ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI FILSAFAT > Filsuf Sufi > Al Amiri

 
 
 
 
 
 
 
 

Al Amiri

 
AL AMIRI (W. 381 H/ 992 M)
Filsuf sufi
 
 Seorang filsuf yang mempunyai kecenderungan terhadap sufisme. Bersahabat dengan kaum sufi dan menulis beberapa persoalan yang menjadi subjek pembahasan kalangan sufi.
   Nama: Abu al hasan Muhammad al Amiri atau Abu al hasan ibn Abi Dzaar. Lahir di Nisabur awal abad 4 H / 10 M, dan meninggal di tempat yang sama tahun 381 H.
   Ia belajar kepada Abu Zaid al balkhi. Pada usia yang relatif muda, 2 dekade setelah kematian gurunya, ia pergi kebarat, melakukan pengembaraan ke wilayah-wilayah yang jauh, untuk mencari pengetahuan dan pencerahan serta mencari perlindungan (patronase) dari penguasa atau wazir (perdana mentri).
     Ia menghabiskan 5 tahun di rayy, di istana wazir Ibn al Amid dan penggantinya, Abu al fath ibn al Amid (putra Ibn al Amid), wazir dinati buwaihi yang cinta ilmu, pelindung para filosof pada tahun 360 H/ 970 M,. Di istana Ibn Al amid dan kemudian putranya, ia bertemu banyak para ilmuwan ternama, seperti seperti: Ibn Miskawaih, yang menganggap Al Amiri sebagai filsuf yang sempurna.
   Dari rayy ia mengunjungi baghdad 2 kali. Disana ia menjalin hubungan dengan filsuf-filsuf setempat, seperti Yahya bin Adi, filsuf kristen.
   Disamping sebagai asketis, ia terkenal juga sebagai ahli debat (diskusi). Di baghdad ia pernah terlibat beberapa diskusi / debat dengan intelektual-intelektual ternama waktu itu. Pada tahun 360 H/ 970 M ia menghadiri majelis yang membahas persoalan hukum di Baghdad. Dan pada tahun 364 H/ 974 M, ia terlibat perdebatan dengan ahli tata bahasa ternama, Abu Sa’id al Syirafi, yang diadakan oleh wazir Abu al Fath al Amid.
   Setelah beberapa tahun di Ray, pada tahun 370 H/ ia kemudian kembali ke tanah kelahirannya, Nisabur, tempat ia berjumpa dengan sekelompok sufi pengembara.
    Dan pada tahun-tahun terakhirnya, Al Amiri menikmati kemurahan hati figur-figur teras istana dinasti samaniyah di Khurasan dan Transoxania dan tinggal di ibukota dinasti itu, Bukhara, serta kota utamanya, Nisdhapur, tempat ia meninggal.
   Produksi kesusastraannya menjelang akhir kariernya, dihasilkan di bawah perlindungan amir dinasti Samaniyah tersebut.
   Karya tulisnya sekitar 25 judul, diantaranya masih ada dan dipublikasikan.
 
Pemikiran
    Al Amiri adalah filosof muslim yang terdokumentasi paling baik dalam rentang setengah abad antara Al farabi dan Ibn Sina(selain Ibn Miskawaih). Ia menganggap dirinya sebagai penerus Al Kindi dan sering memuji Al Kindi dan Al Balkhi (gurunya).
   Yang menarik dari Al Amiri, terutama sekali, ingin menunjukan bagaimana filsafat dan Islam tidak hanya dapat didamaikan tetapi juga diperlakukan sebagai jalan menuju kebenaran yang saling melengkapi.
  Pandangan-pandangannya tentang akal dan wahyu, tercatat dalam karyanya ‘Al I’lam bi manaqib al Islam’. Dengan memusatkan perhatian pada khalayak awam, ia menegaskan dalam karya ini pentingnya penyelidikan rasional terhadap keyakinan dan praktik religius, dan berdasarkan klaimnya bahwa tujuan puncak pengetahuan aadalah perilaku bijak dan arif, berusaha secara terprogram membandingkan Islam dengan agama-agama lain untuk menunjukan bagaimana Islam lebih berhasil dalam mencapai tujuan tersebut daripada agama-agama lain.
  Disamping pembelan umumnya terhadap Islam, ia juga menapaki argumen-argumen filosofis pada masalah-masalah teologi.
    Dan sebagai pengembara, menurut Al tauhidi, yang pernah berjumpa di Baghdad, menggambarkan Al Amiri, seorang dari para penjelajah dunia, yang mengembara ke kota-kota dalam berjuang untuk mengetahui “ Rahasia Tuhan diantara manusia.
  Ia menjelajahi seluruh padang pasir dan daerah pinggiran dengan menyamar sebagai sufi pengembara. Gagasan keagamaan tentang hijrah (muhajarah) ditransformasikan menjadi sebuah simbol keterlepasan individu dari masyarakat dan pencarian kesempurnaan.
    Salah satu pandangannya yang terpenting, yaitu bagaimana menjalankan kehidupan di dalam masyarakat yang korup, yang sulit untuk di ubah. Ia berpandangan bahwa seseorang harus usaha keras mencapai kesempurnaan individu-individu yang terasing.
     Ia mengajarkan bahwa pencinta kebijaksanaan harus mengasingkan diri dari masyarakat dan nilai-nilainya. Menurutnya, masyarakat hanya akan menjadi penghalang bagi seorang filosof untuk mencapai kesempurnaan.
 
Karya
  •   At Taqrir li aujuh al taqdir. Kitab ini ia selesaikan tahun 375 H / 985 M, yang dipersembahkan kepada Abu al Husain al ‘Utbi, wazir Nuh ibn Mansyur.
  • ·   Al Amad ‘ala al Abad. Kitab ini ia selesaikan di Bukhara pada tahun 375 H/ 985 M.
  •  Al ‘Ilam bi Manaqib al Islam
  • Inqadz al basyar min Al jabr wa al Qodar (Menyelamatkan umat manusia dari nasib dan taqdir)
  • Al sa’adah wa al Is’ad, suatu doksografi penting mengenai pemikiran etika dfan politik.
  • Al Nask al Aqli (Intelectual Ascetion)
  • Al Qaul fi Ibsar wa al Mubsar, dalam karya ini ia meninjau ulang berbagai teori yunani tentang oftik dan fisiologi (penglihatan
  • Fushul fi al ma’alim al ilahiyah

by: Adeng Lukmantara

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda