ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI FILSAFAT > Filsuf / Ahli Filsafat > Abu Hayyan al Tauhidi

 
 
 
 
 
 
 
 

Abu Hayyan al Tauhidi

 
ABU HAYYAN AL TAUHIDI (932-1024 M)
Sastrawan & filsuf
 
       Seorang sastrawan dan mempunyai kecenderungan pada filsafat.. Ia seorang penulis yang lihai dan juga cerdas, dan ilmuwan yang menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan. Menurut Yaqut al Hamawi (dalam karyanya Mu’jam al Udaba), Al Tauhidi adalah pemuka ahli balaghah dan satu-satunya orang didunia yang kecerdasannya dan kepasihannya tidak tertandingi. Ia menguasai bidang filsafat, sehingga ia sering dikatakan sebagai seorang sastrawan yang filosof dan seorang filosof yang sastrawan.
      Nama ‘Ali Ibn Muhammad ibn Al ‘Abbad Abu hayan al tauhid. Lahir dari keluarga yang sederhana antara tahun 310 H / 922 M dan 320 H/ 932 M. Guru-guru utamanya, antara lain: Abu Sa’id al Shirafi dan ‘Ali ibn Isa ar Rummani dalam ilmu-ilmu kebahasaan; sarjana-sarjana Syi’ah, Abu Hamid al marwarrudzi dan Abu bakr al Syafi’I dalm ilmu keagamaan;Dan Abu Sulaiman al Sijistani dalam bidang filsafat. Dan yang tidak kalah pentingnya dalam tahap pembentukan dirinya adalah: Haikm Abu al faraj al Mu’afa ibn Zakaria, Abu al Husain ibn Sam’un, dan sufi Abu Ja’far Muhammad al Khuldi.
     Tauhidi adalah seorang penulis profesional, sekretaris dan anggota istana. Pekerjaannya dan keingingitahuannya merupakan pembawaan yang memacu dirinya untuk menghimpun pengetahuan yang ensiklopedis, dan menjadi perekam wacana intelektual dizamannya.
     Ia seorang yang keras, mempunyai lidah tajam, ucapan yang kasar dan cenderung mencari kesalahan orang yang berkedudukan tinggi dan kaya. Karakter yang cenderung cacat ini, dan diakuinya secara jujur. Disamping itu, ataknya yang suka mengeluh, sebagai orang yang merasa kecewa, kecerdasan Al tauhidi yang sering menyakitkan hati kerap menjerumuskannya ke dalam kesulitan. Ketidakmampuannya untuk tetap bekerja pada suatu jabatan dalam waktu yang cukup lama memaksanya untuk berkelana / mengembara guna mencari mata pencaharian.
    Ia pertama kali datang ke Baghdad sebelum tahun 348 H/ 959 M, ketika gurunya dalam bidang tasauf, Abu Muhammad ja’far al Khuldi, meninggal dunia. Pada tahun 353 H/ 963 M, ia melaksanakan haji di dalam rombongan sebuah kelompok sufi. Ia menceitakantentang keberadaannya di Mekah dan kesulitan serta bahaya yang dihadapi di tengah perjalanan ketika ia kembali ke Baghdad. Ia menetap di baghdad hingga tahun 358 H/ 968 M, yang diselingi dengan kunjungannya ke arrajan, tempat ia berhubungan dengan Abu Al wafa’ (ahli matematika) dan Ibn Syahawaih.
     Tahun 358 H/ 968 M, ia pergi ke rayy untuk mengabdi kepeda wazir Ibn al Amid, oarnga yang dipersembahkannya suatu pujiannya. Tetapi kemudian ia meninggalkan sang wazir sambil mengkambighitamkannya.
     Tahun 361 H/ 971 M, ia kembali ke Baghdad. Disini ia menghadiribeberapa pertemuan untuk belajar dengan yahya ibn Adi. Pada tahun 362 H/ 972 M, selama masa invasi Byzantium (Romawi) ke dunia Islam, dan masa kerusuhan (fitnah) di baghdad, ia menjadi korban para perampok yang menjarah kekayaan di rumahnya, sehingga ia jatuh miskin. Ia kemudian pergi ke rayy (397 H / (77 M) untuk pengabdiannya kepada wazir Shahib ibn Abbad, dan tinggal disana selama 3 tahun, sebagai penyalin buku. Dan kemudian meninggalkan Ibn Abbad dengan kekecewaan. Setelah itu kemudian ia bekerja seadanya, pada mulanya ia bekeraj sebagai pegawai rumah sakit pimpinan Abu al wafa, yang menyarankannya untuk mengabdi kepada wazir Ibn Sa’dan.
      Dari sejumlah karya sastranya, ia menggemukakan beberapa pandangan filosofis dari tokoh-tokoh pendahulu, dan sezaman dengannya, seperti Yahya bin Adi (w. 974 M), seorang ahli logika yang beragama Nasrani, Ibn Miskawaih (w. 1030 M) seorang filsuf etika muslim terbesar, dan gurunya sendiri (Al Sijistani), dan lain-lain.
      Al Tauhidi menjalani hidupnya dalam kesusahan. Selama hidupnya ia bekerja keras mengarang dan membuat naskah. Tetapi dikemudian hari, ia membakar hampir semua karangannya, sebagai protes terhadap kemunafikan yang merajalela waktu itu. Ia menulis: “ Aku menghimpun ilmu ini kebanyakan dari mereka untuk memperoleh kehormatan mereka. Akan tetapi semuanya sia-sia…… aku terpaksa, setelah bergaul cukup lama dengan mereka dan mengetahui tabi’at mereka, memakan rumput padang pasir, meminta-minta kepada semua orang. Kepada tokoh ataupun kepada orang awam, menjual agama dan harga diri, melakukan riya dan nifaq, serta melakukan sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh orang merdeka, yang tidak pantas dituliskan disini, sesuatu yang sungguh menyakitkan hati.”
     Al Tauhidi ini sering dituduh sebagai orang zindik, seperti yang diungkapkan oleh Ibn Jauzi: “ Orang Islam yang zindiq ada 3 orang: Ibn Al Rawandi, Al Tauhidi, dan Al Ma’arri, yang paling membahayakan terhadap Islam ialah Al tauhidi, karena orang yang lain berterus terang, sedang Al tauhidi, tidak.” 
 
Karya
  • Al ‘Imta wa al Mu’anasah (Delight and Conviviality / Kesenangan dan keramahtamahan). Dalam buku ini ia mencatat perdebatan bersejarah antara Abu Bissyr Matta (logikawan terkemuka waktu itu) dan Abu Sa’id al Sirafi, ahli linguistik yang terjadi pada tahun 932 M di Baghdad (selama 40 hari) di hadapan wazir Abdullah al Aridh (Ibn Furat). Perdebatan itu sendiri berkisar pada wajib tidaknya orang Arab atau Muslim, mempelajari logika Aristoteles, yang nota bene berasal dari peradaban asing (Yunani).
  • Al Muhadharah wa al Munazharah, buku ini ditulisnya untuk Abu Al Qosim al Mudliji, wazir Shamshan al daulah.
  • Muqabasat
  • Al Hawamil wa al Syawamil
  • Akhlaq al Wazirain (Akhlaq 2 wazir), dalam buku ini, ia menceritakan tentang akhlaq 2 wazir (Ibn al Amid dan Ibn Abbad) yang pernah menjadi pelindungnya secara subyektif (penilian tauhid) yang pernah dikecewakan oleh 2 wazir tersebut.
  • Al Basha’ir wa al Dzakha’ir
  • Al Isyarat al lahiyah
  • Risalah fi ‘Ilm al Kitabah
  • Taqrizh al Jahizh
  • Al Hajj al ‘aqli in dhaqa al fadha’il ‘an al Hajj al Syar’I (The Spiritual Pilgrimage in Case of Imfossibility of The Legislated pilgrimage). Lewat buku ini, ia kemudian di tuduh sebagai pendukung Al hallaj, seorang sufi pendukung teori wahdah al wujud.
 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda