ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI FIQIH > Ahli Fiqih Abad 8 H/ 14 M > Ibn Taimiyah

 
 
 
 
 
 
 
 

Ibn Taimiyah

 

IBNU TAIMIYAH (661-728 H /      - 1328 M)
Pembaharu
 
Apa maunya musuhku padaku
Akulah surgaku dan kebunku ada didadku
Kemana aku pergi dia tidak pernah melepaskanku
Penjaraku adakalah khalwat
Matiku adalah syahid
Dan pengasingan terhadap diriku adalah siahah (tur/ rantauan)
    
    Seorang tokoh purifikasi (pemurnian) Islam, pembaharu pemikiran terbesar di awal abad 8 H / 14 M. Ia seorang pembangkit dan penegak paham salaf yang berpikir bebas dan sangat menjunjung tinggi kemerdekaan hati nurani.
    Nama Taqiyuddin Abbas Ahmad Ibn Abdul Halim Ibn Salam Bin Abdullah Bin Taimiyah Ad Dimasyqi. Lahir di Harran, pada hari Senin 10 Rabiul Awal 661 H. Waktu kecil ia dikenal dengan nama Ahmad Taqiyuddin, sebutan lainnya Abil Abbas, tetapi dikemudian hari ia terkenal dengan nama Ibn Taimiyah. Ayahnya, Syihabuddin Abdul Halim adalah seorang ahli hadits dan ahli fiqih Hambali yang cukup berpengaruh di zamannya. Sedang kakeknya Abul Barakat majduddin juga seorang ulama.
    Ibn Taimiyah dilahirkan dan dibesarkan ketika dunia Islam sedang mengalami petaka yang sangat besar. Dunia Islam yang waktu itu belum pulih dari porak poranda akibat perang salib, bencana yang lebih buruk dan tragis datang, yaitu serangan Mongol yang menghancurkan dan meluluhlantakan pusat kekhalifahan Baghdad dan daerah-daerah lainnya berada dalam ancaman, termasuk Damascus. Hasil karya intelektual berabad-abad dihancurkan dalam sekejap.
    Pada pertengahan tahun 667 H, ia dibawa pindah bersama keluarganya ke Damascus, karena Harran waktu itu sedang ada dalam ancaman tentara Mongol. Di Damascus inilah Ibn Taimiyah mendapat kesempatan belajar kepada ulama-ulama besar di zamannya, pada saat itu banyak ulama yang mengungsi ke Damascus karena daerah-daerahnya terancam serangan Mongol. Di samping mendapat bimbingan ayahnya sendiri, ia mengambil mamfaat dari Zain Al Din Ahmad, Al Muqaddasi, dan lain-lain, dimana gurunya kurang lebih 200 orang.
     Taimiyah kecil sangat terkenal akan kecerdasannya, otaknya sangat tajam dan daya ingatnya kuat. Pada usia yang relatif muda ia telah hapal Al Qur’an dan menguasai ilmu-ilmu keagamaan: fiqih rasional, teologi (ilmu kalam), logika dan filsafat. Ia selalu hadir di majelis ilmu dan selalu bertukar pikiran dengan ulama-ulama tua. Penduduk Damascus merasa kewalahan dari hal kecerdasan Ibn Taimiyah kecil yang luar biasa, sehingga beberapa ulama dari Allepo (Halb) mendatangi Damascus hanya untuk menyaksikan dan menguji kehebatannya.
     Pada usia 19 tahun ia diijinkan memberi fatwa, dan sejak itulah ia mulai menulis buku. Pada tahun 1282 M (usia 21 tahun) ia menggantika posisi ayahnya yang meninggal dunia sebagai guru besar hukum Hambali (di perguruan Darul Hadits Al Sukriyyah, sekolah ternama yang hanya menerima tenaga pengajar pilihan). Di Perguruan tinggi ini ia sangat disegani oleh senior-seniornya. Ibn Katsir yang menjadi salah seorang muridnya mengatakan : “Sungguh, siapapun mengakui kebrilyanan guru saaya yang usianya masih muda itu.” Ia memangku jabatan itu dalam derajat kemuliaan selama 17 tahun, serta sekaligus mengawali kariernya yang kontroversial dalam kehidupan masyarakat.
    Pada 17 Rajab 699 H, ia beserta pengikut-pengikutnya mendatangi tempat berkumpulnya para pemabuk. Minumannya ia tumpahkan dan wadah-wadahnya ia pecahkan. Pada kesempatan lain ia memerangi orang-orang yang murtad (akibat serangan Mongol) didaerah pegunungan dan mengislamkan kembali. Pada Rajab 704 H, ia mengerahkan puluhan pembelah batu guna menghancurkan batu besar di sungai Quluth (pinggiran kota damascus), karena batu besar tersebut dianggap keramat dan sering diminta barakah oleh warga setempat.
    Tidak hanya bid’ah dan khurafat yang ia perangi, Ibn Taimiyah juga sangat berperan dan berada di garda terdepan dalam menghalau serangan Mongol di Damascus. Khutbah-khutbahnya membangkitkan semangat rakyat dan menggugah Sultan Al Nashir (Penguasa Mesir dan Syam) di Mesir untuk mengangkat senjata melawan Mongol. Pada perang dasyat di Marj-As-safar, pada tahun 1302 M (702 H), Ibn Taimityah berjuang dengan gagah berani, sehingga pasukan Mongol disamping dapat dihalau dan diusir dari damascus, mereka juga mengalami kerugian besar.
    Sebagai penganut kemerdekaan hati nurani, cara berpikir dan berpandangan yang bebas itu tidak cocok dengan kaum muslim ortodoks dan konvensional. Ia kutuk orang-orang yang memuja orang-orang suci / wali/ syekh, dan ia juga menyarankan oposisi di berbagai daerah. Hal ini mendapat reaksi dan menimbulkan kemarahan para pemuka agama tradisionalis dan pemerintahan waktu itu. Sehingga pada 5 ramadhan 705 H, datang surat panggilan dari penguasa Mesir dan Syam (Sultan An Nashir Muhammad bin Qulaun). Di Mesir ia ditangkap dan dimasukan ke dalam penjara selepas ceramah dari sebuah majelis.
    Di penjara ia tetap beraktifitas, ketegarannya mendorong terus beramar ma’ruf nahi munkar. Di penjara ia menegur orang yang main catur, judi dan undian sehingga melalaikan shalat. Pada 23 Rabi’ul Awal 707 H, ia bebas atas jasa seorang pejabat Arab. Setelah bebas ia mengajar di sekolah-sekolah, antara lain Madrasah Ash shalihiyah. Pada 18 Syawal 770 H ia kembali ke Damascus. Tetapi ada perbedaan pendapat dengan sultan, yang akhirnya ia dipenjara untuk beberapa bulan (pada tahun 1320 M).
   Tak lama kemudian terjadi pergeseran konstalasi politik di Mesir dan Syam. Sultan An Nashir diganti oleh Rukhnuddin Bibrus Al Jasynakere, dan Syaikh Nashr Al Munbajji Al Murrabi Ar Ruhi, seorang ulama yang anti Ibn Taimiyah menjadi penasehatnya. Sehingga pada akhir Shafar 709 H Ibn Taimiyah dibuang ke Iskandariyah, dengan alasan menghindari Mesir dari disintegrasi. Di Iskandariyah ini Ibn Taimiyah mendapat pengikut yang banyak. Akhir 709 H, Sultan An Nashir kembali memimpin Mesir dan Syam dan mengangkat Ibn Taimiyah sebagai penasehatnya.
    Sampai akhir 726 H, Ibn Taimiyah berkonsentrasi pada pendidikan, menulis, ceramah dan mengeluatrkan fatwa . Salah satu fatwanya yang terkenal adalah larangannya menziarahi kubur termasuk kuburan Rasulullah. Ia bersandar kepada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim : “ Allah melaknati orang yahudi dan nasrani yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid.”
     Fatwa ini mendapat reaksi dari kalangan ulama, banyak kalangan yang merasa gelisah, sebab Rasulullah adalah manusia yang diagungkan. Banyak ulama yang menganggap fatwa ini tidak pada tempatnya dilihat dari segi kedudukan Nabi SAW. Karena fatwa inilah pada 7 Sya’ban 726 H / 1326 M, Ibn Taimiyah ditangkap dan dipenjara oleh Sultan An Nashir di benteng Damascus. Pemenjaraan ketiga kalinya ini dimamfaatkan oleh lawan-lawannya, sehingga beberapa pengikut Ibn Taimiyah dimasukan pula ke dalam penjara dan ada pula yang diarak diatas keledai dengan di maki-maki.
     Dalam penjara Ibn Taimiyah tetap saja berkarya, sehingga pada 9 Jumadil Akhir 728 H, pemerintah merampas semua alat baca dan tulis di penjara. Tetapi ia terus menulis dengan memamfaatkan kertas-kertas sampah dan arang sebagai alat tulisnya. Tetapi ada satu hal yang tidak dapat dilawannya yaitu kondisi fisik telah menggerorogoti usianya. Akhirnya ia jatuh sakit dan meninggal pada malam 22 Dzulqaidah 728 H / 1328 M (ada juga yang mengatakan 1327 M).
    Ia banyak meninggalkan karya tulis, dan karya-karyanya tersebut kebanyakan berisikan kritik terhadap segala paham aliran yang berkembang di dunia Islam waktu itu.
 
Pemikiran dan Pengaruhnya
    Ibn Taimiyah adalah sang pembaharu dan mujtahid terbesar diawal abad ke-8 M/ 14 M, yang hidup dimasa degradasi sosial politik melanda dunia Islam. Ia seorang yang menolak taqlid dan juga ijma. Sebagai penganut Hambali, ia setia mengikuti Qur’an dan Sunnah, tidak suka kompromi dan seorang antromorfis sejati, seperti pendahulu keagamaannya, Imam Hambali. Ia terang-terangan menyatakan permusuhan terhadap eksponen muslim berfilosofi Yunani, dan mengkritik keras dokrin Ibn Arabi, tentang wihdatul wujud (kesatuan makhluk dengan tuhan).
    Ia adalah tokoh yang kontroversial di dunia Islam. Ia seorang pemikir yang bebas dan penganut kemerdekaan hati nurani, yang yakin kepada keunggulan hati nurani individu dan seorang yang ingin melihat Islam dalam kemuliaan yang sejati. Lalu ia mengecam pedas semua pencemaran dan pengaruh asing yang merasuk ke dalam Islam. Ia kecam para pelaku bid’ah, ia perangi orang yang berbuat kemaksiatan dan murtad serta ia hancurkan simbol-simbol / benda-benda yang dianggap lambang dari kemusyrikan. Karena sikapnya yang demikian ia kemudian dicaci, dimaki, dipukul, dicambuk, dipenjarakan dan dianiaya lahir dan batin. Tetapi ia tetap dalam tekadnya, hidup sesuai dengan keyakinannya meskipun dari waktu ke waktu tak pernah berhenti menghadapi penganiayaan.
   Pemikiran Ibn Tamiyah ini diteruskan oleh murid-muridnya : Ibn Qoyyim Al Jauziyah, Ibn Abdul Hadi, Ar ramli, Ibn Katsir, dan lain-lain. Dan tokoh-tokoh ini telah mengilhami / menginspirasikan gerakan Wahabi pada abad ke-18 M di Arab Saudi, dibawah pimpinan Muhammad Bin Abdul Wahab, dan sekolah pembaharuan Al Manar di Mesir pada abad-20 M.
 
 Karya
  • Kitab Ar Rad ‘Ala Al Manttiqiyyin (Jawaban terhadap para ahli manthiq / ahli logika), buku tentang kritiknya terhadap dasar-dasar logika Aristoteles,Yang pertama: teori dan definisi Aristoteles tidak bisa dipertahankan lantaran sulitnya menetapkan apa yang disebut infima species atau pembedaan esensial yang menjadi pijakan pokok bagi suatu definisi. Yang kedua, teori silogisme Aristoteles juga tidakbisa dipertahankan karena terbaginya semua pernyataan (judgement) yang mendasari silogisme pada swabukti (self evidend) dan bukan hukum. Dengan mempertimbangkan tingkat perbedaan kecerdasan manusia, kemampuan memahami middle term yang menentukan suatu penalaran silogistik akan sangat beragam. Karenanya validitas penalaran logis menjadi bersifat subyektif dan relatif.
  •  Minhaj As Sunnah An Nabawiyah fi Naqd Kalam asy Syi’ah wa al Kadariyah (Metode Sunnah Nabi dalam menyanggah teologi syi’ah dan kadariyah), dalam buku ini ia dengan terang-terangan menentang Syi’ah dan pahm qadariyah. Buku ini sendiri merupakan respon atas buku Minhajul Karomah karya ulama besar Syi’ah Al Muthahhar Al Hulli.
  •    Majmu’ at al rasail
  •  As siyasah asy Syar’iyyah fi Islah ar ra’I wa ar Ra’iyyah (Politik hukum untuk kemashlahatan penguasa dan rakyat), suatu kitab tentang politik dan pemerintahan.
  •  Al karamah fi Ma’rifah al Imamah (Kemuliaan dalam pengetahuan para penguasa).
  •    Al Hisbah fi al Islam (Pengawasan terhadap kesusilaan dalam Islam).
  •   Al ‘Aql wa al Naql (Akal dan tradisi). Dalam buku ini ia menyerang Ibn Rusyd yang dalam kitab Al kasyf membatasi kelompok teologis pada 4 aliran, yaitu: kaum estorik, literalis, Mu’tazilah dan asy’ariyah, tidak pernah dan menyebut orang-orang terdahulu (salaf) yang berakidah paling baik dalam umat (muslim) ini hingga hari kiamat.
  •  Bayan Muwafaqat Shahih Al Ma’qul Sarih Al manqul (Uraian terhadap kesesuaian pemikiran yang benar dan dalil naqli yang jelas)
  •    Ar Radd ‘ala Al hululiyah Wa Al Ittihadiyah (Jawaban terhadap paham hulul dan ittihad)
  •     Ar Radd ‘Al Falsafah Ibn Rusyd
  •      Muqadimah Fi Usul At tafsir (pengantar mengenai dasar-dasar tafsir)
  •    Al Iklil Fi Al Mutasyabah Wa At Ta’wil (suatu pembicaraan mengenai ayat mutasyabih dan ta’wil)
  •   Al jawab As sahil Liman Baddala Iman Almasih (Jawaban yang benar terhadap orang-orang yang menggantikan iman terhadap Al Masih)
  •   Ar Radd ‘Ala Nusairiyah ( Jawaban terhadap paham Nusairiyah)
  •    Risalah Al Qubrusiyah (Risalah tentang Qubrusiyah)
  •    Itsbat Al Ma’ad (menentukan Tujuan)
  • ·  Subut An Nubuwat (Eksistensi kenabian)
  •  At Tasawwuf
  •  Tauhid Al Uluhiyah
  •  Al Suluh
  •   Al safiyah Wa Al Fuqara
  •   Ikhlas Ar Ra’I wa Ar ra’iyat (Keikhlasan pemimpin dan yang dipimpin)
  •   Al kalimu’th Thayyib, kitab kumpulan hadits-hadits qudsy.
  • At Tawassul Wal Wasilah
  •   Maj’mu Fatawa (Kumpulan fatwa)
  • Ar Raddu ‘Ala Al Akhna’I
  •  Al Jawabul Al Baahir Liman Sa’ala ‘An Ziyaratil Kubur

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda