ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM >  TABI'IN > Tabi'in ahli Zuhud > Hasan al Bashry

 
 
 
 
 
 
 
 

Hasan al Bashry

 
HASAN AL BASHRY (21-110 H /     - 728 M)
Zahid, Alim dalam berbagai ilmu keislaman
 
        Seorang tabi’in terkemuka dalam berbagai ilmu pengetahuan Islam, terkenal akan kealimannya dalam bidang hadits, dan terkemuka juga dalam bidang tasauf.
     Nama Abu Sa’id Al Hasan bin Yaser Al Bashry. Ia lahir di Madinah. Ayahnya bernama Ibaan tertawan dalam peperangan melawan pasukan Islam dan di bawa ke Madinah, lalu diangkat menjadi maula oleh Zaid bin Tsabit (sekretaris Rasul dan pencatat Al Qur’an). Kemudian Ibaan menikah dengan budak wanita dari Ummu Salamah (salah seorang istri Rasulullah) yang bernama Khairah. Dari pernikahan ini lahirlah Hasan, yang lahir 2 malam sebelum khalifah Umar bin Khathab meninggal.
     Sejak kecilnya ia terdidik dalam lingkungan yang memungkinkan untuk menguasai ilmu keagamaan secara utuh, Wadil Qura’ di Madinah. Pada usia 14 tahun ia dibawa pindah oleh orang tuanya ke Bashrah, sehingga namanya kemudian dinisbatkan ke kota ini, menjadi Hasan Al Bashry. Dikota ini ia belajar ilmu tafsir, qira’at dan hadits dari Abdullah Ibn Abbas, dan juga dari Anas bin Malik, salah seorang sahabat nabi yang utama. Hasan Al Bashry dalam hidupnya berhubungan dengan kurang lebih 70 orang sahabat nabi yang mengikuti perang Badar, dan 300 orang sahabat lainnya.
     Berkat keluasan ilmunya dan ketinggian hikmahnya maka ia terkenal di dunia Islam waktu itu. Tentang ketinggian ilmunya ini, diceritakan pada suatu hari ada orang yang bertanya kepada Anas bin Malik (salah seorang sahabat nabi) tentang suatu permasalahan, kemudian Anas menyuruh orang itu pergi menanyakan kepada Hasan al Bashri. Abu Qatadah berkata: “Bergurulah pada syekh ini (maksudnya Hasan Al Bashry), saya saksikan sendiri, tidaklah ada orang tabi’in yang menyerupai sahabat nabi, hanyalah beliau ini.”
      Hasan Al Bashry terkenal di dunia muslim karena ketinggian ilmu dan sikap zuhudnya. Disamping itu ia juga terkenal akan keberaniannya dalam menyatakan pendapat. Ia sampai mengirim surat kepada khalifah Abdul Malik bin Marwan, dari bani Umayah, yang terkenal kejam, dan memberinya nasehat. Demikian juga terhadap Al Hajaj bin Yusuf Ats Tsaqafi, gubernur Irak yang paling kejam, ia termasuk orang yang menentangnya dan berani mengatakan kebenaran dihadapannya.
    Hal ini dikisahkan pada suatu hari, Al Hajaj mengundang penduduk negeri untuk meresmikan istana yang dibangun antara Bashrah dan Kufah. Al Hasan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia menghadiri tetapi mengecamnya, sehingga Al Hajjaj sangat marah.
      Hasan Al Bashry meninggal pada 110 H atau 10 oktober 728 M di Bashrah. Diceritakan dalam sejarah, seluruh penduduk Bashrah keluar rumahnya buat mengantarkan jenajah beliau ke tempat peristirahatan terakhirnya.
 
Pemikiran
      Hasan al Bashry sangat terkenal akan kealimannya dalam berbagai ilmu keislaman: hadits, tafsir, tasauf dan lain-lain, sehingga banyak gerakan Islam yang dipertalikan orang dengan nama Hasan Al Bashry.
      Dalam bidang tasauf ia dipandang sebagai pemuka paham I’tizal. Beliaulah yang mula-mula menyediakan waktunya untuk memperbincangkan ilmu-ilmu kebatinan, kemurnian akhlak, dan usaha mensucikan jiwa di Mesjid Bashrah.
      Ia merupakan seorang zahid yang amat masyhur dikalangan tabi’in. Pendiriannya adalah zuhud terhadap dunia, menolak akan kemegahannya semata menuju Allah, tawakal, khauf (takut) dan rajaa’ (penuh harapan). Menurutnya antara khauf dan rajaa’ tidak boleh terpisah, jangan hanya semata-mata takut pada Allah, tetapi ikutilah ketakutan itu dengan pengharapan, takut akan murkanya, tetapi mengharap akan karunianya.
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda