ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI FILSAFAT > Filsuf / Ahli Filsafat > Sadr al Din al Syirazi

 
 
 
 
 
 
 
 

Sadr al Din al Syirazi

 
SADR AL DIN AL SYIRAZI (979-1050 H / 1572-1641 M)
Filsuf
 
    Seorang filsuf yang secara jenial berhasil memadukan ketiga potensi manusia dalam suatu madzhab pemikiran yang sistematis. Ditangannyalah filsafat Islam mengalami perubahan besar (lompatan-lompatan besar). Jika sebelumnya filsafat, irfan (tasauf Islam) dan kalam (teologi) seolah terpisah, ia mampu merekatkan semua kekuatan yang ada. Ia menyebut madzhab persatuannya itu sebagai Al hikmah Al Mutu’aliyah (hikmah yang memuncak / hikmah transenden). Al hikmah Al Muta’aliyah yang menampilkan Islam sebagai muara berbagai jalan menuju kesempurnaan eksistensial berpengaruh besar pada arah perkembangan filsafat Islam selanjutnya.
     Nama Muhammad Ibn Ibrahim Yahya Qawami Syirazi, dan terkenal dengan nama Sadr Al Din Asy Syirazi, atau Akhun Mulla Shadra. Sedang dikalangan muridnya terkenal dengan nama Sadr Al Muta’alihin. Ia lahir di Syiraz. Ayahnya pernah menjadi gubernur diwilayah Fars, dan ia sendiri merupakan anak tunggal. Karena status sosialnya yang tinggi, ia mendapat pendidikan yang terbaik dikotanya, baik dalam ilmu keagamaan (al qur’an, hadits, dan sebagainya).maupun umum (bahasa, sains, filsafat), disamping ia sendiri termasuk orang yang cerdas, yang dengan cepat menguasai apa saja yang diajarkan kepadanya.
     Ia kemudian melanjutkan studi dikota Isfahan, sebuah kota yang penting masa itu. Disana ia belajar kepada teolog dan saintis, Bahauddin Amili (w. 1031 H / 1622 M); juga kepada filsu perifatetik, Mir Abu al qasim Federiski (w. 1050 H / 1641 M); tetapi gurunya yang paling utama adalah seorang filsuf teolog bernama Muhammad, atau yang lebih dikenal dengan nama Mir Damad (w. 1041 H / 1631 M), seorang penggagas berdirinya pusat kajian filsafat dan teologi yang terkenal sebagai aliran Isfahan.
     Di kota Isfahan inilah Shadr mulai dikenal pemikirannya, bahkan menenggelamkan popularitas guru dan teman-temannya. Setelah itu, kemudian ia pindah ke Kahak, suatu desa dipedalaman yang berdekatan dengan Qum. Di kahak ia menjalani hidup zuhud dan pembersihan jiwa dengan melakukan latihan-latihan rohani (dzikir) selama 7 tahun. Tetapi sikap ini mendapat kritikan dari ulam-ulama zahiri. Di kahak ini pula ia banyak menulis buku.
     Atas permintan Syah Abbas II (mp. 1588-1629 M) penguasa safawiyah, ia diminta menjadi dosen pada suatu lembaga pendidikan (madrasah) tinggi yang didirikan oleh gubernur Fars di Syiraz. Berkat Mulla Shadr, Syiraz, kota kelahirannya, menjadi pusat ilmu pengetahuan seperti sebelumnya.
     Mulla Shadra menunaikan ibadah haji sebanyak 7 kali dengan berjalan kaki, dan ia meninggal di Bashrah sekembalinya dari menunaikan ibadah haji yang ke-7. Ia menurut Thabathaba’I meninggalkan karya tidak kurang dari 46 buah ditambah 6 risalah, tetapi Fazlurrahman menyebut 32 atau 33 risalah.
      Mulla Shadra sezaman dengan bapak filsafat modern (barat), Rene Descartes. Pada Mulla Shadra ini terjadi perkembangan filsafat Islam pada abad 17 M. Sebagai perbandingan, seorang filsuf Prancis ahli Heidegger, Henry Corbin, suatu kali pernah menyebut filsafat eksistensialis Heidegger sebagai catatan kaki bagi filsafat eksistensialis (falsafah wujud) Mulla Shadra. Padahal Heidegger adalah seorang filsuf Jerman yang dikenal sebagai tohoh eksistensial terkemuka barat sampai saat ini.   
 
Pemikiran
    Dalam karya utamanya Al Asfar Al Aqliyyah Al Arba’ah fi Al Hikmah Al Muta’aliyah, ia mengetengahkan berbagai bukti menyangkut pertautan timbal-balik antara seluruh potensi manusia. Peningktan atau penyusutan salah satu bagian akan berdampak pada berbagai tingkat eksistensi manusia secara keseluruhan melalui kaidah yang disebutnya Al Harakah Al Jauhariyah (Pergerakan substansial). Ia membuktikan bahwa perjalanan manusia ibarat proses kesinambungan menaiki gradasi eksistensi yang tak berhingga.
     Dalam penjelasannya mengenai dokrin Ash Shirath al Mustaqim (Jalan lurus), ia merujuk kepada berbagai ayat dan ajaran Nabi Muhammad Saw dan para imam yang memberikan gambaran spiritual praktis bagi para penempuh jalan menuju tuhan yang terjadi dalam konteks pergerakan substansial. Dia mengatakan bahwa kemampuan jiwa untuk berdiri diatas shirat memang ditentukan oleh tingkat kepatuhannya pada hukum-hukum islam (syari’ah). Namun demikian, kendatipun esensial, kepatuhan itu hanya untuk menjejakan kaki diatasnya dan bukan untuk menitinya sampai ujung. Unruk dapat melangkah maju, para penempuh harus bisa memandang panjang dan lebarnya shirath dengan cara-cara iman dan penyingkapan batin. Dengan demikian, pengalaman ajaran eksoterik harus dibarengi dengan peningkatan iman.
      Dalam pendahuluan kitab Al asfar, ia menyesalkan sikap berpaling masyarakat muslim dari studi filsafat. Padahal, prinsip-prinsip filsafat yang dipadukan dengan kebenaran wahyu nabi adalah cermin nilai kebenaran tertinggi. Ia menyuarakan keyakinannya tentang keharmonisan sempurna antara filsafat dan agama. Menurutnya, keharmonisan itu menunjukan kebenaran tunggal yang dibawa oleh adam. Dan dari Adam kebenaran ini diturunkan kepada Ibrahim, kemudian para filsafat Yunani, lalu para sufi dan akhirnya para filosof pada umunya. Orang Yunani menurutnya, semula menajdi penyembah bintang, akan tetapi dalam perjalanannya, mereka mengambil filsafat dan teologi dari Ibrahim.
 

Karya


  • Al Asfar Al ‘Aqliyah Al Arba’ah fi Al Hikmah Al Muta’aliyah (Empat perjalanan intelektual (akal) dalam hikmah yang memuncak / hikmah transendental). Kitab ini terkenal juga dengan nama Hikmah Transendental atau sebagai 4 Pengmbaraan (Perjalanan) atau Al Asfar Al Arba’ah, merupakan karya utamanya yang menjadi dasar pada karya pendeknya dan sebagai risalah pemikiran pasca Ibn Sina pada umumnya.
  • Al Hasyr (Tentang kebangkitan)
  • Al Mabda wa Al Ma’ad (Permulaan dan pembalian). Berisikan tentang metafisika, kosmologi dan eksatologi. Dalam buku ini, ia secara tegas menandaskan keserasian penuh prisip-prinsip rasional teosofis dan nilai-nilai tradisional Islam.
  • Al Hikmah Al ‘Arsyiyyah (Hikmah yang diturunkan dari ‘Arasy Ilahi)
  • Huduts Al Alam (Penciptaan alam)
  • Kasr Al asnam Al jahiliyah fi Ahamm Al Mutasawwifin (Penghancuran arca-araca paganisme (berhala-berhala Jahiliyah) dalam mendebati mereka yang pura-pura menjadi sufi). Kata Mutasawwifin disini berarti mereka yang berpura-pura menjadi sufi tetapi meninggalkan syari’at.
  • Khalq Al ‘Amal (Sifat kejadian perbuatan manusia)
  • Al lama’ah Al Masyriqiyyah (Percikan cahaya ahli isyraq dalam seni logika)
  • Mafatih Al ghaib (Kunci alam ghaib)
  • Al Masya’ir (Keprihatinan), tentang penembusan metafisika.
  • Al Mi’raj, Tentang perilaku perasaan
  • Mutasyabihat al qur’an (Ayat-ayat mutasyabihat dalam al Qur’an).
  • Al Qadawa Al Qadr fi Af’al Ab basyar (Tentang masalah qadla dan qadar dalam perbuatan manusia), membahas ketetapan, pembebasan dn bgiman pemberian tuhn dapat dilihat dri kcmta manusia.
  • Al syawahid al rububiyah fi Al manahij al Sulukiyah (Penyaksian ilahi akan jlan ke arh kesederhanaan rohani). Merupakan ringkasan dokrin Mulla Shadra yang paling lengkap ditulis berdasar tujuan irfan.
Disamping itu ia juga mengomentari/ mengulas/ mensyarah karya-karya filsafat dari filsuf muslim sebelumnya, antara lain komentar terhadap:
  • Kitab Hikmah al Isyraq karya Suhrawardi
  • Al Hidayah fi Al Hikmah, karya Al Abhari
  • Asy Syi’fa’ karya Ibn Sina
  • Usul Al Kafi karya Kulani
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda