ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI FILSAFAT > Filsuf / Ahli Filsafat > Ibn Bajjah

 
 
 
 
 
 
 
 

Ibn Bajjah

IBNU BAJJAH (475-533 H / 1082-1138 M)
Filsuf, Ahli Fisika, Penyair, dan Komponis (ahli Musik)
 
     Seorang filsuf, komentator Aristoteles, penyair juga komponis (ahli dalam musik) asal Andalusia (Spanyol).     
    Nama Abu bakar Muhammad Ibn Yahya Ibn Al sha’iqh Al Tujibi Al Andalusi Al samqusti Ibn Bajjah, dan di barat ia dikenal Avempace. Lahir di Saragosa, Andalusia (Spanyol), yang berasal dari keluarga Al Tujib, yang bekerja sebagai pedagang emas (Bajjah = emas).
    Ibn Bajjah adalah orang yang berpengetahuan luas dan mahir dalam berbagai ilmu. Ia menguasai sastra, tatabahasa, dan filsafat kuno, seorang komentator karya-karya Aristoteles, ahli fisika, dan ahli musik. Ia juga ahli teori dan praktek ilmu-ilmu matematika, terutama astronomi dan musik, mahir dalam ilmu pengobatan, dan tekun dalam studi-studi spekulatif seperti logika, filsafat alam, dan metafisika. Ia menyandarkan filsafat dan logikanya pada karya-karya Al Farabi dengan memberikan sejumlah tambahan-tambahan.
     Oleh karena itu Abu Bakar Sahrawi (Ibn Tifalwit), gubernur Saragosa dari dinasti Murabithun yang terkenal, mengangkatnya menjadi wazir. Tetapi pada tahun 512 H / 1118 M, Saragosa jatuh ke tangan raja Alfonso 1 (Raja Aragon), sehingga terpaksa ia pindah ke Sevilla. Disini ia menjadi tabib / dokter, kemudian ke Granada, dan pindah ke Afrika Utara, pusat dinasti Murabithun. Tetapi di Syatibah, ia ditangkap dan dipenjarakan oleh Amir Abu Ishak Ibrahim Ibn Yusuf Ibn Tasyfin, karena dituduh sebagai murtad dan pembawa bid’ah (ia dituduh murtad dan bid’ah karena fikiran-fikiran filsafatnya yang asing bagi masyarakat islam di Maghribi (Afrika Utara) yang sangat kental dengan paham sunni ortodox). Tetapi atas jasa Ibn Rusyd, yang pernah jadi muridnya, Ibn Bajjah dilepaskan.
     Kondisi kaum Barbar yang belum bisa berpikir filosofis, menyebabkan ia melanjutkan pengembaraannya ke Fez, Maroko. Dan disini ia diangkat menjadi pejabat tinggi oleh Abu Bakar yahya Ibn Yusuf Ibn Tasyfin, gubernur Fez dari dinasti Murabithun, dan memegang jabatannya selama 20 tahun.
   Pada masa itu terjadi kekacauan dalam sejarah Andalusia (Spanyol) dan Afrika Barat Laut, para gubernur kota dan daerah menyatakan kemerdekaan. Pelanggaran hukum dan kekacauan melanda seluruh negeri, mereka yang bermusuhan saling menuduh sebagai berbuat bid’ahg demi meraih keunggulan dan simpati masyarakat. Musuh-musuh Ibn Bajjah telah mencapnya sebagai ahli bid’ah dan beberapa kali berusaha untuk membunuhnya, tetapi semuanya gagal.
    Ibn Bajjah meninggal pada bulan Ramadhan tahun 533 H / 1138 M di Fez.
 
 
 
Pemikiran
    Filsafatnya di mulai dengan suatu asumsi bahwa materi itu tidak dapat bereksistensi tanpa adanya bentuk, sedangkan bentuk bisa bereksistensi dengan sendirinya, tanpa harus ada materi, pernyataan tersebut menurutnya salah.
    Menurut Ibnu bajjah materi dapat bereksistensi tanpa harus ada bentuk, ia menyatakan bahwa bentuk pertama merupakan suatu bentuk abstrak yang bereksistensi dalam materi yang dikatakan sebagai tidak mempunyai bentuk.
     Tentang akal, menurutnya akal merupakan bagian terpenting manusia. Ia berpendapat bahwa pengetahuan yang benar dapat diperoleh lewat akal yang merupakan satu-satunya sarana yang melaluinya kita mampu mencapai kemakmuran dan membangun kepribadian. Ia juga percaya kepada kemajemukan akal dan mengacu pada akal pertama dan akal kedua. Ia berpendapat, akal manusia paling jauh adalah akal pertama.
     Menurut Ibnu Bajjah sifat akali adalah faktor rohani yang menggerakan manusia pada kesusilaan. Yang dimaksudnya dengan sifat akali dalam etikanya adalah sifat yang mengutamakan pertimbangan rohani yang tinggi, yakni akal, dari pada pertimbangan rohani yang rendah, yakni sifat rohani (naluri) hewani.
    Ibnu Bajjah membagi pertumbuhan-pertumbuhan manusia kepada 2 bagian :
Ø Perbuatan yang timbul dari motif rohani dan hal-hal yang lain yang berhubungan dengannya, baik dekat maupun jauh.
Ø Perbuatan yang timbul dari pemikiran yang harus dan kemauan yang bersih dan tinggi dan bagian ini disebutnya perbuatan manusia
 
Karya
·         Tadbir Al Mutawahhid (susunan yang menyatu/ rezim satu orang / tingkah laku sang penyendiri). Dalam buku ini Ia menggemukakan teori Al Ittishal, yaitu bahwa manusia mampu berhubungan dan menceburkan diri dengan akal fa’al atas bantuan ilmu dan pertumbuhan kekuatan insaniyah. Segala keutamaan dan perbuatan budi pekerti mendorong kesanggupan jiwa yang berakal , serta penguasaannya terhadap nafsu hewani. Berkaitan dengan teori ittishal ini, ia mengajukan bentuk epistemologi yang berbeda dengan Al Ghazali, jika Al Ghazali berpendapat bahwa ilham adalah sumber pengetahuan yang penting dan lebih dipercaya, maka Ibn Bajjah mengkritik pendapat tersebut, dan menetapkan bahwa perseorangan mampu kepada puncak pengetahuan dan melebur ke dalam akal Fa’al. Bila ia telah bersih dari kerendahan dan keburukan masyarakat. Kemampuan menyendiri dan mempergunakan kekuatan akalnya akan dapat memperoleh pengetahuan dan kecerdasan yang lebih besar. Pemikiran insani dapat mengalahkan pemikiran hewani, sekaligus pikiran inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Lebih jauh ia menjelaskan bahwa masyarakat umum bisa mengalahkan perseorangan, masyarakat bisa melumpuhkan daya kemampuan berpikir perseorangan dan menghalanginya untuk mencapai kesempurnaan. Hal ini disebabkan masyarakat itu berlumuran dengan perbuatan-perbuatan rendah, dan keinginan hawa nafsu yang kuat. Jadi dengan kemampuan dirinya manusia bisa sampai kepada martabat yang tinggi, melalui pikiran dan perbuatan . Untuk itu seorang harus mengasingkan pemikiran dan jiwanya dari masyarakat, serta membebaskan diri dari ikatan-ikatan traadisi, yang kebanyakan dikuasai oleh khurafat. Kitab ini sampai sekarang dikenal melalui salinan Salmon Munk dari terjemahan bahasa Ibrani, tetapi dicetak oleh asin Falacios dari perpustakaan Bodleian dengan teremahan bahasa Spanyol. Isi kitab ini mirip dengan kitabnya karya Al Farabi, Al Madinatul Fadhilah, hanya menekankan kehidupan individu dalam masyarakat, yang disebut Mutawahhid.
·         Risalah Al Wada’, berisi penggerak utama bagi wujud manusia dan alam, serta berisi beberapa uraian mengenai kedokteran (pengobatan). Buku ini tersimpan di Perpustakaan Bodleian.
·         Tardiyyah, berisi tentang syair pujian.
·         Kitab An Nabat
·         Kitab al Nafs, berisi tentang pemusatan dalam batas kemungkinan persatuan jiwa manusia dengan tuhan, sebagai aktifitas manusia yang tertinggi dan kebahadgiaan yang tertinggi, yang merupakan tujuan akhir dari wujud manusia.
·         Risalah Al Ittishal Al ‘Aql Bi Al Insan (Perhubungan akal dengan manusia)
·         Majalah Al Majama’ Sal ‘Ilm Al ‘Arabi
·         Risalah-risalah Ibnu Bajjah yang berisi komentar-komentar tentang risalah-risalah Al Farabi, yang masih tersimpan di perpustakaan Escurial (Spanyol).
·         Karya-karya Ibn bajjah yang disunting oleh Asin Palacios dengan terjemahan bahasa Spanyol : kitab An Nabat, Risalah Ittishal Al aql Bi Al Insan, Risalah Al Wada’, Tadbir Mutawahhid dengan judul El Regimen Del Solitario.
·         Beberapa ulasan tentang Aristoteles, Al Farabi, Porphyrus, dan lainnya. Menurut Carra De Vaux, di Perpustakaan Berlin ada 24 risalah manuskript karya Ibn bajjah, termasuk Tardiyah.
 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda