullah Musthafa,   Pakar Pakar   Fiqih Sepanjang Sejarah, LKPSM, Yogyakarta, 2001
3.  Amin, Husayn Ahmad,    Seratus Tokoh dalam   Sejarah Islam,   Remaja   Rosdakarya,  Bandung, 2001, cet-6.
4.    Dahlan, Abdul Aziz (editor),   Ensiklopedia Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1996, (6 Jilid)
5.    Dahlan, Abdul Aziz (editor), Ensiklopedia Hukum Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve, jakarta, 1996, Cet-1. (6 Jilid)
6.    Dahlan, Abdul Aziz (editor), Ensiklopedia Islam Untuk Pelajar, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, (6 Jilid)
7.    Syahrastani, Muhammad ibn ‘Abd al Karim Ahmad,   Al Milal wa Al Nihal, Aliran-aliran Teologi dalam Islam    (terj. Muslim   Sects and Divisions: The Section on Muslim Sects in Kitab Al Milal wa Al Nihal), Mizan, 2004, cet-1.
8.    …………...., Leksikon Islam, Pustaka Azet, Jakarta, 1998
 

 

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda