ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI FILSAFAT > Filsuf / Ahli Filsafat > Hamid al Din al Kirmani

 
 
 
 
 
 
 
 

Hamid al Din al Kirmani

 
HAMID AL DIN AL KIRMANI (w. 412 H/ 996-1021 M)
Filsuf
 
      Seorang filsuf terkemuka di zaman dinasti Fatimiyah di Mesir. Ia seorang ilmuwan Ismailiyah asal Persia, yang menjadi da’I, teolog, dan filsuf di era kekhalifahan Fatimiyah di Mesir, di era khalifah Al Imam al Hakim bi Amrillah.
      Nama Hamid al Din Abu al hasan Ahmad bin Abdallah al Kirmani.
 
Pemikiran
     Dalam karya-karyanya ia menyejajarkan pembahasan mengenai ucapan dan bahasa dengan uraiannya mengenai konsep tuhan dan tauhid.
      Ia berpendapat bahwa bahasa berasal dari kata-kata yang tersusun dari hurup-hurup, yang memungkinkan kata-kata menunjuk makna tertentu. Akan tetapi, baik kata maupun hurup bersifat nisbi dan tidak berdiri sendiri. Karena tuhan tidak nisbi, tetapi mutlak. Bahasa karena sifat dasarnya – tidak dapat mendefinisikan-Nya secara mutlak (tak nisbi) dan mempertimbangkan apa-apa yang menjadikan tuhan berbeda dari semua yang nisbi.
    Dengan demikian, bahasa dengan sendirinya gagal mendefinisikan bahwa tuhan itu sesuai dengan kesucian-Nya. Namun bahasa adalah suatu awal atau suatu permulaan karena ia merupakan alat paling penting untuk menandakan dan mempresentasikan kemungkinan mengenai siapakah Tuhan itu. Fakta sebagai manusia yang memiliki intelek mendorong orang membicarakan dan menyelidiki agen (pelaku) yang darinya proses eksistensiasi (atau proses originasi0 berasal.
     Jadi ketika seseorang berbicara tentang Tuhan, ia tidak perlu dan tidak mesti menggambarkan-Nya sebagaimana ada-Nya Dia. Tetapi menegaskan bahwa dia adalah pembuat segala yang digunakan manusia untuk memahami dan melukiskan ciptaan-Nya.
    Menurutnya mode bahasa yang paling baik digunakan dalam tugas ini adalah bahasa simbolis. Bahasa tersebut yang menggunakan analogi, metafora dan simbol, memungkinkan seseorang membuat permulaan dan menetapkan perbedaan dengan cara yang tidak dimungkinkan oleh makna literal bahasa.
      Ta’wil, yang juga dipahami sebagai proses simbolis dan hermetis, mempunyai kapasitas untuk mengaitkan dan mempertautkan makna-makna dengan asal mulanya, karena itu tidak saja merupakan pengertian dasar dari kata ta’wil itu sendiri, tetapi juga mengungkapkan tujuan religius yang mendasari proses tersebut – sebagai suatu perjalanan intelektual dan spiritual untuk memahami Tuhan dan ciptaan-Nya. Pemahaman ini berawal sebagai kata-kata penjelas yang digunakan Al Qur’an, yang menyebut Tuhan, sebagai simbol-simbol maha tinggi (matsal al ‘ala (QS Ar Rum (30):27), sehingga melegitimasi penggunaan bahasa simbolis. Bahas seperti itu mempergunakan sistem tanda-tanda yang khusus, yang mengandung makna tertinggi dari sesuatu yang dapat disingkapkan melalui penerapan ta’wil yang tepat.
 
Karya
·         Ar Risalah al Durriyyah
·         Rahat al ‘Aql (Peace of Mind atau Comport of reason). Kitab ini diselesaikan tahun 1020 M ,dan dianggap magnum opus.
·         Al Aqwal al Dhahabiya
·         Kitab al Riyad, suatu buku yang menggemukakan tentang cosmology ismaili.

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda