ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI FILSAFAT > Filsuf / Ahli Filsafat > Ibn Miskawaih

 
 
 
 
 
 
 
 

Ibn Miskawaih

 
 
IBN MISKAWAIH (330-421 H / 932-1030 M)
Sejarawan & filsuf etika
 
      Seorang sejarawan terkenal dan filsuf etika terkemuka. Sebagai filsuf, ia memperoleh sebutan bapak filsuf etika muslim, karena dialah yang menggemukakan teori etika dan sekaligus menulis buku tentang etika yang pertama yang komprehensif.
    Nama Abu Ali Ahmad bin Ya’qub bin Miskawaih. Lahir di kota Rayy dan meninggal di Isfahan, Iran. Ia terkenal dengan nama Ibn Miskawaih, nama kakeknya yang beragama majusi yang kemudian masuk Islam. Ia juga terkenal dengan gelar Abu Ali dan juga al Khazin (Bendaharawan), disebabkan pada masa kekuasaan Adhub ad Daulah dari dinasti Buwaihi, ia memperoleh kepercayaan sebagai bendaharawan.
     Pada masa mudanya ia belajar sejarah kepada Abu bakar Ahmad Kamil al Qadhi (w. 350 M / 960 M), tentang buku Tarikh Ath Thabary.. Dan belajar filsafat dari Ibn al Khammar, seorang komentator terkenal mengenai filsafat Aristoteles. Kemudian ia mengabdi kepada Al Muhallabi (w. 352 H / 962 M), seorang wazir Muizz ad Daulah, dari dinasti Buwaihi, sampai Al Muhallabi meninggal. Lalu ia mengabdi sebagai pustakawan (al khazin) selama 7 tahun dari Ibn al Amid (w. 360 H / 970 M), seorang wazir Rukh al daulah (saudara Muizz al Daulah) di rayy, yang amat pandai dan tokoh sastra terkemuka. Setelah Al Amid meninggal, ia mengabdi pada anak Al Amid, Abu al Fath, hingga Abu al Fath meninggal, yang diganti oleh Sahib ibn ‘Abbad, wazir terkemuka dan ahli sastra (merupakan lawan politik ibn Al Fath). Lalu Ibn Miskawaih meninggalkan Rayy menuju Baghdad. Disini ia diangkat menjadi bendaharawan dan jabatan-jabatan lain oleh ‘Adhud al Daulah dari dinasti Buwaihi. Dan setelah Adhud al Daulah meninggal (w. 372 H / 983 M) meninggal, ia mengabdi kepada penggantinya Shamsham ad Daulah (w. 388 H / 998 M) dan Baha’al Daulah (w. 403 H / 1012 M).
 
Pemikiran
     Studi keilmuwan ibn Miskawaih meliputi: kedokteran, bahasa, sejarah, sastra dan filsafat. Tetapi ia lebih menitikberatkan karyanya pada filsafat etika. Hal ini dimungkinkan termotivasi oleh kemerosotan moral yang melanda masyarakat waktu itu. Bukunya yang berjudul Tahdzib al akhlak dan berbagai naskah lainnya tentang etika, ia mengetengahkan analisis yang paling tuntas mengenai teori etika Aristotetelian dengan latar belakang psikologi platonik dan daya tarik neo platonik.
     Tentang masalah akhlaq / etika ini, sebenarnya pernah ditulis oleh para ilmuwan sebelumnya, seperti: Ibn Al Muqaffa dan Al Jahizh. Tetapi buku-buku (karya) yang mereka tulis hanyalah kumpulan hikmah dan kata-kata mutiara yang susunan katanya sangat bagus, tetapi ditulis secara tidak teratur. Ibn Miskawaihlah (dan juga Ibn Zakaria Ar Razi) yang menulis tentang akhlaq secara teratur, filosofis dan menyeluruh, sehingga menjadikan akhlaq sebagai sebuah ilmu dalam kajian Islam.
       Yang pertama kali dibicarakan oleh ibn Miskawaih tentang akhlaq adalah perihal jiwa, yang merupakan pembahasan dasar tentang akhlaq. Menurutnya, jiwa adalah sebuah inti yang sangat halus yang tidak dapat dirasakan oleh salah satu indra manusia. Jiwa mengetahui jatidirinya dengan dirinya sendiri. Dia mengetahui bahwa dia mengetahui dan bekerja. Dia bukan badan, karena dia bisa menerima sesuatu yang saling bertolak belakang, seperti keberanian dan rasa takut. Sifatnya yang sangat menerima pengetahuan. Jiwa memang suatu kesatuan antara akal, akil dan ma’qul. Ia memberikan penjelasan bahwa dengan jiwa, manusia dapat mencapai puncak wujud, bahkan menggapai dzatnya.
     Dan tentang moral atau akhlaq, menurutnya akhlaq adalah suatu sikap mental (halun li al nafs) yang mengandung daya dorong untuk berbuat tanpa berpikir dan pertimbngan. Sikap mental ini terbagi 2, ada yang berasal dari watak dan ada pula yang berasal dari kebiasaan dan latihan. Dengan demikian, sangat penting menegakkan akhlaq yang benar dan sehat, sebab dengan landasan yang begitu akan melahirkan perbuatan-perbuatan baik tanpa kesulitan.
     Masalah pokok yang dibicarakannya dalam kajian akhlaq meliputi kebaikan (al khair), kebahagiaan (as sa’adah) dan keutamaan (al Fadhilah).
      Tentang kebaikan, menurutnya, manusia memiliki sikap bermacam-macam. Diantara mereka ada orang yang bertabi’at baik, yang jumlahnya sangat kecil, ada yang bertabi’at jahat, yang jumlahnya sangat banyak. Adapula manusia yang tidak termasuk ke dalam kelompok pertama dan kelompok kedua, mereka bisa saja masuk kepada kelompok yang bertabi’at baik ataupun kelompok yang bertabiat jahat karena dibiasakan. Allah adalah kebaikan mutlak, semua orang yang baik berupaya mencapai kepada-Nya.
      Ibn Miskawaih membedakan antara kebaikan (al khair) dan kebahagiaan (as sa’adah). Menurutnya kebaikan adalah apa yang dituju oleh manusia dalam prosesnya sebagai manusia. Sedangkan kebahagiaan adalah milik pribadi. Seseorang tidak berbahagia, kecuali dia telah dapat memuaskan tabi’atnya.
     Tentang kebahagiaan (al sa’adah) ini, ia mengatakan bahwa kebahagiaan surgawi yang abadi itu merupakan puncak segala kebahagiaan. Orang yang telah mencapai kebahagiaan yang tertinggi itu, jiwanya akan senantiasa senang dan tentram, merasa selalu berdampingan dengan para malaikat.
      Untuk mencapai kebahagiaan itu manusia memerlukan adanya syari’at Allah yang dapat memberinya petunjuk dan jalan untuk mencapai kebaikan, sehingga iapun dapat meraih kebahagiaan yang merupakan puncak dari segala kebaikan. Syari’ah yang menggariskan mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga manusia dapat ditunjuki dalam hidupnya untuk menempuh kebaikan dan menghindari keburukan. Bila jalan ini dapat ditempuh dengan baik, niscaya akan tercapailah kebahagian sejati.
    Dan tentang keutamaan (al fadhilah) menurutnya asas dari keutamaan adalah kecintaan manusia kepada semua manusia (mahabbah al insan li al nas kaffah). Tanpa kecintaan tidak akan ada suatu masyarakat (masyarakat tidak akan tegak). Manusia tidak dapat mencapai jatidirinya, kecuali dia hidup bersama-sama jenisnya dan saling memberikan pertolongan. Kecintaan tidak akan berbekas, kecuali dalam kehidupan bermasyarakat. Jika seseorang mengucilkan diri dari masyarakat, hidup sebagai paderi / ahli ibadat, dia tidak akan tahu apakah perbuatannya baik atau buruk.
     Mengingat pentingnya pendidikan akhlaq, ia sangat memberikan perhatian besar terhadap pendidikan anak-anak. Ia menyebutkan bahwa masa kanak-kanak merupakan mata rantai jiwa hewan dengan jiwa manusia berakal. Pada jiwa anak berakhirlah ufuk hewani, dan ufuk manusiawi dimulai. Karena itu anak-anak itu harus dididik akhlaq mulia dengan menyesuaikan rencana-rencannya dengan urutan daya-daya yang ada pada anak-anak, yaitu daya keinginan, daya marah, dan daya berpikir. Dengan daya keinginan anak-anak dididik dalam hal adab makan, minum dan berpakaian, dan lain-lain. Lalu sifat berani, kendali diri diterapkan untuk mengarahkan daya marah. Kemudian daya berpikir dilatih dengan menalar, sehingga akal pada akhirnya dapat menguasai segala tingkah laku.
    Disamping masalah akhlaq yang menjadi spesialisasi kajiannya adalah tentang sejarah. Tentang sejarah ini pemikirannya bersifat filosofis, ilmiyah dan kritis. Menurutnya sejarah bukanlah sekedar narasi (cerita) yang hanya mengungkapkan keberadaan diri raja-raja dan menghiburnya, tetapi lebih jauh merupakan pencerminan struktur politik, ekonnomi, masyarakat pada masa tertentu, atau dapat dikatakan bahwa sejarah merupakan rekaman bangsa-bangsa atau negara-negara tentang pasang surut kebudayaannya.
     Sebagai ahli sejarah pengamatannya sangat obyektif, ia selalu menjaga diri terhadap kecenderungan-kecenderungan umum dalam mencampur adukan kenyataan dan rekaan. Ia tidak hanya mengisi seajrahnya dengan gambaran-gambaran tentang kenyataan, tetapi juga pandangan filosofis, menafsirkan dalam lingkup kepentingan manusiawi dan akibat-akibat yang akan terjadi. Sebagaimana alam, didalam sejarahpun , menurutnya tidak ada tempat bagi kebetulan . karena baginya, sejarah bukanlah kumpulan kenyataan terpisah dan statis, tetapi merupakn proses kreatif dinamis harapan-harapan dari aspirasi manusia. Sejarah tidak hanya mengumpulkan kenyatan-kenyataan yang telah lampau menjadi suatu kesatuan organik, tetapi juga menentukan bentuk sesuatu yang akan datang.
      Karyanya Tajarid al Umam, menurut Leon Caetani, sangat dekat dengan prinsip-prinsip yang dianut oleh ahli-ahli sejarah barat dan ahli-ahli sejarah modern.
 
Karya
  • Tahzib al Akhlaq wa That-hir al ‘Araq (Pendidikan akhlaq dan pembersihan watak), suatu karyanya tentang filsafat etika yang terkenal. Buku ini merupakan karya filsafat etika yang pernah ditulis filsuf muslim dizamannya yang terbilang sangat penting dan monumental. Kitab ini sempat tercecer lebih dari 300 tahun setelah Miskawih meninggal (w. 1030 M), lalu ditemukan dengan tidak sengaja oleh ibn Khatib, dan kemudian Ibn Khatib menyuntingnya. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia oleh penerbit mizan dengan judul Menuju Kesempurnaan akhlaq. Dalam buku ini ia membaginya dalam 7 bagian:
ü Bagian 1 : Membicarakan perihal jiwa yang merupakan dasar pembahasan akhlaq.
ü Bagian 2 : Membicarakan manusia dalam hubungannya dengan akhlaq.
ü Bagian 3 : Membicarakan perihal kebajikan dan kebahagiaan yang merupakan inti pembahasan akhlaq.
ü Bagian 4: Membicarakan masalah keadilan
ü Bagian 5 : Membicarakan cinta dan persahabatan.
ü Bagian 6 & 7 membicarakan masalah pengobatan penyakit-penyakit jiwa.
  • Al Fauz al Akbar, tentang etika.
  • Al fauz al Asghar, tentang ketuhanan, jiwa, dan kenabian.
  • Thabarat an Nafs, tentang etika.
  • Tartib as sa’adat, tentang etika dan politik terutama zaman dinasti Buwaihi.
  • Tajarid al Umam (Pengalaman bangsa-bangsa), merupakan karya sejarahnya terbesar. Buku ini berisi peristiwa-peristiwa sejarah sejak setelah banjir besar Nabi Nuh hingga tahun 369 H. Buku ini ditulis tahun 369 H / 979 M.
  • Al jami’, tentang kedokteran.
  • Al adawiyah, tentang obat-obatan.
  • Al asyribah, tentng minuman.
  • Al Mustaudi, berisi kumpulan syair-syair pilihan.
  • Maqalat fi al nafsi wa al ‘Aql, tentang jiwa dan akal.
  • Jawizan khard (filsafat keabadian / perenialisme) yang membicarakan panjang lebar tentang pemerintahan dan hukum yang berlaku di Arab, Persia, India dan Romawi.
  • As Siyar , tentang tingkah laku kehidupan.
  • Risalah fi Al Lazzah wa al Alam fi jauhar an Nafs
  • Ajwibah wa as ‘Ilah fi al Nafs wa al ‘Aql
  • Al Jawab fi al Masa’il al Tsalats
  • Thaharah al nafs
  • Risalah fi Jawab fi Su’al al Ibn Muhammad Abu Hayyan as Shufi fi Haqiqat al Aql.
  • On The simple Drugs, tentang kedokteran.
  • On The Compotion of The Bajats, tentang seni memasak.
  • Uns al Farid, koleksi anekdot, syair, peribahasa dan kata-kata hikmah.
  • Orders of Happiness
  • Essensi of Justice
  • On Pleasure and Pain

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda